Monday, November 18, 2013

Cinta seorang Inggit

Awalnya ketika membaca buku  Kuantar ke Gerbang : Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno, saya ragu-ragu untuk melanjutkan membaca buku ini.Karena sulit berdamai hati ini mengetahui bagaimana kisah cinta itu terjadi.  Karena buat saya, tidak boleh seseorang yang telah beristri ataupun bersuami untuk jatuh cinta lagi selain kepada istri atau suaminya sendiri. Tapi tidak seperti itu yang terjadi pada Inggit. Takdir memang  bisa terjadi kepada siapa saja. Semua adalah skenaario Allah. Ini adalah cobaan bagi Inggit dan juga Soekarno. Ini antara mereka dengan Allah.***

Sejak duduk di bangku sekolah rakyat, Soekarno  indekos di Surabaya sampai tamat HBS (Hoogere Burger School). Ia tinggal di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto. HOS Tjokroaminoto inginkan Soekarno menjadi menantunya dengan menikahi  Siti Oetari.  Soekarno tidak pernah menanggap ini adalah sebuah perkawinan yang dia inginkan.Baginya Oetari adalah adiknya.  Perasaan itu tidak pernah hilang walau telah ber statusnya suami istri. Tamat HBS ,  Soekarno pindah ke Bandung, melanjutkan pendidikan tinggi di THS (Technische Hooge-School). Di Bandung Soekarno tinggal dirumah Haji Sanusi beristri Inggit Garnasih , yang juga saudagar yang sukses dan merupakan pegiat Syarikat Islam. Kesediaan Haji Sanusi menerima  Soekarno karena permintaan dari HOS Tjokroaminoto yang pendiri Syarikat Islam. Awal kedatangannya di Bandung  Oetari dibawa sertanya,namun itu tidak berlangsung lama. Oetari kembali ke Surabaya,  Sementara  Haji Sanusi pun jarang dirumah karena sibuk berniaga dan kegiatan politiknya. Inggit lebih banyak tinggal sendirian dirumah menanti suaminya pulang. "Hanya Inggit dan aku dalam rumah yang sepi. Dia kesepian, aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan, sebagai dapat diduga. Hubungan ini berkembang," kata Soekarno dalam buku biografinya

Rumah mereka hanya sekitar 150 meter persegi, dibagi enam ruangan. Ruang tamu, ruang belajar, ruang tengah, kamar, ruang tempat pembuatan bedak, dan ruang serbaguna. Soekarno mendapat ruangan paling depan. Soekarno  menjadi magnet bagi orang-orang. Rumah Inggit menjadi ramai karena banyak teman Soekarno yang datang. Soekarno disenangi karena kepintarannya berbicara dan mampu menjelaskan pikiran-pikirannya dengan mudah. Dan Inggit merasa hidupnya menjadi lebih bergairah dengan melayani Soekarno dan teman-temannya. Soekarno pun semakin dekat dengan Inggit Garnasih. Mereka terlihat akrab dan dekat hingga akhirnya timbul gunjingan-gunjingan dari orang-orang disekitar mereka. Soekarno pun mengutarakan maksudnya untuk menikahi Inggit kepada haji Sanusi. Ia meminta Haji Sanusi untuk segera menceraikan Inggit. Entah apa yang dirasakan Haji Sanusi saat mendengar keinginan Soekarno. Sadar akan situasi tersebut, Sanusi pun rela melepas Inggit Garnasih. Bahkan dengan segala keikhlasannya, Sanusi berpesan kepada Inggit agar menjadi sandaran bagi Soekarno dan membantu perjuangan Soekarno dalam mewujudkan impiannya. Inggit pun minta kepada Soekarno untuk menceraikan Oetari. Pada 24 Maret 1923, Soekarno menikahi Inggit ketika keduanya telah berpisah dari pasangan masing-masing. Inggit telah bercerai dari Sanusi. Dan Utari yang belum "disentuh" Soekarno sama sekali karena dirasakan lebih sebagai adik, dikembalikan kepada ayahnya di Surabaya.

Selanjutnya  kehidupan pernikahannya tidaklah selancar air mengalir.  Soekarno  yang masih menuntut ilmu di Technische Hoogeschool (THS), menuntut Enggit untuk terus memotivasi Soekarno agar menyelesaikan sekolahnya dengan baik disamping kegiatannya sebagai aktivis pergerakan pada masa itu. Setelah Soekarno menyelesaikan sekolahnya pun, Enggit harus terus mencari tambahan penghasilan demi melayani hasrat Soekarno dan pergerakannya. Singkat kata, Enggit bukanlah seorang istri yang menerima uang belanja dari suami, tapi semua keperluan rumah tangga dia mengusahakannya sendiri dengan tenaga dan jerih payahnya sendiri.Namun Enggit merasa bahagia, sangat bahagia. Masa-masa sulit di pembuangan di Ende Flores pun dia jalani dengan tegar. Dengan setia didampinginya Soekarno. Dengan susah payah dihalaunya kesepian yang dirasakan Soekarno di pulau terpencil itu. Enggit sosok istri yang tegar, contoh untuk semua istri dan para calon istri, bagaimana mendampingi suami disaat susah dan senangnya. 

