Wednesday, May 9, 2012

Sesal


Wanita yang dinantinya  tak juga datang sebagaimana janji sebelumnya. Sudah lebih  satu  jam terlambat. Ia mulai paranoia dengan keadaan ini. Mungkinkah Muktar sahabatnya berbohong kepadanya. Atau hanya sekedar mempermainkannya. Tapi melihat pertemuan kemarin dalam acara ulang tahun sahabatnya, dia yakin sekali bahwa  wanita itu menyukainya. Itu terlihat dari pancaran matanya. Juga wanita itu sendiri yang berjanji untuk bertemu kembali. Karena itulah pertemuan ini diadakan , untuk berdua saja menikmati senja menjelang malam di dermaga yang membawa irama angin senja. Tentu remontis. Itujuga kehendak dari wanita itu. Ia senang , namun kini dia mulai paranoia. Mungkinkah ini hanya sekedar permainan sesaat dari kata kata yang berlompat dari suasana pesta dansa. Benarlah, lewat dua jam, wanita itu  tak juga datang. Doni melangkah keluar dari dermaga itu bersama hembusan lembut angin malam.

Keesokannya Wanita itu datang kekamar Kosnya. Ketika pintu kamar tersibak, Wanita itu tanpa canggung menghempaskan tubuhnya ditempat tidur sambil menatap langit langit kamar itu. Dia terdiam menyaksikan sikap wanita itu. Barang sejenak Wanita itu memejamkan matanya dan kemudian bangkit dari rebahannya dan melangkah mendekati meja dimana ia  duduk dalam kebingungan “ maafkan aku. Kemarin aku ada urusan dengan seseorang yang tak bisa kutinggalkan. Aku tahu kamu menungguku. Aku juga tahu kamu kecewa. Maafkan aku.”

Wanita itu bicara tentang “seseorang”. Dia  berkerut kening. Siapa seseorang itu sehingga Wanita itu  begitu mudahnya melupakan janjinya. Tentu istimewa. Beberapa hari kemudian , akhirnya dia dapat bertemu kembali dengan wanita itu. Sejak pertemuan itu hubungan mereka semakin dekat.  Benih benih cinta semakin tumbuh subur. Mereka terasa tak ingin terpisahkan.

Suatu ketika…

“ Aku tahu dari Muktar kamu sedang menyusun tugas akhir. Sebentar lagi kamu akan jadi sarjana. Hebat. Apa rencana kamu setelah lulus” wanita itu mengambil tumpukan kertas  diatas meja dan membacanya dengan cepat.Tidak tahu apakah Wanita itu  mengerti atau tidak apa yang ditulisnya. Namun dari pancaran wajah cukup menunjukan wanita itu mengaguminya. Wanita itu  tersenyum namun ada magnit yang membuat dia lupa bahwa dia sedang berhadapan dengan arung jeram yang berarus kuat, yang bisa menyeretnya dalam petualangan yang tak terbayangkan. Berusaha dia menahan dorongan magnit dari mata wanita itu. Semakin lama magnit itu sudah menyelimuti  semua  ruang kamar kosnya.. Berusaha dia mengalihkan pandangan mata dari wanita itu, semakin dia tersedot arus kencang. Maka yang terjadi  terjadilan. Benarlah ketika sampai diujung perjalanan , dia terhempas jatuh setelah berseluncur di air terjun dan akhirnya dia terkapar dikolam yang tenang..

“ Maafkan aku“  kata wanita itu dengan suara tertahan tangis. Disebelah kamar kos terdengar suara musik dengan lagu  A lovers concertos

Doni  beranjak dari tempat tidur itu dan melangkah kearah mejanya sambil mengisap sebatang rokok

Wanita itu mulai berwajah murung. Lagu itu yang terdengar sayup sayup membuat dia larut dalam lara. Karena harapannya akan sirna untuk dicintai dengan tulus.

“ Siapa pria yang telah mendahuluiku “ Tanya Doni dengan dahi berkerut

“Bukan urusanmu. Itu masalaluku.”

“ Mengapa kamu tidak terus terang sedari awal” Kata pria itu dengan suara agak meninggi.

“ Baiklah.  Apakah setelah ini kamu akan melupakanku. Kamu kecewa dengan keadaanku. Katakan kepadaku yang sejujurnya. Aku siap mendengar yang terburuk” kata wanita itu tanpa peduli dengan nada sesal dan kesal dari Doni.

Doni hanya diam. Wanita itu juga diam. Keliatannya wanita tak ingin lama  lama dengan suasana seperti itu. Dia mengenakan pakaiannya dan pergi tanpa menoleh , tanpa salam kepadanya. Pergi menembus malam pekat. Bagi Doni inilah akhir dari  pertemuan itu. Besok dan besok tentu tidak akan ada lagi wanita itu dihadapannya. Menyesalkah dia dengan peristiwa yang baru terjadi? Dia sendiri tidak tahu. Karena hidupnya masih dipenuhi banyak impian yang belum terjelma menjadi kenyataan. Melupakan wanita itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan yang lebih baik. Dan lagi , tentu bagi wanita itu hal seperti ini suda biasa dilakukannya.

