Saturday, April 7, 2012

Pemerintah ?


“30  tahun lebih aku tidak bertemu dengan kamu” . Kata saya ketika bersua dengannya dalam satu kesempatan reuni SMP. Saya tidak mungkin melupakan teman satu ini. Dia yang saya kenal dulu ketika SMP , dimana kami sama sama terlahir dari keluarga miskin. KIni kami tidak lagi muda. Usia sudah mendekati kepala lima. Saya senang dia sehat walafiat. Tidak ada penyakit serius yang melekat pada tubuhya.  Sejak tamat SMA, dia langsung berkarir sebagai PNS.  Hidupnya sederhana namun semangat kepedulian kepada orang kecil sangat tinggi. Dia sadar sebagai PNS golongan rendah, tak ada impian yang berlebihan. Sebisanya dia melewati kesehariannya sebagai PNS dengan rendah hati. Sebisanya dia menghindari korupsi dalam bentuk apapun. Walau gajinya tidak seberapa namun selalu ada jalan rezeki dari tempat lain terbuka untuk menghidupi keluarganya. Yang penting halal. Katanya.

“ Apa yang kamu ketahui tentang pemerintah ? “ tanya nya

“ Bagi ku dulu ketika kecil , pemerintah adalah mereka yang berseragam dengan rambut tersisir rapi dengan dilapisi minyak tanco. Mereka pergi kerja dengan muka senyum penuh kebanggan bahwa mereka adalah segelintir orang yang patut dihormati. “

“ Tapi ketika kamu  melongok kedalam kantornya , melihatnya bekerja , maka tak ada kesibukan sesungguhnya seperti kantor ekspedisi atau redaksi yang harus mengejar waktu. Pemerintah , juga mereka yang kamu  pahami sebagai aparat pemerintah adalah orang yang memiliki waktu dan tak peduli soal waktu. Bagi mereka waktu selalu ada menemani mereka, dan hari esok bukanlah hal yang harus dipikirkan kecuali pension.” Katanya sambil tersenyum.

“ Pemerintah” lanjutnya “  adalah sekelompok orang yang doyan upacara. Apapun diupacarakan. Naik pangkat, ganti jabatan, peletakan batu pertama proyek, peresmian proyek, dan berbagai acara simbolis kenegaraan yang selalu dikekalkan sebagai agenda yang tak boleh dilewatkan. Ketika kamu perlu urusan dengan pemerintah maka kamu  akan dihadapkan oleh berbagai procedure dan isi formulir yang begitu banyak. Tak ada tanya jawab tentang solusi bila kamu  ada masalah. Take it or leave it. Kemudian kamu harus menunggu sebuah keputusan. Soal tunggu ini , bukan siapa yang memutuskan. Bukan siapa yang memahami aturan itu , tapi siapa yang mendapatkan manfaat dari urusan itu. Mereka percaya bahwa kualitas tak penting kecuali loyalitas kepada siapa diatasnya. Loyalitas itu hanya ada bila setiap urusan yang dibawanya melampirkan suap atau komisi.”

Saya tertawa.

“ Mengapa kamu tertawa ?

“ Senang mendengar kejujuran dari seorang PNS” 
.
“ Lah ini fakta.” Serunya. “ Dengarkan baik baik uraian saya ini. Business bank dibentuk berdasarkan legitimasti yang diberikan negara melalui otoritas moneter. Tugasnya sebagai pooling fund , lending resource dan singkatnya bank itu sebagai perantara. Dalam operasionalnya, bank itu harus tunduk dengan standard operating procedure yang sudah ditetapkan oleh bank centeral. Artinya bank bekerja sesuai arahan dan design dari penguasa. Namun apabila terjadi resiko karena banknya culas maka pemerintah tak akan bertanggung jawab. Uangkamu  yang disimpan dibank hanya dijamin oleh Asuransi (LPS ) sebesar maksimum Rp. 2 milliar. Selebihnya itu masalah kamu”

