Seorang pasien masuk kedalam ruangan rawat inap. Diman melirik kearah pasien itu. Usianya belum terlalu tua. Wajahnya nampak tidak terkesan sakit karena masih sempat tersenyum kearah Diman. Sudah hampir dua bulan Diman dirumah sakit Karena penyakit yang idapnya membuat dia tidak bisa berdiri dari tempat tidur. Awalnya dia ditempatkan diruangan VIP namun berjalannya waktu, dana terkuras dan dia harus pindah ke kelas 1 dan akhirnya masuk ruang inap kelas 2. Inilah nasip sebagai pedagang kecil yang tak punya jaminan asuransi. Uang tabungan dan modal yang tak seberapa berangsur ansur mendekati ludes. Benarlah, kata orang , bahwa dalam system kapitalis siapapun yang jatuh sakit maka harus siap di bangkrutkan oleh tagihan rumah sakit. DIa tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan. Itulah sampai ada pikiran bahwa dIa tidak berharap banyak akan kesembuhannya. Mungkin yang dia harap adalah kematian yang cepat.Itu lebih baik. Hopeless yang semakin membuat penyakitnya berkuasa atas dirinya menuju ajal menjemput.
Diliriknya pria yang ada disamping tidurnya yang berada di dekat jendela. Pria itu menoleh kesamping kearahnya. “ Apa penyakit bapak “
“ Dokter mengatakan bahwa saya terkena penyakit kanker getah bening. Bagaimana dengan bapak ?
“ Kepala saya sering pusing dan belum tahu penyakit yang sebenarnya. Masih menunggu hasil test. “ Kata pria itu.
“ Saya sudah lelah dan menderita dengan penyakit saya ini. Seharusnya Allah mencabut nyawa saya dan membiarkan keluarga saya tidak bersusah payah menanggung biaya rumah sakit” Kata Diman dengan wajah putus asa.
“ Bapak tidak boleh bersikap seperti itu. Allah memberi penyakit pasti ada obatnya. Dan lagi inilah cara Allah menguji kesabaran kita. Tentu ada hikmah dibalik penyekit yang kita idap sekarang.” Kata pria itu dengan lembut.
“ Entahlah Pak. Yang jelas saya sangat menderita…sangat?”
“ Sabar, ya Pak..”
Setiap habis makan siang Pria disamping Diman itu sholat diatas termpat tidur. Kemudian dia menatap kearah jendela. “ Pak ..” seru pria itu.
Budiman menoleh kearah pria itu” ya”
“ Itu nampak ada pria tua sedang menarik grobak dengan beban banyak. Pria itu rasanya tidak pantas harus menanggung beban itu. Tentu dia sangat menderita karena kemiskinan. Tapi lihatlah…” seru pria itu dengan mantap..
“ Ada apa , Pak “ tanya Diman.
“ Pria itu tersenyum kearah saya. Tak nampak dia menderita”
“ Oh ya.
“ Itulah Kekuasaan Allah. Ketika pria itu menderita secara phisik , Allah menguatkan jiwanya untuk melewati penderitaan., Hingga pria itu tak nampak rapuh melewati takdirnya. “
“ Ya, Pak, Saya sering lihat keadaan seperti itu. Sangat luar biasa. Begitu banyak kumpulan orang miskin secara materi namun mereka tetap kuat untuk melewati hari harinya yang tidak ramah.
Setelah itu mereka bersediam. Nampak oleh Diman , pria itu tertidur. Ketika Sholat ashar datang, Pria terbangun. Pria itu menunaikan sholat ashar sambil duduk. Diman memperhatikan pria itu dengan seksama. Usai pria itu sholat, Dokter datang keruangan untuk memeriksa mereka. Usai itu, pria itu kembali menatap keluar jendela. Ketika hujan mengguyur kota. Cuaca terasa dingin masuk lewat jendela yang ada didekat tempat tidur pria itu.
“ Pak..” seru pria itu.
“ Ya, pak “ Kata Diman sambil melirik kesamping. Nampak pria itu sedang memperhatikan sesuatu diluar jendela.
“ Bunga mawar itu begitu indahnya ditaman “
“ Oh ya pak.
“ Lihatlah, setiap tetes hujan yang mengenai mawar itu, nampak mawar itu seakan bernyawa. Gerakan teratur dari mawar itu akibat tetesan hujan yang teratur pula seakan keharmonian yang begitu sempurna. Seakan setiap anggukan mawar itu diterpa tetesan hujan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah. Bahwa tanpa air tidak akan ada kehidupan. Tidak akan ada keindahan kelopak mawar itu. Tidak akan ada aroma semerbak mawar itu. Tidak akan ada ungkapan lambang cinta. Maha suci Allah memberikan tanda tanda kebesaranya untuk kita mendapatkan hikmah bahwa hidup ini harus kita syukuri dalam keadaan apapun.
