Setelah diumumkan pengangkatannya menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, beliau pun tak mau keluar menemui seorang. Dalam kesendirian itu, beliau menghabiskan waktu dengan bertafakkur, berdzikir, dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya dengan pesta, tetapi justru dengan cucuran air mata. Tiga hari kemudian beliau keluar. Para pengawal menyambutnya, hendak memberi hormat. Umar malah mencegahnya.
“Kalian jangan memulai salam kepadaku, bahkan salam itu kewajiban saya kepada kalian.” Itulah perintah pertama Khalifah kepada pengawal-pengawalnya. Umar menuju ke sebuah ruangan. Para pembesar dan tokoh telah menunggunya. Hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata beliau?
“Wahai sekalian manusia, jika kalian berdiri, saya pun berdiri. Jika kalian duduk, saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri di hadapan Rabbul-‘Alamin.”
Saat upacara pelantikan, yang disampaikan diantaranya : “Ketahuilah, aku bukanlah orang yang terbaik di antara kamu, akan tetapi aku hanyalah seorang lelaki seperti kamu, namun ALLAH menjadikan aku sebagai orang yang paling berat bebannya di antara kamu.“.Itulah yang dikatakan pertama kali kepada rakyatnya.
***
Isteri Umar bin Abdul Aziz, Fatimah binti Abdul Malik, sangat terkejut menyaksikan perubahan suaminya yang serta-merta. Sebelum menjadi Khalifah, beliau hidup biasa saja dengan jabatan-jabatan penting yang disandangnya. Setelah menjadi Khalifah, bukan saja tidak mau tinggal di istana kerajaan, bahkan beliau tidak mengambil gaji dari jabatannya itu. Beliau menyambung hidup hanya dari hasil sepetak tanah yang dibelinya dengan uang sendiri.
Sebagai anak bekas kepala Negara (khalifah Abdul Malik bin Marwan), Fatimah banyak mempunyai barang-barang emas dan perhiasan yang mahal-mahal. Oleh Umar, semua barang-barang itu disuruhnya agar dikembalikan ke Baitul Mal.
“Engkaukan tahu, wahai Fatimah,” kata Umar, “Emas permata yang engkau miliki ini diambil oleh bapakmu dari harta kaum muslimin dan diberikannya kepada engkau. Aku tidak suka permata-permata itu berada di rumahku, bersamaku. Maka engkau boleh memilih, apakah engkau akan mengembalikannya ke Baitul Mal atau izinkan aku menceraikan engkau.”
“Demi Allah, aku memilih engkau daripada barang-barang ini walaupun harganya sangat-sangat mahal,” jawab Fatimah. Lalu dikembalikannya semua barang-barang emas dan perhiasannya ke Baitul Mal dengan tenang.
“Apakah yang menyebabkan engkau berbuat seperti ini?” tanya Fatimah suatu hari.
“Aku mempunyai nafsu yang senantiasa ingin kelebihan. Sebelum aku menjadi gubernur, aku ingin menjadi gubernur, lalu tercapai. Setelah menjadi gubernur, aku diangkat menjadi wazir. Setelah menjadi wazir, aku diangkat menjadi Khalifah. Setelah diangkat menjadi khalifah, aku ingin yang lebih tinggi lagi,” kata Umar bin Abdul Aziz.
“Apalagi yang engkau inginkan?” tanya Fatimah keheranan, karena tidak ada jabatan yang lebih tinggi lagi selain menjadi pemimpin Negara.
“Aku ingin surga,” jawab Umar. Fatimah menangis tatkala mendengar cita-cita suaminya yang mulia itu. Ketika Umar bin Abdul Aziz wafat, saudara lelaki Fatimah, Yazid bin Abdul Malik, diangkat menjadi Khalifah. Lalu Yazid ingin memulangkan barang emas Fatimah yang diserahkan ke Baitul Mal dulu. Akan tetapi dengan tegas Fatimah berkata, “Tidak, demi Allah, selama ini aku selalu mentaatinya ketika beliau masih hidup dan tidak akan mendurhakainya setelah beliau wafat. Aku tidak memerlukan perhiasan itu.”
Sungguh mulia sikap Fatimah dan suaminya itu. Tapi di negeri kita, saat ini, adakah para pejabat dan keluarganya yang memiliki sikap seperti Umar bin Abdul Aziz dan Fatimah binti Abdul Malik? Wallahu a’lam.
***
Pada suatu kesempatan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz shalat Jum’at di masjid bersama masyarakat dengan baju yang bertambal di sana-sini. Salah seorang jamaah bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadamu kenikmatan. Mengapa tak mau kau pergunakan walau sekedar berpakaian bagus?” Umar bin Abdul Aziz tertunduk sejenak, lalu dia mengangkat kepalanya dan berkata, “Sesungguhnya berlaku sederhana yang paling baik adalah pada saat kita kaya, dan sebaik-baik pengampunan adalah saat kita berada pada posisi kuat.”
