Ketika ayahku meninggal , usiaku 6 tahun dan adikku 2 tahun, demikian kata ibu. Tentu aku tidak punya ingatan cukup banyak tentang ayah. Karenanya sampai saat ini yang lekat dengan kehidupan kami adalah seorang pria yang ia adalah suami ibu kami tapi bukan ayah kandung kami. Tubuhnya berperawakan tinggi dan kurus, tetapi bersemangat. Dahinya hitam, memiliki sepasang tangan besar yang kasar. Di wajahnya yang kecoklatan terdapat sepasang mata kecil yang cekung. Dia pekerja keras sebagai petani. Namun tidak bisa bicara banyak. Aku tahu bahwa dia sangat mencintai ibuku. Ketika usia delapan tahun aku pernah sekali ditampar oleh pria ini. Masalahnya sangat sepele. Hanya karena aku ketahuan olehnya mengambil pipa rokok kesayangannya. Sejak itu bagiku pria ini tidak pernah bisa menjadi ayahku. Hatiku tidak pernah dekat dengannya. Tidak peduli bagaimanapun jerih payah pengorbanannya, tidak membuatku berempati. Sejak usia belia, aku selalu berpendapat ayah tiri sama jahatnya seperti ibu tiri dalam dongeng Puteri Salju. Sikapku terhadap ayah tiri sangat dingin, acuh tidak acuh, lebih-lebih jangan harap menyuruhku memanggil dia “ayah”.
Tapi ada sebuah peristiwa yang membuatku mulai ada sedikit kesan baik terhadap ayah tiri. Suatu hari ketika aku baru pulang dari sekolah, begitu masuk rumah segera melihat kedua tangan ibu memegangi perut sambil berteriak kesakitan. Ibu berguling-guling di ranjang. Butiran besar keringat dingin bercucuran di wajahnya yang pucat. Celaka! Penyakit maag ibu kambuh lagi! Aku dan adik menangis mencari ayah tiri yang bekerja disawah. Mendengar penuturan kami, dia segera membuang cangkul ditangannya, sandal pun tak sempat dia pakai. Sesampai dirumah tanpa berkata apapun segera mengendong ibu kerumah sakit seperti orang sedang kesurupan. Ketika ibu dan ayah tiri kembali kerumah, hari sudah larut malam, ibu kelelahan tertidur pulas diatas pundak ayah tiri. Melihat kami berdua, ayah tiri dengan nafas tersengal-sengal, tertawa dan berkata kepada kami, “Beres, sudah tidak ada masalah. Kalian pergilah tidur, besok masih harus bersekolah!” Aku melihat butiran keringat sebesar kacang berjatuhan bagai butiran mutiara yang terburai, jatuh pada sepasang kaki besarnya yang penuh tanah.
Hidup kami memang sangat sulit. Kehidupan petani di desa kecil di china memang tidak semua bagus. Apalagi ketika itu China sedang tumbuh untuk lompatan jauh kedepan. Petani di pajaki tinggi untuk membangun kota dan jembatan serta jalan raya. Setiap hari aku menyaksikan pria itu bekerja keras untuk menanggung makan kami bertiga. Namun tak banyak yang tersisa untuk ditabung. Hasil panen setelah dipotong pajak negara , semua habis termakan sepanjang musim. Aku tidak ingin kehidupan seperti ini. Walau aku wanita namun aku ingin merubah nasipku. Karenanya aku harus keluar dari desa ini untuk mendapatkan pendidikan lebih tinggi. Aku harus masuk universitas. Ketika niatku itu kusampaikan. Ibu mendukungku namun wajahnya nampak tidak yakin. “Nak, kamu tahu sendiri keadaan ekonomi kita. Adikmu juga masih sekolah di SMA tentu masih butuh biaya. Kesehatan ibu juga tidak baik. Pengeluaran dalam keluarga semua menggantungkan ayahmu. Lihatlah sendiri ada berapa gelintir orang di desa ini yang mengenyam pendidikan SMA? Cukuplah tamat SMA. Itu patut disyukuri. Saatnya kamu membantu ayahmu dan ibu diladang, ya”.