***

Perempuan itu seperti bawang. Demikian yang diingat oleh wanita itu akan pituah bundanya. Tak sedap sayur tanpa bawang. Namun bawang itu hanya dilapisi oleh kulit yang sangat tipis. Bila lepas kulit bawang itu maka rusaklah bawang itu. Hanya butuh waktu sebentar , bawang itu akan busuk dan tak lagi berguna. Begitulah yang kini dialaminya. Dia merasa tak lagi berguna. Pertama dia bertemu pria dan setelah melepas kulitnya, pria itu berlalu. Dia hanya merasa bodoh dengan dirinya karena terlalu berharap dan akhirnya harapanpun sirna. Keduanya, dia bertemu dengan pria yang dikiranya mencintainya dengan sepenuh hati namun setelah tahu kulit tak lagi melekat pada bawang, aroma busukpun terasa. Pria itu tak lagi memandang hormat padanya selayaknya wanita terhormat. Dia sadar bahwa inilah hidupnya. Sebuah hukuman yang harus dia terima didunia akibat lalai menjaga selapis kulit. Bagaimana dengan pria yang telah melakukan kezoliman terhadap dirinya ? ah ini bukan soal kezoliman pria. Dialah yang zolim pada dirinya sendiri.

Waktu berlalu dan wanita itu tetap sendiri. Hanya saja dia tidak perlu harus berharap apapun kepada setiap pria. Kalau pria tempat berlindung untuk kebutuhan makan , dan rumah maka dia dapat mengadakannya. Kalau soal cinta, dia sudah mengubur itu dalam dalam. Dalam kesendirian dia tidak kesepian. Karena ada buah hati yang selalu membuat dia tidak sendirian dibumi Allah.Putrinya tumbuh dengan kecerdasan dan kecantikan yang menyenangkan hatinya. Diapun disibukan sebagai pengusaha. Dari awalnya usaha yang tak dilirik sebelah mata sebagai pedagang jamu namun akhirnya berkat kerja keras telah mengantarkannya sebagai pengusaha berkelas dunia. Kerja keras dan belajar keras dalam setiap putaran waktu membuatnya berkembang dan berkembang. Dia puas. Mitos pria bisa berbuat apa saja, ternyata juga berlaku untuk wanita.

Di Bandara International  mata mereka beradu pandang. Wanita itu tak bisa melupakan pria yang kini dihadapannya. Dia ingin segera berlalu namun langkahnya terhenti. Dia menoleh kebelakang  dan pria itu berkata 

“ Yun, kau kah itu ? 

“ Mas Doni ?

“ Ya, Aku Doni ”

pria itu berusaha membalut wajahnya dengan senyum ramah. Dihadapannya kini ada seorang wanita cantik berkelas. Tak nampak kesan wanita itu seperti dulu yang dia kenal. Penuh percaya diri.

“ Lama engga ketemu. Kemana aja ? Tanya Doni.

“ Aku merantau “

‘ Jauh ya merantaunya “

Wanita itu hanya tersenyum. Dia tak ingin menjelaskan kemana dia merantau. Dan apa pentingnya untuk bercerita kepada pria dihadapannya. Baginya pria itu adalah masa lalu.

“ Aku masih dikota kita dulu, jadi dosen. Dan kini sedang menyeleaikan studi S3 disini “ Kata Doni

“ Oh bagus. Kamu memang pintar. Sudah seharusnya begitu”

“ Ada apa kemari ?“

“ Ada urusan bisnis”

“ Oh ya” Bisnis apa  ?

“ Ya hanya sekedar bertahan hidup mencari nafkah..” kata wanita itu sekenanya

“ wah hebat kamu. Sudah jadi bisnis woman berkelas dunia ”

Wanita itu hanya tersenyum.

“ sudah berapa anak kamu ? 

“ Aku belum menikah.”

“ Mengapa ? Tanya wanita itu sambil mengerutkan kening

“ Jodohku belum sampai”

Terasa kikuk pertemuan sesaat itu dan wanita itu berusaha untuk keluar dari dialogh. AKhirnya merekapun berpisah begitu saja.

***

Ketika hujan turun rintik dibulan September. Wanita itu tak pernah bisa melupakan kota yang pernah menyimpan kelam masa lalunya. Dia berusaha tak ingin mengingat yang sudah lewat. Itulah sebabnya bila dia berkesempatan datang kekota ini, dia tidak pernah tinggal lebih dari satu malam. Begitulah 22 tahun berlalu sejak dia meninggalkan kota ini. Namun hatinya tetap sama pada kota ini: Dia merindukan sesuatu yang tak mungkin dapat digapainya. Ada sesal tersembunyi  dalam tangisan disetiap sholat nya. Berharap agar Allah mengampuni dosanya. Setiap terbayang akan dosa masa lalunya, terasa semakin takut dia untuk pulang keharibaan Allah. Namun semua telah terjadi dan dia harus hidup dalam sesal itu. Kini sebagai ibu  dia harus datang kekota ini dimana Putrinya sedang mengikuti pendidikan di perguruan tinggi. Kedatangannya di rumah putrinya, disambut dengan suka cinta.