***
Umar bin Abdul Aziz, meninggalkan sebelas anak dan masing-masing anak mendapat warisan harta hanya tiga perempat dinar. Saat menjelang kematiannya, ia berkata kepada mereka, “aku tidak mempunyai harta yang dapat aku wariskan.”
Sementara itu, Hisyam bin Abdul Malik, salah seorang khalifah Bani Umayyah berikutnya meninggalkan sebelas anak dan masing-masing anaknya mendapat warisan satu juta dinar. Di kemudian hari, ternyata anak-anak Umar bin Abdul Aziz semuanya kaya. Bahkan salah seorang anaknya, sanggup menyediakan biaya dari harta pribadinya untuk seratus ribu pasukan berkuda sekaligus dengan kudanya dalam perang fisabilillah. Sementara anak-anak Hisyam bin Abdul Malik semuanya jatuh miskin.
***
Pada suatu malam Umar bin Abdul Aziz r.a. sedang menulis, lalu datanglah seorang tamu. Melihat lampu hampir padam, si tamu menawarkan diri, “Biarlah saya yang membesarkan nyalanya.”
Tapi Umar menjawab, “Jangan, tidaklah ramah menjadikan tamu sebagai pelayan!“
Maka si tamu lalu berkata, “Kalau begitu, biarlah saya panggilkan pelayan.“
Umar menolak, “Jangan, ia baru saja pergi tidur!”
Lalu beliau sendiri pergi ke tempat penyimpanan minyak dan mengisi lampu itu. Si tamu. berseru, “Tuan lakukan pekerjaan ini sendiri, wahal Amirul Mukminin?“
Umar berkata kepadanya, “Aku melangkah dari sini sebagai Umar, dan kembali ke sini masih sebagal Umar pula.”
***
Istri Umar bin Abdul aziz, Fathimah binti Abdul Malik, berkata kepada Al Maghirah bin Hakim, “Hai Mughirah, saya tahu bahwa kadang-kadang diantara manusia ada orang yang lebih rajin shalat dan puasanya daripada Umar. Akan tetapi, saya tidak pernah melihat orang yang dekat kepada Tuhannya seperti kedekatan Umar. Setelah shalat isya pada akhir waktunya, dia merebahkan dirinya di atas tempat sujudnya. Dia berdoa dan menangis hingga tertidur. Kemudian, dia bangun lalu berdoa dan menangis hingga tertidur. Demikian seterusnya hingga subuh“
***
Ketika Umar bin Abdul Aziz mendengar bahwa salah seorang putranya telah membeli sebuah cincin betahtakan permata yang sangat mahal seharga 1.000 dirham, maka Umar bin Abdul Aziz menulissuratkepada putranya tsb. “Telah sampai khabar kepadaku, bahwa engkau telah membeli cincin betahtakan permata seharga 1.000 dirham, jika surat ini telah sampai ke tanganmu, juallah cincin tersebut dan berilah makan 1.000 orang miskin, selanjutnya buatlah cincin seharga dua dirham, dengan batu dari besi Cina”.
Ketika putranya telah melakukan apa yang dimintanya maka ia menulis surat: “Segala puji bagi ALLAH yang telah mengingatkan putra Ibnu Abdul Aziz akan kadar dirinya, Allah mengasihi orang yang mengetahui harga dirinya yang sebenarnya”.
***
Dikisahkan, ada seorang perempuan penjual susu. Setiap kali mencampur susu dengan air ia sangat hati-hati. Bahkan setelah mengingat bahwa kelak semua yang dilakukan manusia, akan dihisab, ia mengurungkan untuk mencampur susu itu dengan air secara berlebihan. Ia takut susu itu hilang kemurniannya. Sehingga dapat membohongi si pembeli. Dan dengan sikap kehati-hatian perempuan itulah, Allah mengaruniakan seorang anak shaleh. Yang akhirnya ketika tumbuh besar menjadi sosok yang luar biasa. Sosok itu adalah Umar bin Abdul Aziz. Sang ibu penjual susu tersebut adalah Laila Umm Asim binti Asim bin Umar bin Khattab, cucu salah satu Khulafaur Rasyidin yang juga sahabat dekat nabi Muhammad saw.
***
Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah lurus yang ahli ibadah. Imam Ahmad pernah mengatakan, bahwa tidak ada seorangpun tabi’in yang ucapannya bisa dijadikan hujjah, selain Umar bin Abdul Aziz.Ketika ajalnya sudah mendekat, dia meminta isterinya, Fatimah, “Keluarlah dari kamar ini, sebab aku melihat beberapa makhluk yang bukan bangsa manusia dan bukan pula bangsa jin, yakni malaikat”, lirihnya.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindung dalam kehidupan dunia dan akhirat, didalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS : Fushilat : 30-32). Teringat akan QS : Ibrahim : 27, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”.
Umar bin Abdul Aziz bersuara sangat lirih, berdo’a : “Ya Allah. Teguhkanlah kami dengan kalimat yang teguh, ketika arwah kami menyesakkan kami dan penderitaan kami amat berat, sehingga tidak ada tempat lari dan berlindung kecuali kepada-Mu”.
0 comments:
Post a Comment