Bagaimanan penilaian Soekarno terhadap Inggit? Pengakuan Soekarno seperti yang termaktub dalam biografi "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" yang ditulis oleh Cindy Adams. Dalam buku itu, Soekarno secara jujur mengungkapkan betapa Inggit menjadi sosok ibu yang mengejewantahkan kasih sayang tulus dan menyediakan segala kebutuhan diperlukan oleh pemuda yang sedang terbakar oleh gelora nasionalisme untuk memerdekakan bangsanya dari cengkeram penjajahan itu.

"Dalam periode kehidupanku selanjutnya, Inggit sangat penting bagiku. Dia adalah ilhamku. Dia adalah pendorongku. Dan dalam waktu dekat aku memerlukan semua ini. Aku sekarang mahasiswa di tahun kedua. Aku sudah menikah dengan seorang perempuan yang kubutuhkan. Usiaku sekarang lebih 21 tahun. Masa jejakaku sudah berada di belakangku. Tugas hidupku terbentang di depanku. Pemikiran awal yang dipupuk oleh Pak Cokro dan mulai menemukan bentuknya di Surabaya, tiba-tiba keluar menjadi kepompong di Bandung dan berkembang dari keadaannya itu menjadi seorang pejuang politik yang sudah matang. Dengan Inggit berada di sampingku, aku melangkah maju memenuhi perjanjianku dengan sang nasib".

"Aku telah mengamati, kalau engkau membelah dada seseorang, temasuk aku, akan terbaca dalam dadanya bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tercapai apabila si istri merupakan perpaduan dari seorang ibu, kekasih, dan seorang teman. Aku ingin teman hidupku bertindak sebagai ibuku. Kalau aku pilek, aku ingin dipijitnya. Kalau aku lapar, aku ingin menyantap makanan yang dia masak sendiri. Kalau bajuku koyak, aku ingin istriku menambalnya. Dengan Utari keadaannya terbalik. Aku yang menjadi orang tuanya, dia sebagai anak".

"Inggit dengan matanya yang besar dan gelang di tangan itu tidak memiliki latar belakang yang menonjol. Dia sama sekali tidak terpelajar, tetapi bagiku intelektualisme tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Untukku, yang menjadi ukuran adalah sifat kemanusiaan. Perempuan ini sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat. Dia hanya memandang dan memperhatikan, mendorong dan memuja. Dia memberikan segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ibuku. Dia memberiku cinta, kehangatan, sikap tidak mementingkan diri sendiri yang kuperlukan dan tidak pernah kuperoleh sejak aku meninggalkan rumah ibuku".

"Psikater akan mengatakan bahwa ini adalah pencarian kembali kasih sayang ibu. Mungkin juga, siapa tahu? Jika aku mengawini Inggit karena alasan ini, itu terjadi secara tidak sadar. Dia waktu itu, dan sampai sekarang, masih seorang perempuan yang budiman. Pendeknya, kalau dipikirkan secara sadar, perasaan-perasaan yang dia bangkitkan kepadaku tidak berbeda dengan yang dia berikan pada seorang anak kecil".

Begitu hebatnya penilaian Soekarno tentang Inggit namun pada akhirnya ia manusia biasa yang tentu punya kekurangan dan harus berusaha mendapatkan kesempurnaan.  Pada pembuangan selanjutnya ke Bengkulu, Inggit pun menemani Soekarno. Dan di Bengkulu inilah prahara rumah tangga mereka mulai meruak dengan kehadiran Fatmawati. Soekarno  jatuh cinta lagi dan ingin punya anak, punya keturunan dari darah dagingnya sendiri.  Saat itu Fatmawati berumur 17 tahun, sedangkan Inggit telah menapaki usia 53 tahun. Bagaimanalah perasaan yang berkecamuk dalam dada Enggit, menyaksikan suami yang sudah bersamanya sejak puluhan tahun, yang sudah dibesarkannya dengan penuh kelembutan dan perjuangan menginginkan sesuatu yang Enggit tak bisa penuhi, di usianya yang tak lagi muda. Firasat itu sebenarnya sudah ada, perasaan bahwa  Soekarno berubah perlakuan terhadap dirinya. Ditambah lagi bisik-bisik orang sekitar tentang kedekatan Soekarno dengan Fatmawati . Namun, memang benarlah Enggit seorang wanita yang kuat. Ditengah kegalauan hatinya yang sedang berkecamuk hebat, masih terlintas pemikiran tentang hal-hal yang baik. Tidak sebersitpun pemikiran negatif tentang suaminya terlintas.

"Tergodakah dia? Barangkali, ya, barangkali begitu. Sebab itu, sabarlah! Barangkali kejadian ini cuma meminta kesabaran. Barangkali cuma meminta percobaan. Barangkali cuma meminta keibuan dariku yang untuk sementara harus aku maklumi segalanya dan nantinya akan menjadi beres kembali. Tetapi, janganlah menyerah sebelum apa-apa. Jangan ribut. Tahan! Sabarlah! Bersopanlah! Sopan! Dan aku pun ikuti perasaan dan pikiran itu. Aku pun taat kepada pikiran-pikiran itu. Aku sabar. Menyabar-nyabarkan diri."

