Friday, November 30, 2012

Memberi...


Lima belas tahun bukanlah waktu yang sebentar  ya kan. Apalagi waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Itu lebih dari cukup. Dia mengenal semua hal tentang Dewi. Kenal betul. Ketika marah, ketika manja, ketika kesel dan ketika mengerang bahagia. Apalagi setiap pagi yang pertama dia lihat adalah wajah Dewi. Tubuh Dewi. Semua hal tentang Dewi hapal diluar kepalanya. Kadang ketika dia sedang sibuk dikantor, tanpa melihat photo dewi, dia bisa dengan cepat tahu apa yang sedang dikerjakan oleh Dewi dirumah. Pasti Dewi sedang sibuk dengan anak anaknya. Hari ini waktu less music untuk si Sulung. Sorenya mampir kerumah ibu untuk ikut arisan keluarga. Lima belas tahun waktu berlalu, lima belas tahun dalam kebahagiaan. Dia tidak pernah bertengkar serius dengan Dewi, kecuali hanya sekedarnya saja. Setelah itu akan mesra kembali. Dewi pun tak pernah menuntut banyak namun dia berusaha member apapun yang membuat Dewi bahagia. Rumah ukuran minimalis untuk empat kamar termasuk pembantu. Lingkungan berkelas dikawasan real estate. Kendaraan yang berkilau. ATM yang selalu terisi penuh. Credit card yang selalu honorable. Semua pemberian itu membuat dia bahagia. Karena begitulah caranya mencintai Dewi, mencintai Istrinya, ibu dari anak anaknya.

Dulu dia berkarir sebagai Dosen. Hari hari yang begitu melelahkan tanaga dan perasaan. Namun penghasilan tidak mencukupi untuk sekedar membuat Dewi tidak dikucilkan oleh keluarga besarnya yang sebagian besar adalah pengusaha. Dia senang dengan profesinya namun dia tidak puas dengan hasil yang didapatnya. Seharusnya istrinya yang cantik dan terlahir dari keluarga terhormat, pantas mendapatkan lebih.  Seakan Dewi bisa membaca pikiran dan perasaannya. Bahwa dia tidak nyaman dengan pekerjaannya. Dewi pula yang menguatkan dirinya untuk terjun dalam dunia business sebagai consultant. Dewi tidak khawatir dengan penghasilan tetap yang akan hilang. Bagi Dewi bukan soal penghasilan tapi bagaimana hidup dalam dilalui oleh suaminya dengan nyaman.  Hidup bukan soal apa yang bisa didapat tapi apa yang bisa menyamankan. Bukankah hidup ini singkat. Alangkah meruginya bila harus menderita untuk pilihan yang tidak nyaman. Berkat dukungan Dewi, dia bisa merintis usahanya dan akhirnya berkembang. Dia sukses dalam business dan tentu sukses memanjakan Dewi. Semua hal tentang Dewi adalah karunia yang tak pernah habis dia syukuri.

‘ Yah,  mau mandi dulu atau istirahat diteras sambil minum teh “ Tanya Dewi kepadanya ketika dia sampai dirumah. Ini lagi kebiasaan yang tak pernah lekang.

“ Aku mau mandi. Sholat dan minum teh diteras. “

Dewi tersenyum indah sambil melangkah ke daput menyiapkan the kesukaannya.

Sore itu udara begitu sejuknya. Hujan telah lama berhenti. Dedaunan dari pohon akar yang menjalar diteras rumahnya masih nampak basah. Di tetapnya kehijauan disekelilingnya. Dia tersenyum ketika Dewi dating dengan teko teh dan cangkir. Dengan diiringi senyum, Dewi menuangkan teh kedalam cangkir. Dalam beberapa saat dia menengguk teh itu. Terasa nikmat sekali. Apalagi Dewi ada disampingnya. Kebersamaan seperti inilah yang membuat dia merasa hidup begitu sempurnanya.

“ Yah…” seru Dewi

Dia menoleh kesamping. Nampak Dewi tersenyum namun ada sesuatu diwajahnya yang membuat dia bertanya “ ada apa ?

“ Maukah ayah memberikan sesuatu untuk kebahagiaanku”

“ Tentu. Semua kerja kerasku adalah untuk bunda. Apalagi yang kurang? Katakana!”

“ Ceraikan aku ? Kata Dewi dengan mantap.

Dia segera mengarahkan korsi kearah Dewi. “ Bunda, becanda, kan. Engga serius kan. “

“ Bunda serius!

“ Jangan keterlaluan becanda, bun. Cerai itu kalimat yang sangat dibenci Allah namun dimaklumi. Yang lain aja becanda nya. “

“ Aku serius! “ Kini Dewi tidak lagi menyebut dirinya Bunda tapi aku. Ini sudah front, AKu disini, Kamu disana.

Dia terdiam. Seakan tidak mempercayai kalimat yang beru saja dia dengar.

“ Apa salahku?

“ TIdak ada yang salah dari Ayah. Semua sempurna.”

“ Lantas, mengapa ?

“ Aku mohon agar Ayah ikhlas menceraikan aku..”