Aku tahu ini soal biaya yang harus kami tanggung. Pemerintah tidak lagi menggratiskan biaya universitas. Di era Dengxioping walau komunis tetap idiologi partai namun semua harus bayar. Kami harus membayar tekad itu dengan segala cara yang bisa kami perbuat, untuk masa depan kami. Ketika tamat SMA, aku langsung mendaftarkan diri di Universitas. Tahun pertama aku gagal dalam kompetisi. Maklum universitas milik pemerintah tidak bisa menampung seluruh tamatan SMA. Hanya yang terbaik saja yang bisa punya kesempatan. Aku gagal tapi tidak membuatku patah semangat. Aku harus mencoba lagi tahun depan. Selama setahun aku belajar keras dan selama itupula ibuku tidak membebani aku dengan pekerjaan diladang. Pria itu juga memberikan dorongan semangat dengan wajahnya yang senantiasa tersenyum melihat kerja kerasku belajar. Tahun kedua, aku kembali ikut tes. Benarlah, ada surat datang kerumah. Aku tahu itu adalah surat yang selalu dinanti oleh pelajar, temasuk aku. Aku diterima di universitas. Ibuku walau tidak bisa membaca namun hanya melihat surat itu saja sudah membuatnya nampak sangat bahagia. Namun setelah itu wajahnya murung. Akupun melihat wajah pria suami ibuku itu juga berwajah murung. Mereka menundukan kepala dihadapanku.
“ Darimana kita dapatkan uang sebesar RMB 4000?.” Kata pria itu.
Aku tahu bahwa kami sangat miskin. Tidak punya apa apa untuk dijual.
“ Aku ada RMB 3000 hasil simpananku selama bertahun tahun yang memang aku persiapkan untuk putriku masuk universitas.” Kata Ibuku.
“ Kalau begitu masih kurang RMB 1000” Kata pria itu. Ibu mengangguk. Keduanya hening. Dihadapanku nampak dua orang manusia yang kalah dan tak mampu mengantarkanku kegerbang cahaya. Aku memang harus bernasip sama dengan mereka. Terkubur dalam kubangan kemiskinan di desa ini.
Aku tahu bahwa kami sangat miskin. Tidak punya apa apa untuk dijual.
“ Aku ada RMB 3000 hasil simpananku selama bertahun tahun yang memang aku persiapkan untuk putriku masuk universitas.” Kata Ibuku.
“ Kalau begitu masih kurang RMB 1000” Kata pria itu. Ibu mengangguk. Keduanya hening. Dihadapanku nampak dua orang manusia yang kalah dan tak mampu mengantarkanku kegerbang cahaya. Aku memang harus bernasip sama dengan mereka. Terkubur dalam kubangan kemiskinan di desa ini.
“ Ya, sudah, Aku tidak akan ke universitas. Kalian tidak perlu pusing lagi untuk memikirkan biayaku. Itulah yang kalian suka. Senang, kan” Kataku sambil berlari kedalam kamar menangis. Ketika itulah aku merasakan tangan kasar memegang pundaku. “ Jangan menangis. Kamu tidak lagi anak anak. Kamu sudah dewasa. Aku pastikan kamu bisa masuk universitas.”
Malam itu, pria itu duduk termenung diteras dengan bertemankan pipa rokok.Ia menghisap pipa rokok hingga larut malam. Percikan api rokok yang sekejap terang dan gelap menyinari wajahnya yang banyak mengalami pahit getir kehidupan. Dia memincingkan sepasang mata. Raut wajahnya menyembunyikan penderitaan yang tak sudah. Kepulan asap rokok dengan ringan menyebar didepan matanya, mengaburkan pandangan, tiada seorang pun tahu apa yang sedang dia pikirkan, tetapi yang pasti ia sedang berpikir untu sesuatu yang tidak mudah
Keesokan hari ibu memberitahku bahwa pria itu pergi ke kabupaten.
Keesokan hari ibu memberitahku bahwa pria itu pergi ke kabupaten.
“Pergi untuk apa?” Percikan bunga api dari harapan hatiku tersirat keluar.
“Dia bilang pergi kekota mencari teman menanyakan apakah bisa pinjami uang.”
“Apa usaha temannya?” Ibu menggelengkan kepala, mulutnya bergumam, “Tidak tahu.”
Hari itu aku menunggunya didepan desa. Memandang kearah jalan kecil yang berkelok-kelok. Untuk kali pertama perasaan hatiku ada semacam dorongan ingin bertemu pria itu. Untuk kali pertama aku merasakan berharganya sosok pria ini dalam hidupku. Masa depanku tergantung pada dirinya. Hingga malam aku baru melihat dia pulang. Saat aku melihat wajahnya yang penuh senyuman, hatiku yang selalu cemas, akhirnya bisa merasa lega.