“ Besok mama balik ke Jakarta. Pastikan malam ini mama ketemu dengan pacar kamu, ya sayang”

“ Ya, ma.” Kata putrinya dengan manja sambil mencium pipinya.

“ Apakah kamu mencintainya ?

“ Aku  tidak tahu ma. Tapi dia sangat baik dengan Yola. Suka membantu Yola, Bila melihat matanya, yola merasa tentram. Dia seperti pelindung yola , ma. ”

“ Semua pria baik namun akan menjadi lain bila keinginannya sudah didapat. Hati hati bergaul nak. Kita perempuan. Ingat , pesan mama , ya. Jangan tinggalka sholat. Karena hanya dengan sholat itulah kamu terhindar dari perbuatan munkar. “

“ ya ma”

Malamnya , dia masih tetap dikamar ketika deru mobil masuk kedalam pekarangan. Dia tahu bahwa yang datang itu adalah pria yang sudah dijanjikan bertemu dengannya. Pria itu adalah sahabat putrinya, yang mungkin kelak akan menjadi suami dan juga menantunya. Dia tetap didalam kamar sampai putrinya memintanya keluar untuk menemui pria itu.

“ Ma, ayo keluar.Kenalan dengan dia” kata putrinya sambil menarik tangannya.

Matanya beradu pandang dengan pria yang berdiri dihadapanya. Terasa jantungnya berdetak kencang dan matanya nanar. Namun dia berusaha menenangkan diri.

“ Doni…”

“ jadi,Yolanda adalah putri kamu “

“ Ya…”

Dan akhirnya dia tak bisa lagi menahan dirinya. Dia tak ingat apapun. Dia baru sadar ketika sudah dirumah sakit. Badannya terasa lemah namun keadaannya akan baik baik saja.

Disamping tempat tidurnya ada Doni yang nampak berwajah kawatir. 

“ Bisakah kita berbicara berdua saja “ katanya kepada Doni sambil melirik kearah putrinya. Putrinya dapat maklum dan keluar dari ruangan.

“ Mas, Yolanda adalah putri kamu”Airmata wanita itu mengambang ditubir matanya

“ Apa maksud kamu ? kata Doni dengan agak terkejut.

“ Ingat ketika kita bertemu 22 tahun lalu. Setelah itu aku hamil. Aku tahu didalam rahimku adalah bayimu. Aku tak ingin kembali kepadamu karena aku tahu kamu kecewa dengan keadaan ku, dengan masa laluku.  Apa yang kualami, itu adalah resiko sebagai pilihanku. Aku terima. Bertahun tahun aku membesarkan Yolanda dan aku tak pernah menyesal karena pertemuan kita.  Aku hanya menyesalkan dosa yang telah aku perbuat. Perbuatan Zina. Kubesarkan Yolanda dengan cinta dan pada waktu bersamaan aku tersungkur dalam sujud dihadapan Allah akan segala  segala dosaku. Aku tidak tahu apakah Allah akan mengampuni dosaku. “

Doni terdiam sambil menatap kearah wanita yang nampak lemah dihadapannya. Dia tahu betapa berat hidup yang dilalui wanita ini. Tak berharap banyak ketika cinta dia beri. Wanita itu tidak membencinya. Tidak pula menimpakan kekesalan kepadanya.

“ Kamu tahu, Yun, sejak perpisahan kita, aku selalu memikirkan kamu. Ada sesal tak bertepi akan apa yang telah aku perbuat denganmu. Aku merasa kotor dihadapan Allah. Lebih dari itu aku merasa rendah karena tidak ada keberanian untuk menemuimu kembali hanya karena alasan aku lebih mengutamakan karirku. Lebih mengharapkan kesempurnan dari wanita pilihanku. Aku memang egois. Itulah sebanya sejak itu , ruang hatiku dipenuhi oleh sesal dan tertutup untuk wanita lain. Aku tidak punya keberanian lagi untuk memulai. Apakah Allah akan menerima taubahku, entahlah ?

Doni terdiam. Namun dia tak bisa menahan airmatanya jatuh membasahi pipinya. “ Entah kenapa sejak pertama aku bertemu dengan Yolanda dikampus, ada dorongan besar dari dalam diriku untuk menyayanginya. Aku  terdorong untuk berusaha melindunginya. Itu saja. Ternyata Allah tak pernah tidur. Allah berbuat sesukanya. Walau aku tadinya tidak tahu siapa Yolanda sesungguhnya namun aku begitu menyayanginya. Ternyata, dia adalah putriku..”

“Masa lalu kita sangat buruk. Kita telah melewati waktu bertahun tahun dalam sesal akan dosa kita. Kini terserah Mas. Kalau mas percaya, terimalah Yolanda sebagai putri Mas, aku ikhlas. Tetapi bila Mas tidak percaya, lupakan saja dan jauhi dia, aku ikhlas, mas...”

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sesal

0 comments:

Post a Comment