Mak Ijah duduk bersimpuh di balai-balai bambu sambil makan sirih dengan nikmatnya. la mengeluh dalam hati, betapa sepi kampungnya saat petang seperti itu. Maka ketika pandangan matanya menangkap bayangan dua tubuh kecil berjalan pelan-pelan di pinggir jalan, ia memandangnya dengan cermat. Mereka adalah dua orang anak kecil. Mak Ijah mengerenyitkan dahinya, agar pandangan matanya lebih jelas lagi. Tak salah. Keduanya asing baginya.Anak yang paling besar berumur kira-kira enam tahun, perempuan, wajahnya cantik, bersih dan lembut. Wajah itu sebelumnya tak pernah kotor dan tak pernah dihangusi matahari, tapi kini melepuh coklat berkilat. Bocah kedua, adik laki-laki gadis mungil itu, berwajah senasib. Kendati demikian, tampak mata keduanya bening penuh kejujuran. Mereka tampaknya lelah setelah menempuh jarak yang panjang. Keduanya tampak kehausan, bibirnya kering pecah-pecah dan bergetar-getar penuh derita, dan kaki-kaki mereka telah kotor berdebu.
Tiba di bawah pohon asam, keduanya berhenti, istirahat. Si Kakak mengusap-usap wajah adiknya dengan penuh kasih-sayang yang mengiris hati. Diciumnya pipi adiknya itu dengan lembut sekali, dan mulutnya kelihatan komat-kamit mengucapkan sesuatu yang tak terdengar oleh Mak Ijah. Adiknya mengangguk-angguk lemah penuh kepatuhan. Sebuah pemandangan penuh sinar kasih sayang yang tulus murni serta mengharukan di senja yang sepi.Nenek itu berhenti mengunyah sirih, lantas memperhatikan kedua bocah itu lebih serius.Lihat, si Kakak mendekap wajah adiknya, seolah melindunginya dari angin senja yang jahat. Lalu wajah si adik disapunya, diusap-usapnya dengan ujung roknya, lantas ia menuntunnya berjalan lagi pelan-pelan. Tampak sekali si adik sudah begitu capek, kakinya mulai terseret-seret. Si Kakak membimbing adiknya penuh kesabaran dengan pandangan kosong tanpa arti dan tujuan. Mak Ijah terpana.
Tiba di depan rumah Mak Ijah, mereka berhenti. Ketika ia melihat Mak Ijah, si Kakak tersenyum dengan pandangan kosong, menganggukkan kepalanya dengan sangat sopan dan lalu berjalan mendekat sambil membimbing adiknya. Mereka amat sangat santun, dan Mak Ijah yakin keduanya anak seorang priyayi, entah dari mana. ”Nenek, bolehkah kami meminta air minum barang segelas? Adik saya sudah kehausan,” kata si Kakak dengan lemah. Mak Ijah terkesan sekali dengan kata-kata bocah perempuan itu. Jelaslah mereka anak yang mendapat pendidikan yang baik oleh orangtuanya. Adiknya berdiri membisu menundukkan kepala dan tangan kanannya memegangi ujung kerah bajunya.
”Boleh, boleh, nak, silahkan duduk istirahat dulu di balai-balai,” jawab Mak Ijah sambil menghampiri keduanya.
”Terimakasih, Nek, kami duduk di lantai saja,” jawab si Kakak.
”Kak, aku haus,” ujar adiknya lemah sembari memandang wajah kakaknya minta dikasihani.”Sebentar ya Dik,”jawab Kakaknya sambil menuntunnya duduk di lantai.
”Jangan duduk di situ Nak, di balai-balai saja, nanti kotor baju kalian,” kata Mak Ijah.‘Terimakasih Nek, di sini saja.”
Mak Ijah terkejut. Belum pemah ia berhadapan dengan anak kecil yang begitu sopan dan rendah hatinya, penuh budi pekerti. Anak-anak di desanya tak seperti itu. Mak Ijah makin hanyut hatinya. Ia masuk ke dalam rumah mengambil dua cangkir air putih. Hanya itu yang ada padanya. Ia ingin memberi mereka teh manis hangat, tapi bahkan air panas pun ia tak punya, stoples gula pasirnya pun sudah melompong.
”Secangkir saja Nek, buat adik saya. Ia sangat kehausan,” kata si Kakak.
”Di mana rumah kalian?” tanya Mak Ijah.
”Jauh, Nek.”
”Kalian mau ke mana?” lanjut Mak Ijah.
