”Baru pekan lalu kuterima surat Uni,” kata Mamak seperti minta maaf. ”Aku tidak bisa bebas datang. Di kantor sibuk sekali..”Mamak adalah adik mandeh. Sejak ayah meninggal, semua masalah kami di urus oleh Paman , mamak kami.
”Untuk dapatkan ticket pesawat juga sulit. Maklum hari libur panjang” istri paman menambahkan.
”Paham aku itu,” balas Mandeh mengangguk, lalu menoleh kepada Uni. ”Beginilah keadaannya, lihatlah.” Kata mandeh sambil lambat-lambat menyisir rambut Uni yang sepinggang.
" Mamak dan andaimu tiba, Nak. Salamilah paman dan andai mu.”
Istri mamak ( andai ) menghampiri Uni. ”Tapi mau dia makan, Uni?”
”Mau. Disuapi.”
”Disuapi?” Andai senyum memeluk bahu Uni. ”Disuapi engkau Faridah, anak rancak? Eh, kenapa keningnya ini?” Senyum Andai tiba-tiba lenyap.
”Dia benturkan kemarin kekaca rias,” sahut Mandeh.
”Sabar ya sayang! “Kata andai kepada Uni. “ Tengoklah, Bang!” seru Andai kepada mamak.
Mamak hanya menghela nafas. Di pandangnya uni cukup lama. Entah mengapa air mata mamak mengambang. Padahal mamak yang kutahu orangnya keras. “ Kau tanggung jawabku, Upik. Tak akan kubiarkan kau begini terus. Mamak akan urus surat ceraimu dengan suamimu. Ikut mamak ya sayang. Kita ke Jakarta. “ kata mamak sambil memeluk Uni.
Aku tahu, uni memang ponakan kesayangan mamak. Mamak selalu mengirimi uang untuk Uni setiap bulan. Karena tahu suaminya jarang memberi uang belanja. Uang itu di tabung uni. Dari uang tabungan ini membuka warung di depan rumah. Sudah lima tahun berumah tangga Uni belum juga di karuniai Anak, dan uni masih tinggal bersama mandeh. Suaminya Guru sekolah di madrasah dan juga acap diundang orang memberi pengajian di surau.
Sudah lama Uni serupa patung hidup. Sejak suaminya menikah untuk keempat kalinya. Ketika dimadu pertama kali, uni dapat bersabar. Namun yang ketiga Uni memilih menolak halus. Yang ke empat , Uni tidak perlu mempertanyakan mengapa madunya semuanya lebih muda dari dia. Uni tidak bertanya bila suaminya menikah lagi karena alasan menolong, berbuat baik,melaksanakan firman Allah. Karena suaminya tidak lebih kaya , se alim dari saudagar angku Labih yang hanya beristri satu.
Ketika uni diam, celoteh suaminya mengingatkan akan hadiah sorga bagi istri yang mengizinkan suami menikah lagi. ‘ Tahukah kamu Adinda, mengizinkan suami menikah lagi itu sama saja mendapatkan kunci sorga. Uda hanya melaksanakan firman Allah.Ikhlas lah adinda. Uda inginkan adinda nanti bidadari uda di sorga. Ikhlas ya.. “ Demikian bujuk suaminya.
Mamak berusaha membantu Uni bersabar dan tetap meminta agar menanti suaminya pulang. Namun Uni tidak menjawab. Sejak itu Uni memilihi diam. Tak dia dengar siapapun yang menasehati dia. Tidak dia ungkapkan kecewanya kepada siapapun. Uni hanya diam.. Mandeh paham betul perasaan Uni.Karenanya mandeh tak berusaha memaksa Uni bicara.
Andai merebahkan kepala Uni di dadanya. Membelai-belai rambut dekat luka. ”Masih rajin engkau mengaji, Faridah? Nanti mengaji, ya. Andai ingin mendengarmu mengaji. mamakmu juga.” Tidak berjawab. Kemudian airmata uni mengalir ditubir matanya.
”Menangislah keras-keras.Lepaskan semua yang ada di dadamu.!” ujar Andai masih tersenyum. Uni terisak. Bahunya bergerak-gerak. Adik-adik dan Uni Leli berlarian mendekat. ”Uni! Uni!” Mereka rangkul tangan dan tubuh Uni. Uni tersedu-sedu dalam pelukan Andai.
“ Mamak…” terdengar suara Uni terbata bata “ Maafkan aku. Aku tak ingin ke sorga yang di janjikan suamiku. Kalaulah begini nasipku dimadu dengan tiga wanita untuk masuk sorga ,aku lebih baik masuk neraka” Sambung Uni dengan suara merendah. Uni menangis. Kami ber-kelu hati mendengarnya. Ini kali pertama Uni bicara setelah 3 bulan berdiam diri.
“ Kau sudah laksanakan kewajibanmu sebagai istri Faridah. Namun suamimu sendiri sudah menalakmu karena kamu menolak dia menikah ke empat kalinya. Nanti Mamak akan urus surat ceraimu. Sabar ya sayang..”
Mamak telah membawa Uni ke Jakarta bulan lalu dan mande melepasnya dengan lega berurai air mata. ”Elok-elok di sana,” pesan Mandeh. ”Mamak dan andai akan menjagamu. Kau akan dimasukkan kerja. Kau harus memulai hidupmuNak. Senangkan hatimu ya Nak..?” Mandeh menangis,kami juga.
Rumah jadi lengang—lengang sekali. Uni telah pergi. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Dekat kami. Tuhan, Uni memang tak seberuntung Chadijah karena Chadijah sampai ajalnya tak pernah di madu oleh Rasul. Uni tidak butuh sorga yang di janjikan suaminya. Uni hanya butuh pria yang mengerti dia sebagai wanita. Apakah terlalu sulit untuk mengerti bagi pria? Entahlah …
0 comments:
Post a Comment