Kejadian ini tiga tahun lalu. Seusai meeting pada acara breakfast dengan clients di Paninsula Hong Kong, saya bersegera menuju Airport untuk penerbangan jam 2 sore ke Bangkok. Rencana dari Bangkok , keesokan paginya saya akan ke Singapore untuk bertemu dengan mitra business. Selanjutnya pulang Jakarta. Itulah sebabnya walau kedatangan ke Airport lebih awal tak menjadi masalah bila saya harus menunggu 4 jam untuk take off. Saya menghabiskan waktu di ruang lounge executive airport. Setelah memilih tempat duduk yang nyaman, saya mengeluarkan notebook dari travelling bag saya. Sayapun mulai bekerja. Membaca dokumen business , membaca incoming email , membalas email. Setelah itu semua selesai, maka kebiasaan saya berikutnya adalah melakukan riset lewat berbagai news di media exclusive. Kesibukan seperti ini, empat jam bukanlah waktu yang lama. Karena tanpa terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Tiba-tiba seorang wanita duduk disamping saya. Sebelum duduk Ia membungkuk sedikit untuk meminta duduk disampingku. Saya lirik sekilas , mungkin wanita ini berasal dari Jepang atau Korea, atau China. Ah wajah mereka hampir semua sama. Semua sipit dan putih. Wanita itu memang cantik dengan tubuh langsing dan indah. Tapi dia tidak muda lagi.
Saya menangkap senyum wanita itu. Ia mencari sesuatu di tasnya, mengeluarkan handphone-nya, lalu memencet serangkaian nomor.
“ Bang, aku sudah di Bandara Hong Kong sekarang. Sebentar lagi terbang. “ Ah ternyata dia orang Indonesia. Ya memang banyak orang Indonesia keturunan yang wajahnya mirip orang china.
“ Kita harus selesaikan ini. Saya tak bisa terus lari dari kenyataan. “kata wanita itu lagi
“ Abang tak sama seperti awal saya bertemu. Semua berbeda. Saya merasa tidak punya suami. “ lanjut wanita itu dengan wajah nampak menahan tangis.
Wanita itu segera mengakhiri pembicaraan dengan memasukan Cellphone nya kedalam tas. Matanya memandang lurus kedepan dengan wajah keruh. Saya memperhatikan sekilas lewat wall glass dihadapan saya. Telp cellular saya bergetar dan bersegera saya menerimanya.
“ Papa , ada dimana ? terdengar suara putri bungsu saya diseberang.
“ DI bandara Hong Kong, sayang”
“ Mau kemana ?
“ Ke BangKok”
“ Kapan pulang?
“ Insya Allah, lusa papa udah dirumah. Sayang , gimana kuliahnya ?
“ Alhamdulillah ,lancar papa. Dah papa sayang…”
Saya selalu tersenyum bahagia bila menerima telp dari putri saya. Setiap hari dia selalu menelphone saya untuk sekedar menyapa dengan caranya yang hangat dan kadang manja. Tapi , putri saya tidak pernah meminta oleh oleh apapun untuk dibawa pulang. Kadang bila saya tanya, jawabannya hanya satu “ la, yang penting papa pulang , selamat. Itu oleh oleh terbaik untuk la “ Saya terharu. Dia bisa bersikap seperti itu karena kepiawaian istri saya mendidiknya, meyakinkannya tentang apa yang saya lakukan sebagai ayah,sebagai suami. Semua anak anak saya dapat memaklumi saya dengan kurangnya waktu kebersamaan dengan mereka.
Nampak wanita itu tersenyum kearah saya. “ Bapak dinas di Hong Kong “ Tanyanya.
“ Ya. Saya punya bisnis di China dan Hong Kong.
“ Sudah berapa lama ?
“ Sudah hampir 10 tahun.”
“ Keluarganya ikut “
“ Tidak.”
“ Jadi?
“ Ya begitulah..”
“ Mengapa tidak berkumpul sama sama di Hong Kong”
“ Masalahnya keluarga saya lebih suka tinggal di Indonesia. Dan lagi saya tidak selalu di Hong Kong. Banyak travellng ke Negara lain. Tapi setiap ada kesempatan saya usahakan pulang ke Jakarta.
“ Tadi anaknya, ya pak “ tanya nya
“ eh, Ya. Putri bungsu saya. “
“ Udah berupa umurnya “
“ 19 tahun. Baru tahun pertama kuliah.
“ Oh..” Wanita itu tersenyum lagi. “ Nampak akrab sekali” Sambungnya.
“ Ya, dia memang manja dengan saya. Setiap hari dia selalu telp saya. “
“ Setiap hari “ ? serunya.
“ Ya.”
“ Gimana dengan kakaknya ?
“ Ya jarang telp tapi kalau ada hal yang penting dia akan telp saya.”
“ Bagaimana dengan istri bapak ?
“ TIdak begitu sering telp. Hanya kalau ada hal penting dia akan telp. “
Wanita itu nampak terdiam. Namun saya menangkap dia sedang berdialogh dengan dirinya sendiri.l Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Saya mendiamkan sambil melihat news di notebook saya.
“ Maaf, pak. Bagaimana istri bapak bisa menyikapi hidup yang sering ditinggal pergi oleh bapak?
Saya tersenyum. “ ya biasa saja”
“ Maksud saya. Kan waktu bapak lebih banyak di luar negeri. Apakah istri bapak tidak cemburu?. Apakah istri bapak tidak kesepian?. Apakah istri bapak tidak kecewa dengan jarangnya bapak dirumah…”
Saya melirik kesamping. Nampak wanita itu bertanya dengan serius.
“ Dalam hidup ini tidak selama keinginan kita terpenuhi. Banyak orang berkecukupan secara materi tapi tidak cukup waktu untuk kebersamaan. Ada juga begitu banyak orang kekurangan materi tapi berlebihan dengan waktu untuk kebersamaan. Kadang ada juga waktu kurang, materi juga kurang. Semua itu , bukan untuk dipermasalahkan. Karena itulah hidup. Kita hanya bertugas melewatinya dengan ikhlas dan sabar. Istri saya sedari awal menyadari takdirnya bersuamikan pengusaha. Dia sadar hidup saya tidak dilewati denga rutinitas. Keseharian saya harus berhadapan dengan ketidak pastian dan harus mengelolanya dengan baik.
“ Mengapa istri bapak bisa menerima takdirnya dengan lapang dada.
“ Ya karena dia percaya kepada Tuhan. Ini sudah ketetapan Tuhan. Semua kita tidak bisa lari dari ketetapan Tuhan. Mengapa dia menjadi istri saya? Mengapa dia harus menerima kenyataan jauh dari saya. Itu semua disadari sebagai sebuah takdir dan menerimanya dengan ikhlas.”
“ Mengapa sampai bisa bersikap seperti itu “
Aku tersenyum sambil menghela nafas dan melirik kearah wanita itu. “ Ketahuilah oleh kamu bahwa cinta itu walau dalam keadaan teracuhkan, kamu tetap memperhatikannya. Walau dalam keadaan sedih kamu tetap tersenyum. Walau bersejauh kamu tetap mengingatnya. Walau air mata harus jatuh kamu tetap tidak membencinya. Karena cinta membuat kamu selalu berpikir bagaimana dia selalu bahagia bersamamu dan memafkannya untuk mengerti. Memakluminya untuk memperbaiki dan mengingatkannya dengan sabar. Itulah kekuatan cinta yang seharusnya membingkai hati mu untuk memberi dan menerima dengan lapang dada untuk orang orang terdekatmu, suami kamu, anak anakmu…"
“ Ya aku bisa paham sekarang. Bagaimana bisa memahami cinta seperti itu?. Apalagi didunia seperti sekarang ini ?“
“ Rasakanlah detak jantungmu. Apakah kau bisa merasakan detak yang teratur itu? Itulah tanda tanda kehidupan. Mungkinkah itu bisa datang dengan sendirinya tanpa kehadiran cinta? Bayangkanlah dari detak jantung itu bergetar , kita bisa melihat indahnya dunia dengan mata, bisa merasakan sentuhan , bisa mendengar suara music yang indah dan bisa merasakan aroma semerbak bunga ditaman. Bayangkanlah bila itu tidak ada ? tapi mengapa ada ? karena cinta dari Allah kepada kita, yang selalu memberi kita. Selalu setiap detik kehidupan tanpa henti.
" Oh, very touching. Nice word" Nampak mata sipit wanita itu berlinang. Kembali wanita itu bersediam agak lama. Mungkin dia sedang berpikir atau apalah. Wanita itu mengambil cellphone dari dalam tasnya. “ Ya, Bang. Maafkan aku. Aku janji akan memaklumi Abang. Menerima keadaan Abang. Aku yang salah. Aku terlalu mementingkan ego untuk mendapatkan seperti apa yang aku mau. Padahal seharusnya aku memberi yang terbaik yang bisa aku berikan sebagaimana besarnya cintaku pada Abang, pada anak anak. “
Aku mendengar wanita itu berbicara dengan suara tertahan menahan tangis sesal. Dia melirik kearahku setelah selesai berbicara lewat telephone “ Suamiku juga pengusaha. Selalu sibuk dan kurang waktu untuk kebersamaan, sama seperti bapak." Katanya sambil tersenyum dan mengangguk halus..

0 comments:
Post a Comment