”Ke sana. Nek,” jawab si Kakak sambil menunjuk ujung jalan yang berlawanan dan arah mereka datang. Mak Ijah melihat, mereka sebenarnya tengah kelaparan. Ia lantas ingat, masih ada nasi dan sayur lodeh terung di lemarinya.
”Kalian makan dulu, ya? Nenek masih ada nasi dan sayur sekadarnya,” begitu Mak Ijah menawarkan kebaikan hatinya.
‘Terimakasih, Nek, tak usah repot-repot. Saya hanya perlu air segelas untuk adik,” jawab si Kakak. Kembali Mak Ijah terkejut mendengar jawaban anak perempuan kecil itu.Jelaslah mereka bukan anak-anak sembarangan, pastilah datang dari keluarga yang terdidik, dan tawakal.
Si Kakak sabar membantu adiknya meminum air putih dari cangkirnya. Beberapa tetes air jatuh di baju sang adik. Anak perempuan itu dengan sabar dan halus membersihkannya dan mengeringkan baju yang basah itu.
”Adik mau minum lagi?” tanyanya pada adiknya dengan penuh kasih sayang. Si Adik hanya menggelengkan kepalanya. Si Kakak mencium adiknya, tampaknya agar si Adik mampu mengumpulkan sisa-sisa serpihan semangatnya, lalu berdiri membawa kedua cangkir itu.”Nek, di mana tempat pencuciannya?” tanya si Kakak.
”Untuk apa?” tanya Mak Ijah keheranan.
”Saya mau menyucikan cangkir-cangkir ini.”
”Enggak usah Nak. Biar, taruh saja di balai-balai. Nanti biar nenek yang menyucinya,”jawab Mak Ijah.
”Terimakasih banyak atas kebaikan Nenek, kami akan berjalan lagi,” tutur si Kakak.”Kalian hendak ke mana? Istirahatlah dulu di sini. Menginaplah, esok kalian boleh pergi.””Terimakasih, Nek, kami akan terus pergi. Terimakasih, Nenek sangat baik kepada kami,” ujar si Kakak. Lalu keduanya mencium tangan nenek tua itu. Bukan main terperanjatnya Mak Ijah. Belum pernah ada anak di kampung itu yang begitu tulus dan halus mencium tangannya.Kedua kakak beradik itu berjalan meninggalkan rumah Mak Ijah. Nenek tua itu hanya bisa menatapnya dengan rasa trenyuh, matanya mulai basah menahan perasaan. Anak perempuan itu begitu mempesona. Pada usia semuda itu, perkataannya begitu sopan dan dengan kalimat yang baik pula.
Dilihatnya si Kakak membimbing adiknya dengan sabar dan dengan langkah kaki yang sudah begitu berat. Karena kelelahan dan karena kelaparan. Tapi kenapa mereka menolak tawarannya untuk makan? Untuk menginap? Di hari yang muram seperti ini? Bukankah itu menunjukkan kehalusan budi mereka? Mak Ijah tak henti-hentinya memikirkan anak- anak itu. Hati perempuan tua itu sudah tercengkeram begitu lembut oleh pesona dua orang anak yang penuh sopan-santun dan berbudi halus.
***
Maghrib lalu meluncur tanpa ragu-ragu, matahari semakin tandas tenggelam di bawah garis barat, ditarik oleh malam hitam yang kejam. Suasana kampung Mak Ijah sekelebat sunyi, sepi, seperti juga sunyi serta sepi malam yang dulu-dulu. Nenek itu keluar ke halaman menenteng lampu minyak yang hendak dipasangkannya di tiang di pinggir jalan di depan rumahnya. Belum lagi ia masuk ke rumahnya kembali, Mak Ijah terperanjat. Di kejauhan terdengar riuh-rendah orang beteriak-teriak histeris. Di sela-sela itu terdengar jeritan yang tinggi melengking menahan sakit yang sudah tak tertahankan, dan tangisan mengiba-iba. Tak begitu jauh dari rumah Mak Ijah.
Dan kampung yang biasanya senyap kini berubah seperti neraka ditiup prahara tak kenal ampun. Bulu kuduk nenek tua itu meremang, napasnya tertahan penuh tekanan di dadanya. Jeritan pilu itu melengking terus-menerus menusuk-nusuk malam dan teriakan histeris tak pula selesai-selesai. Nenek tua itu lalu berjalan tersaruk-saruk, menembusi gelap menuju ke tempat kegaduhan yang berlangsung merajalela.