Ibu bergegas mengambil seember air hangat untuk merendam kakinya. “Celupkanlah kakimu, berjalan pulang pergi 40 kilometer perjalanan cukup membuat lelah.” Dengan lembut ibu berkata kepada ayah tiri.
Aku mengamati wajah pria itu dengan saksama, dan menemukan bahwa dia bukan lagi seorang pria yang masih kuat dan kekar seperti dulu. Wajahnya pucat pasi dan bibir membiru, dahinya hitam penuh dengan kerutan, rambut pendek serta tangan kurus bagaikan kayu bakar, penuh dengan tonjolan urat hijau. Memang benar, dia menua dalam usia empat puluhan. Dengan hati-hati ibu melepaskan sepasang sepatunya yang hampir rusak. Dibawah sinar temaram lampu neon, terlihat sebuah benjolan darah besar yang sudah membiru masuk dalam pandanganku. Tak tertahankan hatiku merasa bersedih, air mataku diam-diam menetes keluar… dia pasti sangat menderita tapi dia tetap tersenyum sekedar meyakinkan aku bahwa semua akan baik baik saja dan impian ku sudah ditunaikannya.
Keesokan hari ketika aku berangkat kekota untuk mendaftar ke universitas, pria itu mengatakan dia tidak enak badan. Diluar dugaan dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dalam perjalanan mengantarku , ibu berkata, “Nak, kamu sudah dewasa, diluar sana semuanya tergantung pada dirimu sendiri. Sebenarnya ayah tirimu itu sangat menyayangimu, dia sangat mengharapkanmu memanggilnya ayah! Tetapi kamu……” Suara ibu sesenggukan, aku menggigit bibir dengan suara lirih berkata, “Lain kali saja, Bu!”
Setiap kali membayar uang kuliah, pria itu pasti pergi ke kota untuk meminjam uang. Ketika liburan musim dingin dan panas tiba, aku jarang berbicara dengan dia dirumah. Dia sendiri juga jarang menanyakan keadaan ku. Tetapi kegembiraannya bisa dirasakan setiap kehadiranku dirumah. Setiap kali kembali ketempat kuliah, pria itu pasti akan mengantar sampai ketempat yang cukup jauh. Sepanjang perjalanan dia kebanyakan hanya menghisap pipa rokoknya. Semua kata-kata yang ingin ku utarakan kepadanya tidak tahu harus dimulai dari mana. Sebenarnya dalam hati kecil sejak dulu sudah menerimanya seperti ayah kandung. Cinta kasih kadang kala sangat sulit untuk diutarakan! Dengan demikian aku selalu tidak bisa merealisasikan janji ku terhadap ibu,untuk memanggilnya "ayah"
Pada liburan tahun baru, rumah terkesan ramai sekali. Saat itu aku sudah kuliah di semester-6. Adik memintaku bercerita tentang hal-hal menarik di kota. Pria itu duduk dibelakang ibu.Ia sibuk mengeluarkan abu tembakau setelah itu memasukkan tembakau kedalam pipa. Wajahnya penuh dengan senyum kebahagiaan. Aku bercerita tentang keadaan kota. Adik membelalakkan mata dengan penuh rasa ingin tahu. “Ah, teman sekelas kakak kebanyakan sudah mempunyai ponsel dan laptop, sedangkan kakak sebuah arloji pun tidak punya.......” Pada akhirnya aku mengeluh dengan nada bergumam. Saat itu aku melihat wajah ayah tiri sedikit tegang. Segera ada perasaan menyesalku karena telah mengucapkan perkataan itu.
Saat liburan usai aku harus meninggalkan rumah untuk kembali kuliah. Seperti biasa pria itu mengantar kepergianku sampai diujung desa. Sepanjang perjalanan beberapa kali dia memanggilku, tetapi ketika aku menanggapi, dia membatalkan berbicara, sepertinya mempunyai beban pikiran yang sangat berat. Aku sangat berharap dia bisa memulai topik pembicaraan, agar bisa berkomunikasi baik dengannya, namun aku selalu kecewa. Ketika berpisah, dia berkata dengan kaku, “Aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Aku tidak bisa membuat hidup kalian bahagia. Aku sangat menyesalinya. Maafkan aku. Pintaku hanya satu, jika engkau sukses kelak, harus berbakti pada ibumu, biarkan dia bisa menikmati hari tua dengan bahagia…”nampak wajahnya sangat tua dan lelah.