“ Bagaimana dengan anak anak ?

“ AKu yang akan mengurusnya.”

Dia terdiam lama. Diusapnya rambutnya. Kemudian berkali kali diusapnya wajahnya. Hanya untuk memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.

“Lima belas tahun kita berumah tangga. Tidak ada yang salah. Semua begitu indahnya. Lantas kini semua hilang begitu saja. Ada apa sebetulnya? Tolong jelaskan kepadaku.” Katanya sambil menggeleng gelengkan kepala dihadapan Dewi.

“ Lima belas tahun, aku tidak pernah mencintai Ayah. TIdak pernah. Lima belas tahun aku berusaha untuk mencintai Ayah namun tidak pernah berhasil. Maafkan aku.”

“ Jadi..apa arti lima belas tahun kebersamaan kita. Apa arti kedua anak kita ? Apa arti semua yang ada kita punya kini ? apa arti kerja kerasku selama ini ? Apa!

“ Itu semua berarti untuk Ayah. Karena itulah yang ayah inginkan. Lima belas tahun aku telah berkorban untuk memberi kebahagiaan yang pantas Ayah terima. KIni berilah aku kekuatan untuk menentukan pilihanku sendiri dalam usia menjalang 40 ini. “

***

“ Ayah, bunda sakit. Ayah bantu bunda” terdengar telp dari Putri sulungnya.

Dia bersegera meluncur kerumah Dewi,mantan istrinya. Dewi terpaksa menyewa rumah karena rumah yang diberinya telah terjual untuk modal suaminya dan modal itu tidak berkembang. Kendaraan juga sudah terjual. Suaminya kini telah lebih setahun tidak pulang pulang. Selama itupula dia memberikan bantuan financial kepada Dewi. Tiga bulan setelah bercerai, Dewi menikah dengan Beni. Dia tahu bahwa Beni adalah kekasih Dewi sebelum menikah dengannya. Dia juga tahu bahwa cinta pertama Dewi kepada Beni. Hanya karena situasional hingga dia berhasil merebut Dewi dari Beni. Dia tidak menyesali perceraian itu bila akhirnya Dewi menikah dengan pria yang benar benar dicintainya. Itu lebih baik untuk Dewi. Bagaimanapun baginya Dewi tetaplah ibu dari anak anaknya. Sahabatnya yang pernah memberikan kebahagiaan dalam hidupnya.

“ Bang,  maafkan aku karena selalu merepotkan abang selama ini”

“ Kamu tetaplah ibu dari anak anaku. Sudah kewajibanku untuk menjagamu. Walau secara batin kita tidak lagi bertaut namun secara lahir kamu tetaplah sahabatku. “

“ Suatu saat , Mas Bento akan pulang. AKu harus setia menantinya. Dia hanya kurang beruntung saja. “ Kata Dewi dengan tegar. Tak ada sedikitpun Dewi nampak kecewa dengan pilihan hidupnya. 
***

Pria itu datang kepadanya dengan wajah kuyu.
“ Saya tahu kamu punya hutang. Saya tidak mau mendengar cerita soal business  kamu yang kandas , Ben. Lunasi hutang itu. “ Dia membuka cek dan menyerahkan lembaran cek itu kepada Beni.
Pria itu menerima cek dengan air mata berlinang. “ Kamu sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Saya tadinya kawatir kamu akan marah dengan perceraian kamu tapi nyatanya kamu malah berbuat banyak untuk keluarga saya , untuk Dewi. “

“ Awalnya aku sempat kecewa dan marah tapi akhirnya aku sadar bahwa cinta didunia ini hanyalah permainan saja. Bukan soal apa yang kita miliki tapi apa yang bisa kita beri. Mengapa Dewi minta cerai dengan ku dan akhirnya memilih kamu sebagai suami, itu tak lain cobaan dari Allah kepadaku. Selama ini aku begitu mencintai Dewi lebih dari segala galanya tapi Allah mengujiku dengan kekuasaannya. Dewi pergi dariku membawa buah hatiku. Dan aku kembali kepada Allah. Semua kuterima dengan ikhlas. Semua mengajarkan kepadaku bahwa cinta abadi hanyalah untuk Allah, kepada manusia kita harus berbuat apa saja untuk memberi karena kasih sayang. Status hanyalah symbol namun hakikatnya adalah memberi karena Allah dan kembali kepada Allah…”

“ Terimakasih banyak, To” Kata Beni haru “ hatimu mulia sekali.”

“ Tolong bantuan ini jangan pernah Dewi tahu.”

Tiga bulan setelah dia melunasi hutang tersebut, Beni kembali kerumah untuk berkumpul dengan Dewi Dia pula yang memberikan pekerjaan untuk Beni di perusahaan temannya yang bergerak dibidang ekport import. Dia hanya berdoa semoga Dewi bahagia dengan pilihannya dan melewati sisa hidupnya dengan damai. Dia akan melewati sisa umurnya dengan ikhlas. Andaikan jodoh datang, akan dia terima, andaikan tidak, dia akan tetap terima dan mendapatkan hikmah dari itu.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Memberi...

0 comments:

Post a Comment