“Kamu  ingin membuka tempat usaha. Diharuskan untuk mendapatkan surat izin tempat ( SIT). Tanpa izin itu maka kamu disebut informal atau illegal. Segala syarat dan kondisi harus kamu penuhi untuk mendapatkan SIT itu. Setelah SIT diterbitkan oleh pemerintah maka kamu berhak secara hukum untuk mengelola usaha sesuai SIT itu. Tapi bila kemudian hari ternyata usaha kamu  bangkrut karena tempat tidak cocok untuk usaha maka itu resiko kamu sendiri. Pemerintah tidak akan bertanggung jawab.”

“ Kamu  buka usaha angkutan umum. Karena menyangkut umum maka pemerintah punya hak berdasarkan hukum untuk menentukan tariff. Pemerintah tidak mau tahu berapa investasi dan bagaimana kamu  mendapatkan dana untuk investasi dibidang usaha ini. Bile kemudian kamu bakrut maka pemerintah tidak akan tanggun jawab.”

“ Rokok itu jelas jelas dianjurkan oleh pemerintah untuk dihindari karena merugikan kesehatan. Tapi itu hanya anjuran. Sementara secara hukum business rokok dan merokok dilegalkan. Pemerintah mendapatkan pajak dari usaha rokok ini dan mendapatkan cukai pula dari perokok. Tapi kalau kamu sakit karena merokok , maka pemerintah tidak akan tanggung jawab.”

“ Keamanan dan ketertiban adalah tanggung jawab kita. Kalau ada masalah hukum atau ketidak nyamanan maka kita wajib lapor. Maklum delik hukum perdata maupun pidana adalah delik aduan. Aparat hukum akan tetap dikantornya bila tidak ada yang lapor atau mengadu. Kalau ada sengketa perdata atau pidana , harap siap siap uang untuk bayar pengacara dan biaya perkara.”

Saya perhatikan teman ini bicara dengan serius. Maka tentu sayapun harus meyikapinya dengan serius. Saya katakan “  Begitulah pemerintah sebagai sebuah realitas. Kita membentuk pemerintah karena sebuah konsesus untuk menempatkan segelintir orang mengatur kita sebagai bangsa. Apakah mereka mengurus kita atau mengatur kita ? Itu tidak penting.. Mereka melangkah sebatas tembok ruang kantornya dan menganalisa masalah kita dengan angka statistis diatas meja kantornya. Mereka duduk dikorsi empuk diruangan sejuk ber AC sambil bicara tentang angka kemiskinan, kemakmuran , GNP dan lain sebagainya sebagai indek prestasi mereka. Kita mendengar dan menerima. Walau Pajak ini dan itu kita bayar tapi semua kebutuhan social tak ada yang gratis. Ini lembaga perantara terbaik diplanet bumi.”

“ Benar sekali.” Serunya “ Setiap kamu belanja , negara menarik pajak., Setiap kamu  berusaha dapat untung , kamu  bayar pajak. Setiap kamu butuh izin , kamu  bayar uang adminstrasi. Semua yang berkaitan dengan legitimasi negara dan berhubungan dengan kegiatan formal , tak ada yang gratis. Namun pemerintah tetap tidak bisa dimintai pertanggungan jawab atas resiko dari legitimasi itu. Dan hebatnya selalu diakhir surat keputusan atas legitimasi negara itu, ada tertera ketentuan sebagai beriikut “ bila dikemudian hari ada kesalahan atas keputusan ini maka dapat dibatalkan atau dikoreksi. “Lanjutnya.

“  Ya , rentetan resiko kita alami dalam kesehariaan kita dengan kelangkaan Gas, BBM, Semen, Minyak goring, angkutan umum yang brengsek, Jalan toll yang tambal sulam dan macet, Listrik yang byar pet, Instalasi air minum yang tak layak. Rumah Sakit Umum yang kumuh. Penerapan hukum yang membingungkan. Semua itu tak ada “tanggung” pemerintah kecuali hanya “jawab” berupa janji akan diperbaiki. Itu saja.”  Kata saya.

