Wednesday, April 4, 2012

Hujan

Cinta yang kuberi sepenuh hatiku
Entah yang kuterima aku tak peduli,
aku tak peduli, aku tak peduli
( Ebit G Ade, Apakah Ada Bedanya)
***
Air adalah sumber kehidupan.  Manusia bisa bertahan dari kelaparan namun tak bisa bertahan dari kehausan. Konon menurut ahli pengetahuan bahwa bumi tidak menghasilkan air, air didatangkan oleh Allah dari ruang angkasa lewat proses evolusi terbentuknya bumi sebagai tempat kehidupan makhluk bernama manusia. Selanjutnya lewat proses circulasi alam, dimana matahari memanaskan bumi dan airpun menguap terbang menjadi gumpalan awan. Apapun ujud air, entah itu berasal dari kubangan lumpur, sungai yang jorok seperti ciliwung, atau apalah, ketika kembali dijatuhkan kembumi lewat hujan, air itu sudah bersih. Aroma hujan dimanapun sama., Bentuknya pun tetap sama, bening dan bersih. Awan dan hujan adalah proses treatment air raksasa dan terbaik yang tak pernah bisa ditandangi oleh pengetahuan manusia. Disitulah Allah berbuat dan menunjukan kekuasaannya diatas kasih sayangnya.

BIla air adalah berkah maka kemelimpahan air pada momen tertentu adalah bencana. Begitu yang mungkin dirasakan oleh sebagian besar penduduk Jakarta ketika hujan mengguyur kota. Jalanan macet dan dimana mana ada genangan air. Sehebat apapun retorika orang terpilih sebagai gubernur, hingga pantas berkata serahkan kepada ahlinya namun fakta sang ahli hanyalah pembual belaka untuk mendapatkan kekuasaan dan akhirnya tak berbuat apa apa ketika alam bertitah. Hujan memang menyimpan harap dan sekaligus cemas bagi penduduk kota. Itu juga yang saya rasakan ketika terjebak di terminal buyway menanti hujan reda. Saya berharap hujan renda. Saya gelisah ketika hujan tak kunjung reda karena ingat janji untuk bertemu dengan seseorang.  Ketika malam datang,.  istri saya menelphone bahwa putri saya terjebak macet dijalan menuju pulang kerumah dari kampusnya.  Saya mulai mengakawatirkan putri saya.

Sorang anak kecil datang menghampiri saya dan menawarkan payung untuk saya bisa menerobos hujan keluar dari stasiun BusWay. Saya tersenyum menerima payung itu.Saya tahu anak itu  menawarkan jasanya untuk uang receh. DItengah hujan lebat, anak itu berjalan dibelakang saya. Saya memperhatikan anak itu bayah kuyup. Ada rasa kemanusiaan untuk menariknya dekat dengan saya agar terlindung dari hujan. Anak itu berusaha menolak namun saya merangkul pundaknya. Dia bersedekat dengan saya. Saya bertanya kepada anak itu.

“ Kamu sekolah ?

“ Ya pak. “

“Kelas berapa ?

“ Kelas 5 SD”

Saya perhatikan postur tubuhnya tidak seperti anak kelas 5 SD. Pustur tubuhnya sepeti anak kelas 2 SD karena kurus dan kecil.  

“ Ada berapa orang kamu bersaudara, nak ?

‘ Saya hanya sendiri”

“ Oh kamu anak tunggal ?

“ Engga tahu , pak. Sedari kecil saya tidak tahu siapa ayah ibu saya.”

‘ Jadi kamu tinggal dimana ?

“ DIbawah kolong itu “ katanya sambil menujuk arah jembatan layang.

“ Siapa yang masukin kamu sekolah?

“ Ada kakak kakak yang antar saya masuk sekolah”

“ Siapa yang bayar uang sekolah kamu?

“ Sekolah engga bayar,pak. Gratis “

“ Beli buku , gimana ?

“ Ada kakak kakak yang sering datang ketempat saya tinggal bawain buku.

“ Sekolah kamu jauh dari tempat tinggal kamu ?

“ Jauh pak, Di jelambar.

“ Naik apa ke sekolah ?

“ Jalan kaki pak.

‘ Terus makan kamu gimana ?

“ Saya ngamen , cari botol plastic. “

Pembicaraan itu terhenti ketika saya sampa didepan Citraland Mall. Saya member uang kepada anak kecil atas jasanya meminjankan payung. Anak itu menyalami saya sambil mencium tangan saya. Dia tersenyum senang ketika pergi menjauh dari saya.

