Monday, April 23, 2012

Hikmah prahara


1999
Sesuatu yang dibangun dengan susah payah dalam  bertahun tahun akhirnya hanya beberapa bulan ketika kurs rupiah mulai limbung dan tersungkur dipasar uang, maka usahanyapun tersungkur. Setahun setelah badai krisi moneter terjadi, dia sudah harus melempar handuk putih kepada pemerintah agar mendapatkan perlindungan dari beban hutang bank. Pemerintah bermanis muka sebentar namun hanya sekedar memastikan bahwa dia harus menyerahkan seluruh hartanya sebagai syarat janji hutang akan terlunasi. Hair cut hutang yang diharapkan tidak cukup pantas untuk dia bayar. Karena masih tetap lebih tinggi dari uang yang sebetulnya dia tarik dari bank. Ada harapan lain untuk mendapatkan pinjaman dari luar negeri. Karena itulah dia memohon waktu kepada pemerintah agar dia diberi kesempatan mendapatkan mitra yang bisa membayar hutangnya. Dia tetap harus berjuang untuk menyelamatkan bisnisnya, reputasinya.

Jam terasa bergerak lambat menjelang tengah malam disebuah Hotel mewah, diseberang benua. Sebentar lagi pagi akan datang. Dia masih belum bisa memejamkan matanya. Tak ada rasa kantuk menggayut karena memikirkan apa yang baru saja dialaminya. Sebuah keputusan telah dibuat hingga membuat dia tak punya lagi harapan. Perundingan panjang yang melelahkan untuk menyelematkan business nya dari pengambil alihan oleh Negara akibat hutang yang tak terbayar berakhir dengan kesia siaan. Besok dia akan pulang dan menyerahkan semua yang pernah dia bangun berpuluh tahun. Berkali kali dia menghitung surut kebelakang untuk mengetahui secara rinci apa kesalahan yang telah dia perbuat hingga dia pantas menjadi pecundang. Dia tidak menemukan satupun kesalahan. Yang nampak kepermukaan diatas kaca lebar adalah ulah pemerintah yang tak becus mengurus moneter hingga dia terjebak dalam hutang yang tak bisa dibayar dengan akal sehat.

Besok , dia akan membayangkan istrinya harus rela keluar dari rumah mewah yang selama ini tempat bernaum putra putrinya tumbuh. Tempat dia mendapatkan sorga terbaik didunia. Tempat dia mendapatkan canda tawa dalam siramah kebahagiaan. Rumah itu akan diambil oleh pemerintah. Pabrik yang dibangun dari keringat dan derita berpuluh tahun , yang menjadi tempat bernaung ribuan pekerja dengan harapan mendapatkan penghidupan yang layak, akan juga terlepas dari  genggamannya. Yang dia sedihkan adalah istri, anaknya, juga para karyawan akan menjadi korban. Tak akan ada lagi canda tawa merajut keseharian. Tak ada lagi cerita dengan angan angan sekolah keluar negeri.  Para karyawan dan buruh akan terkapar dalam kebingungan menapak masa depan. Semua ini terjadi dengan begitu saja. Karena pemerintah yang brengsek.

Tadi siang, mitranya dari luar negeri telah dengan tegas menolak memberikan bantuan. Maka yang terjadi terjadilan. Dia harus menerima kenyataan kalah dan dikalahkan oleh situasi. Kalah , karena hutang yang tak bisa dibayar. Situasi, karena keadaan politik negaranya semakin sulit dipercaya oleh investor.

Saatnya dia harus pulang. Menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya. Dia pulang untuk menjadi orang kalah. Ketika sampai di rumah, Dia ceritakan keadaan yang sebenarnya kepada istrinya. Setelah usai dia bercerita, dia yakin istrinya akan menangis dalam kebingungan akan masa depan keluarganya. Tapi , tahukah kamu, bagaimana sikap istrinya. Inilah kata kata yang keluar “ Kita harus bersyukur kepada Tuhan, Bang Ini sebagai bukti doa kita selama ini Allah dengar dan inilah jawaban Tuhan. Kita meminta kepada Allah keselamatan dunia dan akhirat. Ketika kita berharta, dunia kita selamat namun jalan keahirat semakin susah kita lewati. Limpahan dunia selama ini ter pikul. Cobaan harta itu sangat berat. Berat sekali. Kadang aku semakin takut untuk pulang kepada Allah. Kita begitu yakinnya apa yang kita lakukan dengan usaha yang melibatkan ribuan karyawan adalah mulia. Lambat namun pasti kita semakin tak nyaman bila harus memberikan kelebihan pendapatan untuk  mereka. Karena kita semakin mabuk dengan harta dan harta yang memakan ongkos mahal. Lambat namun pasti kita hanya semakin mencitai diri kita sendiri, lupa makna berbagi.

