Dalam islam tidak ada PEMILU tapi bukan berarti PEMILU itu salah atau haram. Demikian teman katakan kepada saya ketika kemarin bertemu di Masjid sambil menanti sholat Isya. Nah bagaimana cara Islam melahirkan pemimpin? Tanya saya penasaran. Karena ungkapan bahwa Demokrasi liberal itu sesat sering saya dengar dan selalu membuat saya berkerut kening. Menurut teman saya ini bahwa dalam islam setiap orang ( pria ) adalah pemimpin dan setiap kepemimpinan itu akan dipertanggung jawabkan diakhirat. Allah sudah men design setiap orang untuk menjadi pemimpin. Tentu tidak semua orang harus tampil menjadi pemimpin. Pemimpin hanya satu. Kepala hanya satu. Imam sholat hanya satu, selebihnya makmun. Namun karena semua orang di rancang sebagai pemimpin oleh Allah maka setiap orang juga mampu memimpin dirinya sendiri. Sehingga tidak sulit bagi pemimpin Islam untuk mengarahkan umatnya kesatu tujuan karena didalam diri umat islam terdapat kepemimpinan yang melekat dalam dirinya, yaitu Al Quran dan Hadith, Selagi kebijakan pemimpin itu sesuai dengan Al Quran dan Hadith maka kebijakan itu akan didukung oleh bawahannya sebagai cara mereka beribadah kepada Allah.
Kembali kepada pertanyaan bagaimana Islam melahirkan pemimpin. Anda tahukan, ulama? Ulama adalah gelar yang tidak ada certifikasi formal. Ia ada karena pengakuan dari masyarakat akan kehadiran seorang yang berhikmah dan bijaksana. Ulama adalah orang yang mendedikasikan hidupnya untuk memperdalam ilmu yang berbasis AL Quran dan Hadith. Tidak ada yang membayar atau tidak ada yang menyuruh. Ia berbuat karena kecintaan kepada Allah. Ulama bukan hanya pandai mengajarkan dan mengingatkan Sabda Rasiul bahwa tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah tapi ia juga membuktikan dirinya sebagai pedagang yang hebat. Hamka , hidup dari bisnis nya sebagai penerbit ( Panjimas ). Imam Hanafi menjadi pedagang kain. Para ulama hebat yang datang ke Tanah Air awal masuknya Islam adalah karena kunjungan bisnis ( berniaga ). Artinya ulama itu adalah para pedagang atau businessman. Ulama tidak mendapatkan hidup dari kegiatan dakwahnya tapi dia menghidupi syiarnya dengan kemandirianya. Dari kemandirian mereka itulah, mereka berdakwah lewat hikamnya dan mendermakan hartanya sebagai sikap bijaksananya. Iapun dicintai oleh umatnya, karena ia menanamkan apa yang ia amalkan dan mengamalkan apa yang ia katakan.
Dimanapun terdapat ulama. Dari yang berkaliber desa sampai yang berkaliber nasional dan bahkan international. Mereka tumbuh dan berkembang lewat proses berjenjang. Tidak tumbuh begitu saja atau instant. Pengakuan umat didapatnya bukan karena pencitraan tapi karena pengabdian yang panjang dan melelahkan serta dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Semua itu terlaksana tanpa berharap apapun kecuali hanya mengharapkan ridho Allah. Ia menjadi obor ditengah gelap dan menjadi pencerah ditengah kebingungan umat, menjadi penyejut ditengah pengabnya zaman. Andaikan mereka berkumpul sesama mereka maka yang ada hanyalah untuk cinta dan kasih sayang. Apabila mereka bermusyawarah maka kebenaran, kebaikan dan keadilan selalu menjadi prioritas dan menang. Karenanya tidak akan ada debat dengan nafsu merasa paling benar, paling tahu. Tidak aka nada voting untuk memilih suara terbanyak yang berhak meng claim paling benar. Sebelum mereka berkerja mereka mengajak orang untuk membaca bismillah. Artinya berbicara dan berbuat dengan niat hanya untuk Allah. Dan ketika mengakhiri , dia mengajak orang untuk membaca Hamdalah.
Saya sedikit tercerahkan dengan kata kata teman ini. Dan semakin tercerahkan ketika dia membahas soal Pancasila. Bangsa yang berbeda beda bahasa, suku ini berkumpul dalam forum kebangsaan karena agama, ruh Ketuhanan yang Maha Esa yang menjamin lahirnya kemanusiaan yang adil dan beradab untuk menjadi kesatuan yang utuh. Nah bagaimana system Negara yang bisa menjamin kesatuan yang berlandaskan kepada Ketuhanan itu? Tanya saya. Dengan tersenyum dia mengatakan bahwa system Negara kita bukan parlementer bukan pula presidential, bukan pula monarkhi tapi Negara kerakyatan. Bukan Negara kekuasaan yang dikendalikan orang partai. Tapi Negara yang dipimpin oleh para hikam nan bijaksana. Mereka yang berilmu dan menerapkan ilmunya untuk syiar agama. Bagaimana kepemimpinan itu diterapkan? Tanya saya. Kepemimpinan itu lahir dari proses musyawarah para mereka yang berilmu dan bijaksana itu. Tentu bila mereka musyawarah maka kata mufakat akan didapat atas dasar meninggikan kalimat Allah. Bila mereka memilih pemimpin diantara mereka maka hanya pemimpin yang berkahklah mulia yang terpilih. Mereka membaiat pemimpin dan menerima baiat hanya untuk beribadah kepada Allah untuk misi tegaknya keadilan social bagi semua. Itulah mereka, para ulama…
Ya seharusnya Majelis Perwakilan Rakyat adalah lembaga tertinggi negara yang diisi oleh para orang orang berkaliber ulama yang merupakan perwakilan dari seluruh provinsi, lintas profesi maupun suku. Merekalah pemimpin dan dari merekalah lahir pemimpin nasional. Modal Majelis Perwakilan Rakyat ini juga bisa diterapkan ditingkat Daerah untuk memilih pemimpin Daerah. Mereka tidak dipilih lewat PEMILU tapi lewat seleksi alamiah atau hukum sosial yang kualitasnya diuji oleh waktu. Sejak berdirinya negeri ini, Pancasila tidak pernah menjadi batang tubuh bernegara dan apalagi ketika agama dicurigai dan akhirnya ditempatkan diluar ring Negara, Pancasila hanyalah symbol tanpa ruh. Negeri ini tidak pernah berhasil melahirkan pemimpin yang berakhlak ulama….Itu sebabnya negeri kaya SDA tapi miskin dan keadilan sosial semakin jauh dan jauh....

0 comments:
Post a Comment