Monday, November 12, 2012

Demi sebuah janji...


Dituntunnya pria disampingnya menuju meja makan. Dipastikannya pria itu duduk dengan nyaman dan kemudian barulah dia duduk. Dengan tersenyum dia menatap saya dan mengatakan senang atas undangan makan malam ini. Saya sempat bingung siapakah pria yang dituntunnya itu ? seakan dia membaca pikirann saya,  dengan cepat dia memperkenalkan bahwa pria yang ada disampingnya adalah suaminya. Bagaimana mungkin ? bukankah setahun lalu saya mengenalnya belum menikah?. Secepat itukah dia menentukan pilihan. Dia menegaskan tanpa beban bahwa pria disampinya adalah suaminya. Bukan karena situasional tapi memang dia mencintai pria itu. Menurutnya mereka pacaran lebih dari 5 tahun dan pria itu berjanji akan menikahinya setelah selesai program pendidikan militernya. Namun apa hendak dikata, takdir berkata lain. Pria itu mengalami kecelakaan dalam latihan perang yang mengakibatkan matanya buta. Sebetulnya pria itu sudah memutuskan untuk tidak menikah karena kebutaannya namun dia berkeras untuk menerima pria itu tanpa peduli dengan kebutaannya.

Memang tidaklah mudah menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. Dia sadar itu. Bahwa hari hari kedepan akan dilaluinya dengan beban yang pasti. Seharusnya suami dipilihnya sebagai pelindungnya namun dengan kondisi kebutaan suaminya maka dialah yang harus menjadi pelindung. Dengan sabar dia memberikan semangat kepada suaminya untuk mengikuti program pelatihan kemandirian khusus untuk orang buta. Disamping itu dia memberikan rasa pecaya diri kepada suaminya. Dalam setiap pertemuan dengan relasinya atau keluarga besar, dia selalu membawa suaminya. Dia perkenalkan dengan senyum bahagia. Ya ini saya dapat rasakan ketika dia memperkenalkan suaminya. Dia tak nampak kecewa dengan pilihannya dan bangga akan itu. Yang membuat saya terpesona , menurutnya adalah bahwa cinta bukan soal apa yang kita dapat tapi apa yang bisa kita berikan. Ketika kita menerima cinta dan merasakan kehadirannya didalam hati maka tak ada kebahagiaan lain selain berbuat dan berbuat untuk cinta.

Dia bisa saja melupakan commitment nya dengan menggunakan akalnya bahwa dia pantas mendapatkan kebahagiaan dari pria yang sempurna. Bisa !. Tapi dia tidak gunakan akalnya untuk bersikap. Sesuatu yang terpatri didalam hatinya telah membuatnya menjadi orang yang rendah hati untuk menerima kenyataan. Memang , banyak orang ketika lapang dan kuat , begitu yakinnya mampu melewati cobaan namun cobaan itu selalu datang ketika kita sempit dan lemah. Kalaulah suaminya mengalami buta setelah menikah, itu saya dapat maklum. Kalaulah dia wanita disable , tentu saya bisa maklum. Tapi ini dia wanita normal , cantik ,  terdidik , berkarir bagus namun menentukan pilihan kepada pria untuk menjadi suaminya hanya karena untuk memenuhi commitment yang diikrarkan. Commitment tentang cinta. Dia tidak berharap apapun kepada suaminya namun dia mendapatkan kebahagiaan dari pilihannya itu.

Ujian terberat adalah yang berhubungan dengan dunia. Diceritakan dari Abu Hurairah RA, ia berkata “ Rasulullah SAW bersabda” siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, akan diberikan cobaan kepadanya ( HR Bukhari). Ya, kadang begitu banyak keinginan kita dunia ini namun yang terjadi , terjadilah. Allah maha tahu mengapa itu semua terjadi. Ini bukanlah antara kita dengan hidup kita tapi antara kita dengan Allah. Bagaimana kita bersikap atas hidup kita dan melewatinya dengan tetap berprasangka baik kepada Allah. Tugas kita didunia ini tak lain adalah bagaimana keimanan itu terlaksana dengan benar. Bila keimanan adalah satu prinsip maka kesabaran adalah caranya untuk melewati process itu semua.  Tak akan sempurna keimanan tanpa diuji ( Al Ankabut (29):2-3). Karenanya kesabaran adalah sebuah keniscayaan yang harus kita lakukan. Sebab tanpa sabar tak mungkin kita bisa melewatinya. Itulah sebabnya orang yang sabar adalah orang yang beruntung karena dia bisa mendapatkan hikmah dari segala peristiwa yang datang padanya dan membuat ia semakin dekat kepada Allah.

Ketika berpisah dengan teman itu, saya menguatkannya untuk sabar. Dia tersenyum dan mengatakan bahwa tak ada cara yang lebih baik untuk mendekatkan diri kepada Allah selain sabar. Cintailah segala sesuatu didunia hanya karena kita mencintai Allah. Usai pertemuan itu , saya sempat termenung. Baru saja saya menyaksikan bagaimana Allah mempertontonkan makna cinta dan sabar dihadapan saya. Di era kini banyak istri yang begitu mudah melecehkan suaminya ketika terkena PHK atau bangkrut, yang suami begitu saja pergi dengan wanita lain karena tak sabar terhadap istrinya. Kekasih yang pergi begitu saja tanpa peduli dengan janjinya hanya karena mendapatkan pilihan yang lebih baik. Ya , cinta memang agung dan memperjuangkannya juga dengan cara cara yang agung , yaitu lewat kesabaran. Mencintai Allah adalah sesuatu yang agung dan  tentu tidak hanya dengan kata kata tapi dengan perbuatan dan sikap yang agung pula, yaitu sabar dan ikhlas. 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Demi sebuah janji...

0 comments:

Post a Comment