“ Ya Pak..” kata Diman sambil menghela napas. Dia merasa ada Sesuatu kesejukan masuk kedalam rongga dadanya. Kata kata pria itu begitu memberi inspirasi kepadanya untuk tidak lagi berkeluh kesah terhadap penyakitnya. Apapun yang dideritanya adalah keindahan pesan cinta dari Allah, untuk dia maklumi dalam kesabaran.
Pria itu nampak terdiam. Matanya seakan terpejam dengan kening berkerut. Apakah pria itu sedang merasakan sakit kepalanya. Diman tidak bisa berbuat banyak untuk membantu pria itu. Karena tubuhnya tak bisa lagi digerakan. Namun tak berselang lama, pria itu membuka matanya. Nampak pria itu tersenyum kearahnya. “ Tadi barusan Allah berdialogh dengan saya lewat sakit menyengat kepala saya. Berulang kali saya katakan kepada diri saya, Tuhan sedang berbicara kepada saya, diamlah barang sebentar. Biarkan saya menikmati setiap hentakan sengat yang menyakitkan ini sebagai melodi indah yang menentramkan jiwa saya. Benarlah, setiap rasa sakit menjadi kelembutan yang mengasyikan. Dan kini saya harus sholat maghrib untuk menyampaikan rasa terimakasih saya kepada Allah.” Pria itu nampak bertayamun. Sambil duduk , dia sholat.
Begitulah, hari demi hari terlewati dalam kebersamaan mereka didalam ruangan inap kelas 2 itu. Setiap hari ada saja cerita yang disampaikan pria itu terhadap sesuatu yang dilihatnya dari balik jendela. Setiap ungkapannya membuat Diman merasa bahagia akan deritanya. Membuat Diman berprasangka baik dengan penyakit yang diidapnya. Lambat namun pasti , badannya mulai nampak segar. Dokter mengatakan bahwa suatu keajaiban karena tubuhnya mulai menerima semua obat dan terapi yang diberikan. Tubuhnya mendekati kesembuhan. Setiap hari yang dibayangkan Diman adalah untuk berbuat sesuatu akan sisa umurnya bagi anak dan istrinya. Bila kelak dia mendapatkan harta berlebih dia akan tebarkan kepada orang lain untuk membagi kebahagian. Pria disampingnya itu telah menginspirasinya untuk lebih memahami makna kehidupan yang selama ini terlupakan olehnya.
Sehabis sholat Isya, dokter dan suster berdatang keruangnya. Nampak dokter memeriksa pria disampingnya dengan stetoskop. Diman mendengar suara dokter itu berkata kepada suster” Dia sudah meninggal. Dia sangat tenang menjemput ajalnya. Padahal kanker otak yang dideritanya sangat menyakitkan sampai membuat matanya buta. “
Diman terkejut ketika Dokter berkata bahwa pria itu buta. Bagaimana dia bicara bercerita banyak tentang sesuatu yang diliatnya dibalik jendela. Diman berkata kepada suster” Benarkah dia buta”
“ Benar, pak. “
“ Sejak kapan?
“ sejak dia masuk kerumah sakit ini.
“ Tapi” DIman nampak berkerut kening. “ Dia pandai sekali bercerita tentang segala yang dilihatnya dibalik jendela itu”
Suster itu menuntun Diman mengangkat tubuhnya untuk melihat apa dibalik jendela itu.” Tembok “ Serunya.
“ Ya, pak. Hanya tembok yang mengitari rumah sakit ini”
“ Tapi…” Diman nampak bingung.
“ saya acap mendengar Pria itu berbicara banyak hal tentang sesuatu dibalik jendela. Kadang saya tersenyum. Namun akhirnya saya tahu bahwa pria itu berhati mulia. Disisa hidupnya yang serba terbatas dengan penyakit yang dihidapnya, dia masih bisa memberikan kebahagian kepada orang lain lewat imajinasinya. Saya perhatikan betapa bapak terpengaruh besar akan kata katanya. Setiap hari nampak perubahan wajah bapak yang semakin tegar. Kesehatan bapakpun semakin membaik. Pria itu telah meneteskan sepenggal jiwanya untuk menguatkan bapak agar tetap tersenyum melewati kehidupan ini, walau sakit yang bapak rasa tak mudah disembuhkan.
Diman terhenyak. Lamunannya kepada kata kata pria itu yang tak mudah dia lupakan. Banyak hal yang bisa kita katakan dan perbuat yang mudah terlupakan namun setitik kebahagian kita berikan kepada orang lain, itu akan abadi. Karenanya meneteskan kebahagian kepada orang lain adalah latihan jiwa untuk semakin bercahaya menuju keharibaan Illahi dan selesai. Itulah sebaik baiknya kesudahan…

0 comments:
Post a Comment