Masalah saya selesai. Saya tak perlu kawatir lagi karena saya sudah berada ditempat tujuan saya. Namun saya masih kawatir dengan putri saya. Setiap sebentar saya telp istri saya untuk mengetahui keadaan putri saya. Seusai rapat dengan relasi, jam 9 malam , saya masih terkurung oleh hujan. Taksi ditunggu tidak kunjung datang. Jam bergerak lambat , apalagi jam 10 malam, istri saya mengabarkan bahwa putrid saya belum sampai dirumah. Saya diliputi paranoia tentang keselamatan putrid saya. Jam 11.30 malam, barulah saya dapat kabar dari istri bahwa putri saya selamat sampai dirumah. Karena menanti taksi di Hotel sangat sulit maka saya putuskan untuk keluar dari hotel dan menunggu taksi dipinggir jalan.

Hujan turun rintik rintik, dan saya bertahan dipinggir jalan untuk mendapatkan taksi yang kosong. Pada saat itulah mata saya melihat kearah bawah kolong jembatan layang. Ada seorang wanita sedang bersama sama anak anak kecil. Wanita itu kalau dilihat dari penampilannya dia bukanlah wanita tunawisma. Dia dikelilingi oleh anak anak jalanan. Rasa ingin tahu saya mendesak saya untuk mendatanginya. Salah satu anak yang ada disekitar wanita itu ada yang mengenal saya.  Anak itu tersenyum mendekati saya. “ Itu kakak “ katanya menunjuk kearah wanita itu.

“ Tadi Uli, cerita kesaya bahwa dia bertemu dengan orang yang kasih uang banyak” kata wanita itu tersenyum. “ Ternyata bapak ya “ sambungnya.

“ Saya kasih dia Rp. 50 ribu. “

“ Itu besar sekali bagi mereka pak “

“ Jadi yang dimaksud anak itu kakak, adalah kamu ya. Kamu siapa ?

“ Saya hanya hamba Allah yang tergerak membantu mereka belajar dan meng advokasi mereka mendapatkan hak pendidikan gratis dari pemerintah“

“ Tapi kenapa malam malam begini ?

“ Hanya malam seperti inilah saya bisa mengajar mereka. Karena sampai jam 10 malam mereka harus bekerja mengais rezeki dibelantara kota. “

“Kamu hanya sendiri”

“ Ya, tapi biasanya sama teman. Tapi karena hujan mungkin mereka berhalangan datang”

“ Pekerjaan kamu apa ?

“ Saya masiswa pak..”

‘ Kamu tidak takut dilingkungan seperti ini, apalagi malam hari ?

“ Tidak pak. Saya yakin Allah bersama saya. Saya datang dengan cinta untuk mereka. Mungkin saya tak mampu merubah kehidupan mereka sekarang tapi lewat pengetahuan yang saya berikan setidaknya mereka bisa berharap untuk hari esok yang lebih baik. “

Saya merasa kecil dihadapan wanita itu. Wanita muslimah berhijab dengan wajah bercahaya akan keikhlasan. Tak takut dengan segala resiko seperti seramnya cerita kehidupan tunawisma.  Dia bukan pimpinan LSM, bukan pula aktifis berkelas nasional yang pandai bicara di forum seminar tentang pembelaan orang miskiin. Ketika sebagian anak muda menghabiskan waktu luangnya bersama notebook dan blackberry, dia , juga bersama sama temannya mewakafkan waktu luangnya untuk menebarkan cinta kepada mereka yang lemah dan terlupakan oleh kepongahan penguasa.

Ketika di dalam taksi menuju pulang, saya malu kepada diri saya sendiri. Sebelumnya saya kawatir dengan keadaan putri saya yang terlambat pulang karena hujan lebat tapi wanita itu, juga adalah putri dari orang tua sama dengan saya, malah menembus hujan lebat untuk bertemu dengan anak jalanan untuk sepatah kata tentang cinta dan kepedulian. Ketika para remaja sudah lelap ditempa tidur, wanita itu berjuang meneteskan embun kepada anak anak , untuk memberi bekal mereka  menggapai hari esok disebuah negeri yang pongah kepada yang miskin. Ya wanita itu memberikan cintanya dan kepedulian untuk new day for tomorrow. Dia berbuat seperti bait lagu EBi G Ade, Cinta yang kuberi ,sepenuh hatiku. Entah yang kuterima , aku tak peduli,aku tak peduli, aku tak peduli. Ikhlas karena Allah...

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hujan

0 comments:

Post a Comment