“Padahal hakikat kehidupan bukanlah apa yang kita dapat tapi apa yang kita bisa berikan untuk orang lain , untuk cinta.  Bertahun tahun Abang erjuang untuk sesuatu makna namun ketika makna itu Abang dapatkan , jalan pulangpun semakin jauh menyimpang. Abang semakin jarang berbicara dengan Allah karena alasan sibuk. Padahal Allah hanya minta Abang  menyisihkan 1 jam menghadapNya, menyapaNya dari 24 jam yang Allah beri kepada Abang tapi itu semakin waktu berlalu semakin mudahnya Abang lupakan. Akupun tanpa disadari juga larut dengan pergaulan dan kegiatan yang sehingga tak pernah khusu lagi ketika menyapa Allah dalam sholat dan zikir. Harta yang kita dapat, Alllah yang hilang. “

“ Badai krisis moneter ini adalah bisikan cinta dari Allah kepada bangsa Indonesia pada umumnya dan kepada kita pada khususnya. Negeri kita kaya tapi kita semakin lupa bersyukur untuk berbagi karena Allah. Pemerintah yang tak lagi peduli kepada yang miskin, tak lagi peduli kepada seruan ulama untuk meluruskan jalan menuju akhirat, tak lagi peduli kepada ratapan para yatim dan piatu. Tak lagi peduli akan keadilan , kebenaran, kebaikan. Karena rahmat Allah masih terbuka lebar kepada bangsa ini, kepada kita, Allah mengirim pesan cinta itu dengan tumbangnya kepongahan  akibat ulah kepongahan itu sendiri. Jangan biarkan prahara ini tanpa makna apapun. Yakinlah seyakinnya bahwa ini pesan Allah. Jangan salahkan pemerintah, jangan salahkan apapun Semua sudah terjadi dan semua harus mengambil hikmah agar kita bisa menata ulang langkah kita untuk hari esok yang menentramkan dalam lindungan Allah dan kasihNYa.”

“ Aku tidak ingin Abang hancur dalam penyesalan dan menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan orang lain. Ini semua salah kita. Saatnya untuk bangkit. Bukan bangkit mendapatkan kembali harta yang hilang.Tapi bangkit mendapatkan jalan Allah. Hanya itu yang harus kita tanamkan dalam hati dan akal kita. Jangan ulang lagi kesalahan yang lalu. Ingat , ketika Abang melamarku, tak ada harta, tak ada titel kesarjanaan. Tak ada. Yang ada adalah dirimu yang beriman dan bertakwa untuk kujadikan imam meraih sorga Allah.  Abang adalah  suamiku dan aku ingin Abang kembali kepadaku seperti dulu ketika Abang melamarku. Bahwa Abang adalah pria yang beriman dan karena itu aku ikhlas menerima Abang menjadi suamiku, imamku. .

Usai istrinya berkata, dia tersungkur disajadahnya. “ Ya Allah, ampuni dosaku. Tetaplah aku dalam keimanan dan beri kasihinlah aku atas segala takdir yang telah engkau tetapkan. Jadikanlah aku hambaMu yang senantiasa bersyukur dan selalu mengingat jalan pulang kepadaMu. “

2003
“ Tak pernah terbayangkan oleh ku akhirnya aku bisa datang ke Baitullah bersama suamiku, imamku. Puja puji kepadamu Ya Allah, atas segala nikmat iman yang telah engkau berikan kepada kami” diliriknya istrinya seusai tawaf. Digenggam erat  jemari istrinya sambil tersenyum. Baru kali ini dia melihat wajah istrinya begitu bahagia. Jauh lebih bahagia ketimbang dulu ketika dia memberikan hadiah ulang tahun berupa berlian berjenjang. Jauh lebih bahagia ketimbang dulu ketika dia memberikan hadiah mobil mewah dan rumah mewah. Walau mereka datang dengan rombongan haji Mandiri yang tak dilengkapi dengan standar fasilitas kemewahan seperti rombongan haji plus.

Melalui istrinya , Allah berdialogh kepadanya tentang makna kesuksesan dan kebahagiaan. Kunci kebahagiaan adalah ketika dia bisa membunuh ego , membunuh keinginan yang tak terpuaskan. Caranya adalah dekat kepada Allah. Melalui praha mei 1998, dia menemukan dirinya kembali yang telah lama hilang. Setelah itu, dia semakin dekat kepada Allah. Walau tak lagi berharta lebih namun rezeki selalu datang untuk dia hidup dan dihidupkan oleh Allah. Karenanya berbuat karena Allah, juga berkorban karena Allah…

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Hikmah prahara

0 comments:

Post a Comment