Di tempat itu orang-orang sudah berkumpul. Tua-muda, perempuan atau pun mereka yang menganggap dirinya lelaki. Beberapa orang membawa obor. Dan seorang lelaki tua berkumis dan beraut muka jahat berteriak-teriak kesetanan. Di sebelahnya, seorang perempuan tua gendut dengan mata kucing licik, menyingsing daster kumalnya sembari menjerit-jerit sampai mukanya, yang memuakkan siapa pun juga. Jadi kepucat-pucatan. la selalu hadir di hampir semua keributan di kampung ini.
Di tengah kerumunan terdapat dua tubuh mungil bocah yang wajahnya sudah bengkak-bengkak dan penuh darah segar, akibat dikeroyok dan dipukuli orang-orang kesetanan. Keduanya tergolek sudah tak berdaya menahan beban sakit dan penderitaan yang jauh di atas kemampuan bocah-bocah itu.
”Pukul saja! Tendang, tendang nah ‘gitu, mampus kau! Bajingan, anjing haram jadah?” pekiknya tak putus-putus.
”Libas! Libas! Biang kerok! Bangsat, luh!!” pekik seorang pemuda kurus, hitam, yang dada dan kedua tangannya penuh tato, membabatkan goloknya yang berkilat. Terdengar pekikan sakratul maut, lalu diam. Si tato mengayunkan goloknya sekali lagi, terdengar lengkingan yang lebih tinggi, nyaring lalu diam lagi. Si pemuda yang dikenal sebagai pemabok itu tampak puas, bangga tertawa lebar sambil melihat ke kiri dan kanan menunggu tepukan hormat. Kaki kirinya menginjak kepala korbannya, seorang bocah perempuan kecil. Tangan kanannya memegangi ujung goloknya yang masih menancap di leher korban satunya lagi, bocah lelaki kecil yang kini tergolek mati mandi darah.
Satu dua orang dari mereka itu bertepuk-tepuk tangan mengumbar pujian pada si pemabok bertato. Si pemabok semakin bangga atas dirinya. Cuping hidungnya mengembang-mengempis dan ia membongkokkan badannya sedikit sembari mengumbar senyum kesombongan. Kesombongan atas jasanya membunuh dua anak kecil yang tak jelas kesalahannya.
”Ini hukuman buat thuyul-thuyul pencuri uang kita!” teriak si kumis jahat. ”Ini pasti suruhan orang kota buat membikin kita sengsara terus!” seru lainnya. Lalu umpatan-umpatan yang menyalahkan dua korban itu bergaung-gaung dari satu orang ke orang lainnya. Tak ada yang meratapi atau merasai kesedihan atas hilangnya dua nyawa anak kecil.
”Bakar saja! Biar nyawanya enggak balas dendam! Pantas jualanku enggak laku-laku, rupanya dua bajingan ini penyebab kesialanku,” kata seorang kakek yang kurus dan tinggal menunggu malaikat sakratul maut menjemputnya, entah esok entah lusa. ”Betul! Bakar saja, biar lumat sekalian,” jerit seorang perempuan setengah baya, ”ini yang membikin kampung kita kena sial.”
”Penggal kepala keduanya, kubur terpisah dari badannya di seberang kali. Siapa tahu mereka punya Ajian Pancasona dan Rawarontek,” usul gila seorang duda pengangguran.Si tato melaksanakan usul itu dengan gagahnya. Dua kali tebas dan kepala dua anak itu terpisah sudah, terpental menggelinding di tanah. “Tusuk! Tusuk kepalanya di ujung bambu entar kita iring keliling kampung,” teriak seorang penjudi yang tak pernah punya pekerjaan jelas.
“Setuju! Setuju! Buat buang sial kampung kita yang tak ada habis-habisnya!” begitu teriak seorang pria lainnya. Ia berwajah seperti tikus yang selalu mengaku sebagai dukun hebat di kampung itu sekadar agar bisa makan esok harinya. la membayangkan kepala-kepala mungil itu nanti akan ditancapkan di ujung-ujung galah bambu lalu diarak dan diiringi puluhan orang memegang obor berkeliling kampung.