Cinta kepada Fatmawati membuat  Soekarno harus menyadari realita hidupnya bersama Inggit. Bahwa cinta dan pengabdian Inggit  tidak cukup tapi ada lebih daripada itu. Inilah kata Soekarno kepada anak angkatnya “ “Ibumu berusia lebih daripada Papi. Memang dia dahulu cantik. Dan, dia wanita yang setia dan bijaksana. Tetapi, Papi laki-laki dalam usia jaya. Mengertilah, Omi. Izinkanlah Papi mengawini dia.”.  Seperti itukah lelaki? Itukah balasan atas pengabdiannya selama ini? 

Berkatalah Soekarno kepada Inggit dengan air menggenangi pelupuk matanya, "Kalau sekiranya aku menjalani hidup yang normal dengan kegembiraan yang normal pula, mungkin aku dapat menerima kesepian karena tak punya anak. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu kecuali kemiskinan dan penderitaan. Aku sekarang berumur 40. Dalam umur 28 tahun aku sudah dipenjara, 12 tahun dari tahun-tahun terbaik seorang laki-laki kuhabiskan dalam pembuangan. Bagaimana pun, dengan cara apa pun, sebaiknya ada suatu imbalan. Aku merasa aku tidak lagi mampu menanggung beban jika yang ini juga dirampas dariku".

Inggit bersikukuh pada sikapnya yang tak ingin dimadu. Soekarno pun sempat mengalah hingga pernikahan itu tetap bertahan setelah mereka meninggalkan Bengkulu dan menetap di Jakarta. Namun, rumah tangga mereka sudah terlanjur dilanda ketegangan. Pertengkaran sering pecah di antara keduanya. Dan Soekarno sering terserang penyakit sehingga harus dirawat di rumah sakit selama berpekan-pekan. Perceraian pun akhirnya ditempuh sebagai jalan terbaik.  Dalam perjalanan pulang ke Bandung, setelah talak jatuh, ia berhenti di tengah kebun teh untuk mendoakan Soekarno Inggit  mengatakan: "Sesungguhnya aku harus senang pulang karena dengan menempuh jalan yang bukan bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, di gerbang hari esok yang pasti akan jauh lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai. Dan mungkin yang jauh lebih gemerlapan, lebih mewah. Tetapi apalah arti kemewahan. Yang penting adalah kebahagiaan dan itu adanya di dalam hati. Ya, yang terpenting adalah soal di dalam hati! Kebebasan, itulah yang penting....

Setelah Soekarno bercerai dengan Inggit dan menikah dengan Fatmwati,  selanjutnya masa revolusi  mengantarkan Soekarno menjadi “bung besar’sebagai pemimpin revolusi.  Soekarno berhasil dengan impiannya untuk kemerdekaan Indonesia dan menjadikan Indonesia terhormat di mata international.  Pada saat itu ,Soekarno butuh lebih dari seorang Fatmawati yang telah memberinya lima anak.  Tahun 1952, Soekarno menikah dengan Hartini. Dan Fatmawati harus keluar dari Istana karna tidak rela dimadu, seperti yang dulu dilakukan oleh Inggit.  Dan setelah itu 1959 atau tujuh tahu setelah menikah dengan Hartini , Soekarno mempertistri Kartini Manoppo. Tiga tahun setelah itu atau tahun 1962 menikah lagi dengan Ratna Sari Dewi.  Tahun 1963 atau setahun setelah itu menikah dengan  Haryati. Setahun kemudian  atau 1964 memperistri  Yurike Sanger  dan terakhir ketika dalam tahanan rumah ,  tahun 1966 Soekarno masih sempat menikahi gadis bernama Heldy Djafar. Andai ajal tak menjemput, bagi Bung Karno, seolah tak pernah ada wanita terakhir untuk diperistri.

Lebih 10 tahun setelah Soekarnotutup usia, barulah pada tahun 1984 Fatmawati berkesempatan untuk bertemu dengan inggit.  Di hadapan wanita sepuh itu, Fatmawati Sukarno bersimpuh. Sambil berurai air mata, dia bersujud menciumi kedua kakinya. Dengan terbata-bata, Fatmawati meminta maaf karena telah menjalin tali kasih dan menikah dengan Sukarno. “Indung mah lautan hampura (seorang ibu adalah lautan maaf),” si perempuan sepuh itu membalas sambil memeluk dan mengelus kepala Fatmawati. Hanya, ke depan, dia melanjutkan, jangan mencubit orang lain kalau tak ingin dicubit, karena dicubit itu rasanya sakit. Ia memaafkan Fatmawati yang dianggapnya sebagai anak. Ia setia menjalani hari tuanya dengan berjualan bedak buatan sendiri. Ia memaafkan Bung Karno yang ketika masih sebagai mahasiswa disapanya dengan panggilan Kusno. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi. Cinta besar  inggit lah yang membuat Soekarno menjadi besar...

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Cinta seorang Inggit

0 comments:

Post a Comment