Besok 20 Mei. Kita kembali akan memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pada kesempatan ini saya kirim email kepadamu. Saya tidak tahu mengapa saya harus curhat tentang Hari Kebangkitan Nasional. Mungkin karena jauh dari negeri tercinta membuat saya kadang mudah melankolis. Betapa tidak. Kenapa saya harus terlempar jauh di negeri orang. Padahal negeri saya adalah negeri yang dianugerahi Tuhan kekayaan alam yang melimpah. Berada di lintasan khatulistiwa dimana musim semi terjadi sepanjang tahun. Disini , ditempat dimana saya bersama teman teman harus meradang dingin ketika musim salju datang dan kepanasan ketika summer. Disini memang uang mudah didapat namun semuanya serba mahal. Sebanyak yang didapat sebanyak itupula yang keluar. Kami tidak bertambah kaya dengan penghasilan besar itu namun setidaknya kami bisa bertahan hidup dan terhormat dihadapan hukum negeri orang.
Menurut cerita sejarah DR. Sutomo dulu memimpn gerakan paham kebangsaan karena merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah colonial Belanda. Mereka terdidik baik dan mungkin lebih pintar serta rajin dibandingkan dengan orang balanda namun gaji mereka jauh lebih kecil. Merekapun tidak boleh berada ditempat terhormat. Naik kereta harus kelas ekonomi. Perlakuan ketidak adilan inilah membuat mereka merasa perlu bersatu. Untuk apa ? untuk sebuah impian bahwa bila tidak ada lagi penjajah maka tentu negeri ini akan menjadi milik mereka. Tentu mereka akan mendapatkan kehormatan itu semua. Butuh 37 tahun sejak tahun 1908 , untuk menjadikan impian itu sebuah kenyataan. Pada tahun 1945 kitapun merdeka. Kitapun bertekad untuk membela setiap jengkal tanah kita dengan segenap tumpah darah kita. Benarlah, setelah itu, darahpun tumpah dan tumpah.
Negeri ini menyimpan batu nisan terbanyak didunia. Juga batu nisan tanpa nama terbanyak didunia. Sebuah symbol mati yang menjadi saksi tentang tekad ditahun 1908. Mengapa harus ditebus dengan kematian ? mengapa harus rela dengan janji untuk membela dengan segenap tumpah darah ? jawabanya hanya inginkan perlakuan adil dalam sebuah rumah besar berama Indonesia. Tidak ada lagi orang asing yang berkuasa. Kita berkuasa terhadap diri kita sendiri dan kita mengurus diri kita sendiri. Seperti apa kita harus mengurus diri kita itu ? lewat budaya gotong royong. Semangat kebersamaan untuk berbuat karena cinta. Agama kita mengajarkan tentang CInta, Nenek moyang kita mengajarkan tentang kesetia kawanan social. Dan kita bersatu dari sabang hingga Marauke untuk menebarkan cinta dari sang Pemberi CInta, yaitu Allah. Kita bukan Negara religious namun kita juga bukan Negara secular. Karena dasar Negara kita berdasarkan undang undang adalah Ketuhanan..
Kini , setelah lebih setengah abad Indonesia merdeka. Setelah lebih satu abad semangat kebangsaan diikrarkan. Lihatlah nasip saya ini. Tak ubahnya dengan nasip para leluhur saya dulu. System yang ada dinegeri merdeka tak ubahnya dengan negeri dibawah jajahan. Hanya cara yang berbeda. System bekerja efektif memaksa kami secara psikis untuk menjadi jongos dinegeri orang, dan ada juga menjadi pelacur. Kalau dulu kepergian buruh ke luar negeri karena dipaksa secara phisik. Namun kini kami dipaksa secara psikis untuk pergi dari negeri sendiri. Dulu para kakek kita dipekerjakan keluar negeri membangun jalan dan dam di Holland. Menjadi buruh, diangkut dengan kapal laut. Para nenek dikirim ke luar negeri untuk jadi pelacur oleh jepang. Tapi kini , kami juga menjadi buruh di negeri orang. Memang tidak diangkut dengan kapal laut tapi dengan kapal udara...
Mungkin disadari atau tidak, sebetulnya kemerdekaan itu hanyalah jargon untuk tampilnya segelintir orang terlegitimasi dan dihormati untuk menjajah rakyat yang bodoh dan tolol. Tidak ada sesungguhnya kebangkitan nasional. Tidak ada! Kalaulah alasan kemerdekaan karena ingin mengusir penjajahan, nyatanya kini kita tetap bersama orang asing. Tak ada satupun kekayaan alam kita yang tidak dikangkangi oleh orang asing. Tidak ada kebijakan Negara yang lepas dari pengaruh asing. Tidak ada kehormatan Negara yang patut tanpa dukungan Negara asing. Dan kita sebagai rakyat tidak bisa marah , apalagi berkorban untuk segenap tumpah darah mengusir mereka yang asing itu. Bila kita marah, maka kita akan dicap anti globalisasi, teroris. Hanya satu hukuman untuk kita yaitu mati dihadapan hukum kita sendiri. Bukan orang asing.
Ternyata, sejarah kini mencatat “ nasip kita setelah merdeka jauh lebih buruk ketimbang nasip para leluhur kita yang dulu terjajah. Mengapa harus merdeka bila harus begini jadinya? Sebetulnya kemerdekaan Indonesia hanyalah adjustment politic orang asing untuk menjajah dalam bentuk lain , atau dalam bentuk euphoria kemerdekaan dan symbol namun substansi tetap terjajah. Ini cara smart dan lebih aman untuk kekal menjajah. Karena memang segelintir orang yang dipercaya untuk tampil memimpin oleh rakyat memang mudah dibeli iwanya oleh uang dan kekuasaan. Dan kelakuannya lebih buruk ketimbang asing. Kita menjadi korban akibat kebodohan yang dipelihara. Bukan salah bunda mengandung , buruk suratan tangan sendiri. Bukan salah Tuhan memberi kekayaan alam melimpah, buruk pilihan kepada pemimpin yang culas.

0 comments:
Post a Comment