Asap-asap obor akan meliuk-liuk ditimpa sinar kuning merah yang menari-nari di wajah pengiringnya. Adegannya akan seru seperti yang pernah ia lihat di televisi atau di film-film bikinan dalam negeri dulu. Atau film-film Hong Kong, atau film apalagi ia sendiri sudah lupa. Ketika seseorang menyodorkan dua batang galah bambu panjang terdengar teriakan seorang perempuan tua yang mereka kenal: “Tunggu!” Mak Ijah memaksa dirinya mendesak orang-orang ke kiri dan ke kanan menyelusup masuk ke tengah kerumunan orang yang sudah seperti kemasukan iblis yang paling jahat di dunia. Ia terperanjat lalu berteriak-teriak histeris. Nenek tua itu melihat dua bocah yang tadi petang meminta air putih dengan sopan-santun, penuh budi pekerti itu, dan yang menolak diberi makan secara halus dan yang telah menyebabkan air matanya jatuh ke pipi tadi, kini terbujur mati di tanah. Darah menggelinang di sekitar tubuh mungil itu. Mak Ijah, dengan kekuatan yang ia punya mendorong si pemabok bertato dari samping, lalu menjerit-jerit menangisi kematian dua kakak beradik itu. Anehnya orang-orang kesetanan itu tiba-tiba diam, dan suasana jadi beku, kecuali tangisan Mak Ijah, perempuan yang dihormati penduduk kampung itu. Nenek tua itu merangkul serta-merta tubuh si Kakak.”Biadab! Biadab kalian semua! Di mana hati nurani kalian hah, tega sekali membunuh dua bocah tak berdosa ini?” teriak Mak Ijah.
”Mereka ini thuyul Mak! Coba aja malam-malam keluyuran tak tentu tujuannya! Tak mau ditanya lagi!”jawab si perempuan mata kucing.
”Apa? Hantu thuyul? Dasar otak busuk. Mana mungkin hantu bisa kalian bantai dengan biadab seperti ini?” bantah Mak Ijah sambil mendekap tubuh anak perempuan.
”Alaaa, percayalah Mak, aku yakin dia yang suka nyolong duitku!” tuduh si dudapengangguran.”Tutup mulutmu! Kamu punya bukti apa? Hah? Lagi pula mana mungkin kamu punya uang sedangkan pekerjaan pun kau tak ada? Bohong kamu. Dasar laki-laki tak punya harga diri,” begitu nenek tua itu memakinya.
”Kalian menganggap kalian paling suci, sok benar sendiri dan menghukum anak-anak tak berdosa yang begitu sopan ini. Kalian mengaku orang-orang beragama. Mana buktinya?Gampang emosi, gampang dihasut orang-orang berotak busuk tanpa pikir panjang. Kalian ini manusia, binatang, atau iblis laknat? Kalian jadikan hidup miskin alasan buat membenarkan segala tingkah-laku busuk. Membikin onar membikin ribut. Sok gagah meniru-niru orang kota. Pekerjaan pun kalian tak punya. Tak punya akal buat cari seperak dua perak duit. Mana iman kalian? Kalau kalian tersinggung sedikit saja kalian ngamuk dan membunuh. Seolah-olah kalian punya martabat tinggi. Martabat apa? Kalian rupanya belum sadar kalau kalian ini hina-dina, nista tak ada bandingnya. Apa bedanya kalian dengan orang-orang biadab yang tak beragama? Ayo siapa mau buka mulut?” begitu Mak Ijah berteriak-teriak sekencang-kencangnya.
”Apa mereka cucu Mak Ijah?” tanya seorang pemuda, tukang catut, yang di waktu luangnya menjadi pencopet.
”Dengar, bodohl Mereka ini tadi berjalan dan tempat yang jauh. Mereka kecapaian dan minta air putih. Hanya air putih! Bahkan waktu mereka kuajak makan pun menolak dengan halus dan sangat sopan santun. Anak-anak manis yang tak berdosa semacam itu yang kalian bantai hari ini? Besok siapa? Anak-anak kalian sendiri? Kalian mau anak kalian dibantai tanpa dosa seperti ini?” sembur nenek itu dengan nada tinggi. Napasnya tersengal-sengal.
”Mak, kalau manusia benar-benar, bagaimana mungkin cuma minta air putih? Mereka tentu berilmu tinggi,” sergah si Kumis jahat.
”Goblok, goblok kamu Kumis. Cuma kumismu yang kamu pelihara besar-besar biar orang-orang takut dan memberimu uang. Kamu anggap mereka ini manusia nista seperti kamu? Yang bahkan tak minta dan tak ditawari pun kamu akan merebut rejeki orang?” Si Kumis diam, malu-malu.
”Ayo! Bakar sekalian tubuh-tubuh anak manusia yang berbudi pekerti tinggi ini! Apa tak malu kalian membunuh anak-anak kecil berakhlak mulia jauh lebih luhur daripada kalian sampah-sampah masyarakat, manusia tak ada harganya? Ayo cincang lagi keduanya biar kalian puas menjadi iblis-iblis laknat!” teriak Mak Ijah.
”Cukuuuuup, cukuuuuup! Kalau dianggap bersalah, kamilah yang bersalah! Kami berdua yang menyebabkan semuanya ini terjadi,” teriak seorang pria tua yang baru saja tiba di tempat laknat itu. Orang-orang kaget dan memandang ke arah datangnya suara yang mengiba-iba itu.”Marilah, bunuh aku dan istriku sekalian. Kedua anak itu tak bersalah,” katanya tersendat-sendat di sela-sela tangisnya.
