Tuesday, February 12, 2013

Hidup bersih



Tahun 2000 saya pernah kedatangan tamu dari Taiwan. Dia minta saya mengantarnya berkeliling Jakarta. Saya membayangkan bahwa dia ingin mendatangi Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah. Tapi ternyata dugaan saya salah. Dia ingin saya mengajaknya kedaerah perkampungan yang ada di Jakarta. Bukan daerah elite seperti Menteng atau Pondok Indah tapi daerah kumuh. Dia memperlihatkan foto yang didapatnya dari brosur UNDP.  Saya perhatikan photo itu ternyata kampung yang hendak dikunjunginya adalah pemukiman yang ada di Pinggiran Kali dan rel kereta api. Saya dapat maklum karena teman ini di Taiwan bekerja di kantor kepresidenan sebagai penasehat ahli dibidang kebijakan publik. Dia memang sosiolog dan juga budayawan, jadi tidak heran bila dia mengingikan wisata kampung kumuh di jakarta. Saya berkali kali mengingatkan dia untuk tidak menggunakan baju yang terkesan mahal atau menggunakan jam tangan mahal. Karena diwilayah kumuh ini, nyawa begitu murahnya bila menyangkut soal uang. Dia tersenyum karena dia telah mengetahui itu semua dari brosur yang dibacanya tentang kehidupan kumuh di jakarta yang miskin dan akrab dengan kejahatan, pelacuran. Makanya dia tampil sangat sederhana. Saya menjemputnya pagi pagi di hotel dan bergerak menuju kawasan kumuh.

Ternyata kunjungan itu tidak singkat. Pagi berangkat dan kembali ke hotel tengah malam. Kampung yang kami kunjungi hanya 1 daerah pinggiran kali dan satu lagi kampung pinggiran rel. Namun dari kunjungan yang bersahabat dan mencoba ramah disetiap warung tegal yang kami datangi, akhirya kami dijamu dengan ramah oleh salah satu penduduk di kampung  itu. Sehingga kami bisa melihat isi dan lingkungan didalam rumah.  Begitulah. Setelah sampai di hotel saya bertanya kepada teman itu apakah dia senang dengan kunjungan ini? Teman itu nampak berwajah murung. Ada kesedihan diraut wajahnya.  Dia terdiam lama dan akhirnya dia mengatakan bahwa dia tidak bisa mengerti ada kehidupan yang tidak tersentuh dengan budaya modern. Bagaimana mungkin orang bisa santai dan nyaman didalam rumah yang pengab dan berdebu. Lantai yang kotor dan selokan yang dibiarkan tersendat karena sampah yang dibuang semaunya. Toilet bersama namun airnya mengalir ketempat yang tersendat. Bayangkanlah aromanya, mereka membuang bakteri dari dalam tubuhnya dan kemudian dibuang untuk dibiarkan terbuka diselokan yang tergenang. Padahal semua agama mengajarkan hidup bersih.Tidak penting apakah rumah itu mewah atau tidak, Tidak penting apakah lingkungan itu mewah atau tidak. Yang penting adalah cara hidup yang bersih. Yang menyedihkan dalam komunitas yang ada dilingkungan kumuh itu adalah hilangnya sentuhan agama dalam kehidupan nyata dan keseharian mereka. 

Beberapa tahun kemudian setelah kunjungan  itu, Yayasan Buddha Tzu Chi berhasil membangun Rusun Cinta Kasih untuk menampung  mereka yang tinggal dipinggiran kali Angke. Tzu Chi bukan hanya menyediakan rumah layak huni dengan lingkungan yang bersih tapi juga membina masyarakat untuk berbudaya bersih. Para relawan tzu Chi dengan kesabaran memberikan contoh bagaimana menjaga kebersihan didalam rumah dan dilingkungan terdekat. Berjalannya waktu, mereka yang tadinya jauh dari budaya bersih kini telah berbudaya bersih. Tentu  para relawan Tzu Chi tidak memaksa mereka pindah agama dari islam ke budha. Tidak. Tapi ajaran budha tentang kebersihan, hidup rukun penuh kasih dalam keluarga dan tetangga, juga adalah nilai nilai yang diajarkan oleh Islam. Bagi mereka yang islam hal itu tidak asing. Hanya terasa berbeda penyampaiannya dibandingkan dengan ustadz yang lebih banyak berkata tentang sorga dan neraka. Para relaawan Tzu Chi tidak menyampaikannya lewat kata kata tapi keteladanan kasih sayang. Rumah yang layak, mereka sediakan dan kemudian mereka didik penghuni untuk bersyukur atas hidupnya dengan menjaga lingkungannya dengan bersih. Lingkungan yang bersih akan membuat badan sehat. Bila badan sehat maka jiwa akan kuat. Antara jiwa dan badan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Disamping itu, dengan cinta dan kasih, para relawan Tzu Chi juga menyediakan klnik berobat yang murah dan gratis bagi penghuni Rusun.

Pemerintah sejak zaman Soeharto dan hingga kini sudah punya program penyediaan rumah murah bagi rakyat yang tidak mampu. Ada Rumah susun sewa, adapula Rumah susun milik. Ada juga program rehap rumah, dan lain lain. Namun lingkungan kumuh semakin banyak , bahkan di Jakarta yang ada tepat didepan para Petinggi Negara belum terjangkau programnya. Memang begitulah birokrasi negara ini. Program baik dijalankan dengan tak baik. Tapi ditangan Jokowi-Ahok itu menjadi lain. Program baik harus dijalankan dengan baik. Seakan Jokowi mengikuti sabda Rasul “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik yang mencintai kebaikan, Mahabersih yang mencintai kebersihan. Oleh sebab itu, bersihkanlah halaman-halaman rumah kamu dan jangan menyerupai Yahudi." (HR Tirmidzi dan Abu Ya'la). Program unggulan Jokowi-Ahok salah satunya adalah membangun kampung yang  bersih ,lingkungan yang sehat, dan menghapus perkampungan kumuh pinggir kali dan rel menjadi daerah hijau untuk resapan air. Itu tugas pemerintah tapi masyarakat juga harus terlibat membantu program ini. Ini harus dijadikan gerakan spiritual sosial bagi umat islam dimana saja. Setidaknya berbuat seperti apa  yang telah dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi, membina umat ( bukan hanya ceramah) tapi juga memberikan rumah layak tinggal bagi mereka yang duafa. Saat semua orang mengembangkan cinta kasih lewat zakat, infak, sadaqah dan mengumpulkan kekuatan ini bersama-sama maka akan terhimpun dana yang sangat besar untuk program rumah bagi kaum duafa. Yakinlah karena Allah mencintai kebaikan dan kebersihan maka upaya itu pasti akan dimudahkan oleh Allah...

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hidup bersih

0 comments:

Post a Comment