Saat liburan usai aku harus meninggalkan rumah untuk kembali kuliah. Seperti biasa pria itu mengantar kepergianku sampai diujung desa. Sepanjang perjalanan beberapa kali dia memanggilku, tetapi ketika aku menanggapi, dia membatalkan berbicara, sepertinya mempunyai beban pikiran yang sangat berat. Aku sangat berharap dia bisa memulai topik pembicaraan, agar bisa berkomunikasi baik dengannya, namun aku selalu kecewa. Ketika berpisah, dia berkata dengan kaku, “Aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Aku tidak bisa membuat hidup kalian bahagia. Aku sangat menyesalinya. Maafkan aku. Pintaku hanya satu, jika engkau sukses kelak, harus berbakti pada ibumu, biarkan dia bisa menikmati hari tua dengan bahagia…”nampak wajahnya sangat tua dan lelah.
Aku menerima koper baju yang disodorkannya. Tiba-tiba aku melihat sepasang matanya berkaca-kaca. Hatiku menjadi trenyuh, mendadak merasakan ada semacam dorongan hati yang ingin memanggilnya “Ayah”, tetapi kata yang telah mengendap lama ini akan terlontar dari mulut, mendadak tertelan kembali. Ketika aku telah berjalan jauh,aku lihat dia masih berdiri ditempat itu sama sekali tak bergerak, bagaikan patung. Dalam hati aku berjanji: ketika pulang nanti, aku pasti akan memanggilnya “Ayah”. Namun kesempatan itu tak pernah aku dapatkan lagi. Aku tak mengira perpisahan kali ini untuk selamanya. Dua bulan setelah itu Aku mendapat kabar bahwa dia meninggal dunia. Bagaikan halilintar di siang bolong, benak ku menjadi kosong, serasa dunia ini sudah tiada lagi. Aku pulang dengan perasaan linglung. Yang menyambutku dirumah adalah pipa rokok berwarna coklat kehitaman yang tergantung di tembok.
“Satu-satunya hal yang paling disesali ayah adalah tidak seharusnya menamparmu. “ Kata ibu dengan air mata berlinang mengingat akan pria yang sangat mencintainya.” Setiap kali mengantarmu kembali ke kampus, dia sangat ingin meminta maaf, tetapi ucapan itu selalu tak bisa keluar dari mulutnya. Kalaulah kamu tahu ada apa dibalik pipa rokok itu mungkin kamu tidak akan menyalahkannya mengapa sampai menamparmu” sambung ibu.
Melihat benda peninggalan itu teringat pemiliknya, dengan hati-hati aku ambil pipa yang tergantung di tembok itu. Pandangan mataku kabur karena air mata, merasakan kesedihan yang menusuk hati.
“ Ada apa bu dengan pipa rokok itu? Tanyaku.
“Ibu dengan ayah tirimu adalah teman sepermainan sejak kanak-kanak. Setelah kami tumbuh dewasa, kami sudah tak terpisahkan lagi. Tetapi jalinan kasih kami mendapatkan tentangan keras kakekmu, sebab keluarga ayah tirimu terlalu miskin. Kami tetap berjuang untuk mempertahankan hubungan kami. Kakekmu minta agar keluarga ayah tirimu memberikan mas kawin dalam jumlah besar untuk bisa melamar ibu. Pikiran kakekmu, keluarga ayah tirimu akan mundur karena mereka miskin. Tapi tidak. Demi anak satu-satunya, ayah dari ayah tirimu itu pergi bekerja di perusahaan penambangan batu bara. Malang tak dapat ditolak, terjadi kecelakaan di tambang itu. Dinding tambang runtuh dan menimbun sang ayah untuk selamanya. Barang peninggalan satu-satunya hanyalah pipa rokok kesayangannya semasa hidup. Ayah tirimu sangat sedih, seumur hidup orang yang paling dia hormati dan sayangi adalah ayahnya. Kemudian ayah tirimu menyalahkan dirinya dan merasakan penyesalan yang mendalam hingga tak ingin hidup lagi. Keesokan harinya dia diam-diam meninggalkan rumah dengan membawa pipa rokok itu, tak seorang pun tahu kemana perginya… Setahun telah ayah tirimu pergi, ibu terpaksa mengikuti kehendak kakekmu untuk menikah dengan ayahmu.