Dan sekarang dia yang tertawa.

“ Saya sering bertanya apakah jabatan mulia yang bernama abdi negera tidak cukup untuk sebuah profesi. “ kata saya.

“ Ini tak akan dipahami oleh kami, kecuali kami ikhlas digaji alakadarnya dengan seragam yang melekat. Profesi ini akan selalu aman dari segala masalah selagi pandai “membawa diri”. Diantara kami tentu ada kompetisi yang melekat dalam system birokrasi gaya kolonialisme. Tak akan nampak kompetisi untuk lahirnya prestasi cemerlang melayani tanpa lelah. Bila masalah datang kami berlindung dari birokrasi untuk berkelit dan bila manfaat datang kamipun menggunakan birokrasi untuk mendapatkannya. Kami memerintah dan memutuskan. Tak terdengar istilah pelayan rakyat atau public sevice.”

“ Mejadi pemerintah dinegeri ini memang mengasyikan. Pejabat bisa menikmati hidup mewah dengan atribut kehormatan lainnya. Bila pejabat pemerintah atau elite politik itu cukup puas dengan gaji yang dia terima maka benar benar resiko adalah nol. Tinggal menghitung hari berlalu dengan standard hidup yang serba aman sampai akhirnya pension menikmati sisa umur dengan damai, ya, kan. “ kata saya.

“ Tapi sayang, system yang memanjakan pejabat  itulah justru membuat sebagian mereka culas dan akhirnya membuat rakyat harus berkata “brengsek”.Sudah saatnya revolusi terjadi" .katanya.

Saya tersenyum.

“ Pemerintah itu pelan. Kita yang tak sabar akan bermimpi tentang revolusi. Seakan akan revolusi bukanlah politik yang ditempuh dengan cara lain. Tentu, revolusi bisa meletus, tapi setiap revolusi adalah sebuah pernyataan yang tak acuh kepada sang waktu. Kita tahu sejak era Soekarno, Era Orde Baru, Era Reformasi, lebih dari setengah abad negeri ini merdeka, masalah pemerintah yang brengsek belum juga selesai dibenahi. “ lanjutnya

“ Ya, Birokrasi itu pelan. Jalan siput yang berliku liku, proses yang menimbulkan sejuta tanya, bila ini akan berakhir ? tanya saya.

“ Dewasa ini , kita mengakui bahwa akhir itu tak ada ujungnya kecuali bila langit runtuh. Birokrasi adalah kebutuhan untuk menjaga stabilitas kekuasaan dari sebuah negeri. Pahamkan.” Jawabnya dengan senyum mengambang. Tak disangka saya berdialogh dengan teman yang hanya tamatan SMA dalam bahasa tinggi. Ini hanya mungkin dapat terjadi karena dalam diam, teman ini geram dan berusaha mendapatkan pencerahan lewat pengalaman hidupnya sebagai PNS yang bersih. Lewat peristiwa disekitarnya, Allah berdialogh dengannya untuk membentangkan mana yang salah dan mana yang benar. Dia tahu dan dia bersikap.

Pemerintah, bagi kita sering nampak sebagai sebuah keasyikan yang sia sia menghabiskan uang pajak rakyat dengan culas. Siapa saja yang ingin menegakan moralis akan mengambil langkah surut dari dunia pemerintah atau harus siap dibilang gila. Karena dunia ini tak pernah sepenuhnya bersih dan murni. Hal yang otentik, yang tulus dan benar tak akan dapat berlangsung digedung megah pemerintah, ketika aparat pemerintah bertemu dengan rakyat yang memelas memohon. Semua pamrih, walau karena itu aparat sadar akhir dari memelasnya rakyat itu adalah kematian yang sia sia, dan lembaga pemerintah tetap harus dipertahankan, dan tak bisa disalahkan atau dihancurkan.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pemerintah ?

0 comments:

Post a Comment