”Nah, kalian percaya bukan? Dua anak ini hantu thuyul pencuri uang. Dan pria asing inilah yang punya,” ujar si Kumis jahat.
”Bukan! Bukan! Dua anak kecil ini cucu kami sendiri. Mereka lari dari keluarga kami dan kami sudah mencarinya seharian,” jawab si pria itu. Warga yang semula kesetanan itu kini berpikir sedikit agak waras lagi. ”Bapak ini siapa? Dan anak-anak itu sebenarnya siapa?” tanya duda pengangguran.Pria ini tampak berasal dari keluarga priyayi yang berada. Badannya gendut, begitu pula istrinya. Keduanya lalu berjongkok dan si pria merebut tubuh anak perempuan itu dari Mak Ijah. Istrinya mendekap tubuh adik si gadis cilik itu.
”Mereka anak dari putri tunggal kami. Dulu anak kami jatuh cinta pada seorang seniman pelukis tua. Kami melarang, karena pria itu melarat, dan usianya jauh di atas anak kami.Mereka kawin lari dan hidup di kota lain. Hidup mereka miskin, tapi bahagia, kedua anaknya dididiknya baik-baik. Anak perempuan yang kalian penggal kepalanya ini, juara menyanyi se-provinsi. la anak yang pandai, saudara-saudara! Bahkan saat di bangku TK pun ia sudah pandai membaca-menulis dan matematika! Sudah pandai! Adiknya, yang juga kalian bunuh, juara lomba menggambar tingkat balita seprovinsi juga dan ia anak yang mandiri, pun pandai. Tiga tahun lalu ayahnya meninggal. Tapi ibunya tetap bertahan meski kami ajak pulang. Bulan lalu ibu mereka, anak kami satu-satunya, jatuh sakit. Mereka dan ibunya kami bawa ke rumah, kami rawat. Tiga hari lalu ibu anak-anak ini meninggal dunia. Cucu kami yang manis-manis ini merasa tidak kerasan tinggal bersama kami, karena memang selama itu kami tak pernah mengunjungi mereka. Anak-anak ini merasa asing dengan lingkungan kami. Mereka berpamitan ingin ikut keluarga adik ayahnya. Kami melarang, tapi mereka pagi tadi meninggalkan rumah. Kami mencarinya dan sekarang kami dapatkan mereka telah kalian bantai. Kalian cacah-cacah tubuhnya tanpa urusan yang jelas. Kalian telah membantai dengan kejam anak-anak pandai dan sopan santun ini, yang membikin kami berdua merasa malu kepada diri kami sendiri sejak kedatangan mereka ke rumah kami. Apa dosa dan kesalahan bocah-bocah kecil ini......,” tutur si pria itu.
***
Sepi, tak ada suara manusia lagi. Hanya angin malam yang meniup daun-daun bambu yang lalu menggerisik mengiringi suara cengkerik yang sambung-menyambung tak henti-hentinya. Tiga orang tua-tua—si suami-istri kaya dan Mak Ijah—masih menangisi jenazah dua orang anak manis yang terpenggal kepalanya. Satu per satu orang-orang kejam tersebut berlalu diam-diam dari tempat itu. Entah lantaran malu atau entah karena bodoh otaknya dan tumpulnya hati nurani mereka, bahkan perkataan maaf pun tak mereka ucapkan, atas terbunuhnya dengan amat keji dua anak harapan bangsa yang hidupnya amat indah dan bermakna di usianya yang masih amat muda. Kedua calon unggulan bangsa ini tamat riwayatnya dihabisi oleh manusia-manusia sampah yang tak pernah punya makna buat dirinya, apalagi bangsanya, dan yang terus membebani negara selama hidupnya.
Satu hal yang memberinya makna tertentu pada mereka yaitu memberi sedikit kewajibannya dan meminta jauh lebih banyak haknya. Keserakahan bukan hanya milik orang kaya-kaya. Orang miskin pun tak kalah pula. la mengambil terlalu banyak untuk menutupi kemiskinan harta dan kemelaratan nurani yang tak pernah mereka pahami. Dan itu termasuk nyawa-nyawa yang berlayangan tanpa sebab yang masuk akal—bagi orang-orang di luar mereka semua—termasuk milik anak-anak yang sepantasnya mereka lindungi, bahkan oleh orang-orang yang paling melarat semelarat-melaratnya pun.
0 comments:
Post a Comment