Dua tahu setelah ibu menikah, ayah tirimu kembali kedesa. Sejak itu ayah tirimu tidak pernah menikah lagi. Dia tetap tinggal didesa sebagai petani dengan bertemankan pipa rokok itu. Akibat kanker paru paru, ayah kandungmu meninggal. Sejak itu , ibu sendirian harus menghidupi kalian berdua. Ibu bekerja apa saja siang dan malam untuk itu. Namun tetap belum bisa memenuhi kebutuhan kalian. Pada saat itulah selalu ada ayah tirimu yang datang membantu. Dia tidak pernah meminta ibu untuk menikah dengannya namun dia selalu ada untuk ibu ketika ibu dalam kesulitan akan kebutuhan hidup. Akhirnya kakekmu luluh dan meminta ayah tirimu untuk menikahi ibu. Sejak itulah dia berjanji akan menjaga kalian seperti anak kandungnya. Cintanya kepada ibu sangat besar. DIa tahu ibu sangat mencintai kalian. Karenanya dia juga harus menjaga kalian berdua dengan kekuatan cintanya.”
Dua tahu setelah ibu menikah, ayah tirimu kembali kedesa. Sejak itu ayah tirimu tidak pernah menikah lagi. Dia tetap tinggal didesa sebagai petani dengan bertemankan pipa rokok itu. Akibat kanker paru paru, ayah kandungmu meninggal. Sejak itu , ibu sendirian harus menghidupi kalian berdua. Ibu bekerja apa saja siang dan malam untuk itu. Namun tetap belum bisa memenuhi kebutuhan kalian. Pada saat itulah selalu ada ayah tirimu yang datang membantu. Dia tidak pernah meminta ibu untuk menikah dengannya namun dia selalu ada untuk ibu ketika ibu dalam kesulitan akan kebutuhan hidup. Akhirnya kakekmu luluh dan meminta ayah tirimu untuk menikahi ibu. Sejak itulah dia berjanji akan menjaga kalian seperti anak kandungnya. Cintanya kepada ibu sangat besar. DIa tahu ibu sangat mencintai kalian. Karenanya dia juga harus menjaga kalian berdua dengan kekuatan cintanya.”
Selesai mendengarkan penuturan ibu, tak terasa wajahku penuh dengan air mata. Sungguh tak menduga jika pipa rokok itu bukan hanya memiliki kisah berliku perjalanan cinta mereka, namun juga mengandung ingatan yang amat berat bagi seumur hidup ayah tiri!
“Nak” seru ibu “ Ayah tirimu meninggal dunia karena pendarahan otak. Sebelumnya dia sudah tidak bisa berbicara, hanya memandang Ibu dengan tangannya menunjuk ke arah kotak kayu. Ibu mengerti maksudnya hendak memberikan kotak kayu tersebut kepadamu. Didalam kotak itu terdapat beberapa lembar surat hutang, mungkin dia bermaksud menyuruhmu membayarkan hutangnya. Seumur hidupnya, dia tak ingin berhutang pada orang lain….”
Dengan sesenggukan aku menerima kotak kayu itu dan membukanya dengan perlahan. Ada delapan lembar kertas didalamnya. Aku membacanya dan terkejut bukan main. Tubuh menjadi lemas terkulai diatas ranjang. Ibuku buta huru. Kertas-kertas yang ada dalam kotak itu bukan surat hutang seperti yang dikatakannya, melainkan tanda terima jual darah! Ayah tiriku telah menjual darahnya! Untuk membayar uang kuliahku. Dia benar benar mengorbankan raganya untuk cintanya. Kepalaku terasa pusing dan tangan ku lemas. Kotak kayu itu terjatuh, dari dalamnya menggelinding keluar sebuah alroji baru…
“Ayah! Ayah..” Teriaku Berlutut didepan kuburan ayah tiriku dengan air mata bercucuran. AKu hanya bisa menepuk-nepuk onggokan tanah kuning yang ada dihadapanku. Tetapi biar bagaimanapun aku berteriak-teriak, tetap tak akan memanggil kembali bayangannya.
Ketika aku pergi meninggalkan rumah, aku membawa pipa rokok coklat kehitaman itu. Aku akan mendampingi pipa ini untuk seumur hidupku, mengenang ayah tiri untuk selamanya dan menunaikan permintaannya membahagiakan ibu dan adikku.
Saudaraku, Ketika kita memberi dengan ikhlas kepada siapapun itu tandanya kita sedang merangkai kata kata indah untuk cinta kepada Allah. Tak ada zikir terbaik selain memberi dengan cinta. Tak ada cinta terbaik kecuali berkorban untuk dan karena Allah. Dan jangan pernah lupa untuk berterimakasih kepada orang orang yang telah berbuat baik walau itu hanya perbuatan kecil yang kadang tidak nampak.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment