Sunday, July 15, 2012

Pilihan...


Senja telah datang. Diupuk warna merah mulai nampak. Sedih , entah apa yang dirasa. ketika rasa lapar mulai menyerang. Kalaulah puasa karena waktu maka ini karena kemiskinan ,. Dua tubuh terlentang dibale bale reot.. Di luar sana ada ribuan hektar kebun dari juragan besar tempat mereka menggantungkan hidup. Kuli bukanlah pilihan hidup tapi dinegeri ini banyak hal yang sulit dipahami kecuali menerima pasrah. Tak ada gunanya bertanya mengapa bila upah buruh kebun pun harus dipenggal. Katanya harga sawit terus terun hingga juragan kebun harus turunkan upah. “Kemana penghasilan berlebih selama ini”. Begitu teriak Berjo kepada temannya. Mereka bingung kenapa pula Berjo dapat bicara seperti orang kota. Bertanya adalah telalu sok pintar bagi kuli. Apalagi mau berontak segala.

Berjo tiduran disamping anaknya yang masih belia, memejamkan mata seakan mencari ilham penghilang lapar.

Suara bu Mina mulai meninggi

“ Apa yang harus kita masak. Kamu janji sore ini upah akan dibagi. Mana ?Aku bosan terus menunggu. Sebentar lagi maghrib datang. Kita masih saja harus menunggu. “

Anaknya membukakan mata. Tapi Berjo tetap memicingkan mata , ketika anaknya berkata “ ya mbok. Kita tunggu mandor datang kerumah untuk antar upah mingguan.
"Tidak ada lagi antrian didepan loket. “ Berjo menimpali dengan mata tertutup.

“ Kenapa ? heh ! “

“ Katanya upah diturunkan “ Kata Berjo.

“ Lantas itu orang kantoran endak berani bicara terus terang ?

“ Bukannya engga berani. Mereka engga ada waktu dengar keluhan “

“ Jadi , sampai kapan kita harus menunggu ???

Berjoi membukakan mata dan langsung berdiri , berkata

“’ Aku harus sholat maghrib. !

“ Akang masih ingat sholat ?

“ Tentu!

“ Untuk apalagi sholat ?

“Kamu bicara apa sih ? “ Berjo mulai meninggikan suara “ Sholat ya sholat. Emangnya kamu yang malas sholat “

Wanita itu tak mau lagi berdebat. Baginya, suaminya mulai membosankan. Walau dia merasakan kerinduan dari gusti Allah. Tapi dengan beban berat yang ada, dia mulai merasa sholat memang pekerjaan yang membosankan.

Wanita itu berkata “ nduk “ Serunya kepada anaknya “ kamu endak perlu sholat di musholla.. Itu ada orang putih yang buat gereja diujung kampung yang kasih beras untuk kita makan. Pergi kesana lebih baik daripada ikut ayahmu sholat.”

“ Terserah kalian lah. Aku pentingnya sholat. Titik “Kata Berjo yang melihat istrinya mulai dengan kebiasaannya untuk meminta.

“Mbok, kenapa kita harus meminta kepada orang putih itu? “ Sang anak mencoba bertanya dengan lembut.

“Ah kamu endak perlu tanya. Kita perlu makan hari ini. “

Anak itu berlalu. Tak ingin berkata panjang kepada ibunya. Seperti biasa dia mulai duduk didepan teras gereja. Sama seperti orang orang yang didesa ini. Mereka tak berani menuntut upah dibayar tepat waktu. Karena ada tempat lain untuk meminta. Walau itu sebuah gereja.

Usai maghrib , anaknya membawa beras kerumah“ Tuh kan, kita dapatkan beras. Aku bisa menanak nasi. Apa salahnya orang putih itu. Mereka endak suruh kita masuk agamanya. Mereka hanya datang untuk memberi. “

“ Aku tetap tidak setuju. “ Kata Berjo

“:Ya tapi kenapa kamu terus mau makan dari pemberian mereka. ?

“ Ya karena kamu yang masak. !

“ Apa bedanya” kata istrinya sengit.

Berjo selalu kalah bila harus berdebat dengan istrinya. Sudah kalah sebelum berbicara. Memang lapar selalu teratasi oleh gereja yang ada diujung jalan kampung. Sementara teman temannya merasakan hal yang sama. Ketika usai sholat berjamaah , diapun bertanya apakah zikir yang dilakukan oleh teman temannya di mushola ini khusu?. Karena dia sendiri mulai merasakan kehilangan kata kata untuk berdoa. Zikirpun kehilangan makna dilafalkan bila ingat kata kata istrinya “ Tapi kenapa kamu terus makan dari pemberian mereka”.

Dia bertanya dan malu bila Allah menjawab” bukankah kamu telah berjanji bahwa hidupku, sholatku, ibadahku, matiku hanya untuk Allah.” Kemudian Allah bicara lagi “ Bukankah kamu sendiri yang berjanji bahwa “ hanya kepadaMu aku menyembah dan kepada Mu meminta tolong. “ Tapi mengapa kamu justru meminta tolong kepada orang kafir itu. Kamu percaya kepadaKu tapi ragu akan pertolonganKu. Hingga kamu lebih memilih pertolongan orang lain. Itulah yang membuat dia semakin malu untuk berdoa apalagi berzikir. Dia tetap sholat , sujudnya lebih kepada malu kepada Allah. Takbirnya lebih ketakutan kepada Allah. Duduknya lebih kepada risih kepada Allah. Salamnya lebih kepada kehinaan dihadapan Allah. Dari semua itu rasa malu lebih menyakitkan.

Ketika tengah malam. Dia terjaga untuk sholat tahajud. Walau berat karena malu kepada Allah tapi dia tak bisa lari dari keinginan untuk sholat. Matanya melirik kearah istrinya yang lelap dalam tidurnya..Yang bibirnya semakin lebar karena tak henti berceloteh merendahkannya. Usai sholat, diapun bersegera tidur. Sebelum tidur dia berdoa “ Ya Allah , malu ku karena kegagalanku melaksanakan amanah terindah dari mu untuk menafkahi anak istriku. Andai mereka semua mati kelaparan itu tak akan membuatku malu dihadapanMu. Tapi kemiskinan ini telah membuat mereka lari dari Mu. Pantaskah aku yang lemah ini terus bertakbir , memuji kebesaranMu, pantaskah aku mengesakanMu. Pantaskah aku berharap hanya padaMu. “ Doanya berakhir dengan airmata berurai. Lafas doa dengan kata kata tak lagi mampu terungkapkan.

***

“Berjo” terdengar suara halus menyerunya. Tak jelas dari mana sumbernya. Tapi dia mendengar suara itu dengan jelas. Berusaha dia melihat kekiri dan kekanan, juga keatas untuk mencari sumber suara itu “ Tak penting dari mana aku berbicara. Dengar sajalah. “ Suara itu kembali terdengar jelas ditelinganya.

Didepannya terdapat hamparan warna hijau. Semua sama. Tak ada warna warni. “ Inilah kehidupan sesungguhnya. Yang kamu lihat sekarang adalah apa yang Allah lihat. Sebetulnya hidup itu tak ada warna apalagi kelas. Kalau ada warna , maka mata menggambarnya apa yang dipikirkan oleh akalmu. Matamu melihat apa yang diinginkan oleh nafsumu. Tak lebih. “

Kemudian hening. Berjo memilih duduk dalam keadaan bersila. ‘ Berjo “ Kembali suara itu terdengar “ Rasa malu itu adalah pakaian iman. Ujud pengakuan keberadaan Allah dengan rendah hati. Malu kepada Allah adalah ujud dari Takbir sesungguhnya. Malu adalah ujud sujud sesungguhnya kepada Allah. Malu adalah ujud salam sesungguhnya kepada alam semesta. Airmata malu kepada Allah adalah meninggikan Allah itu sendiri.”

“ Mengapa “ Kata Berjo.

“ Kita berurai airmata takut kepada Allah karena ancaman hukumannya. Allah bukan penghukum. Kasihnya mendahului amarahnya. Kita berurai airmata memuji Allah. Allah tak bertambah kekuasaannya karena kekuasaanya tak terbatas. Kita berurai air mata meminta pertolongan Allah, Allah itu maha pengurus.”

“ Kini banyak manusia mengenal takut kepada Allah, mengenal kebesaran Allah, mengenal pertolongan Allah. Karena itu mereka sholat dan menyembah Allah. Padahal mereka mengucapkan takbir pada Allah tapi kesehariannya memuja materi dan kehormatan dihadapan orang lain. Mereka sujud kepada Allah tapi setelah itu mereka sujud kepada uang dan kemaksiatan. Mereka mengucapkan salam tapi setiap hari menindas mereka yang lemah. Tak ada rasa malu sama sekali. Antara penyembahan dan perbuatan berseberangan. Sedikit sekali manusia yang mempunyai rasa malu kepada Allah.”

“ Saya malu karena tak bisa melaksanakan fungsi saya sebagai suami dan kepala keluarga.” Kata Berjo

“ Tak ada kewajiban manusia untuk menuntaskan tanggung jawabnya kecuali melaksanakannya dengan sungguh sungguh dan ikhlas. Kamu telah berusaha dengan cara mu untuk bertanggung jawab tapi ada segelintir manusia rakus yang telah menzolimi kamu. Itu sudah menjadi urusan Allah untuk menyelesaikannya. Tapi rasa maluMu kepada Allah adalah doa tertinggi untuk diterima Allah sebagai ujud kasih sayangnnya. “

“ Saya malu meminta kepada Allah karena sayapun makan dari pemberian orang kafir. Saya malu…” Kata Berjo lagi.

“ Mereka memberi karena niat untuk untuk merubah iman orang lain. Soal akhidah itu hak Allah. Tak usah kawatir. Walau banyak uang ditebar untuk merubah iman dan kecintaan orang kepada Allah , Allah tetap tak akan merasa berkurang sedikitpun kekuasaanNya. Pemberian dari mereka tak ada salahnya kamu makan. Apalagi pemberian mereka justru membuat nilai kecintaanmu kepada allah semakin tinggi seiring dengan munculnya rasa malu itu. “

“Berjo “ Seru suara itu “ Andaikan dimuka bumi semua orang punya rasa malu kepada Allah , maka takbir mereka akan membuat seluruh alam bersujud kepada mereka. Ruku mereka akan membuat seluruh alam semesta menebarkan nikmat kepada mereka. Salam mereka akan menebarkan kasih sayang bagi semua orang. “

“ Jadi, bila sekarang Alam mulai marah. Bila kehidupan tak lagi nyaman, Bila bangsa dan negara tak berhenti dirudung krisis, bila penyakit semakin banyak bermunculan yang tak ada obatnya. Semua itu bukanlah murka dan kehendak Allah tapi semua karena rasa malu itu sudah tidak ada lagi dihadapan Allah. Manusia lebih sama dengan binatang yang dengan mulut terbuka, air liur menetes, tak berbusana, cakar yang ganas menerkam siapa yang lemah, suara yang menakutkan untuk memaksa orang, siul yang indah untuk menggoda. Sayap yang lebar untuk terbang melangkahi yang dibawah..Mereka bukanlah manusia dalam pengertian yang Allah ciptakan. Bahkan mereka lebih hina dibandingkan binatang. “

“Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku bodoh , lemah, miskin ?

“ Selamatkan istri dan anakmu dari budaya meminta itu. Hijrahlah ketempat lain dengan berbekal rasa malu kepada Allah. Maka tunggulah pertolongan Allah dan jangan berputus asa. Teruslah bersyariat dengan keyakinan malu kepada Allah. “

Berjo tertunduk dalam duduk bersila. Suara itu tak terdengar lagi. Kemudian sayup sayup terdengar suara azan mengumandang. Dia tersentak dari tidurnya. Ditatapnya kesekeliling ruangan. Masih nampak istrinya tertidur pulas. Diapun berdiri , untuk sholat dengan rasa malu yang menggayut. Setidaknya dia sudah berbulat hati untuk hijrah ketempat lain untuk mencari kehidupan baru.

“ Kamana Pak, ? tanya Istrinya.,

“ Kesuatu tempat dibumi Allah. “ jawabnya singkat.

“ ya , dimana ?”

“ Kemana saja , yang penting tidak disini. “

“ Dulu kamu ajak aku kesini karena dikampung kita di jawa hidup kita susah. Tapi sekrang setelah sampai disini,walau kita susah tapi ada pertolongan dari orang putih yang punya gereja, eh malah kamu mau pergi dari sini. Mana adalagi tempat yang bisa mendapatkan pertolongan dengan mudah kecuali disini.”

“ Mau ikut aku engga “ Ajak Berjo. sama seperti Nabi Nuh keita mengajak istrinya untuk naik kekapal agar terhindar dari becana air bah, tapi istrinya menolak

“ Engga..”

“ Ya , sudah. Selamat tinggal. “ Berjo melangkah pergi.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pilihan...

0 comments:

Post a Comment