Enam tahun lalu kisah ini berawal. Ketika itu aku sedang berada di Shenzhen. Sambil membuang waktu diakhir minggu aku mengelilingi kota di kawasan Louhu. Kemana lagi aku melangkah kalau bukan pada akhirnya ketoko Buku. Inilah kegemaranku yang tak pernah surut, yang tak pernah bisa dipahami oleh istriku kecuali hanya sabar bila terpaksa menemaniku ketokok Buku. Aku berkeliling diruang mall besar yang menjual beraneka ragam buku. Dari berbahasa china sampai berbahasa inggeris. Dari novel sampai ilmiah. Aku melintasi rak buku yang menyediakan beraneka buku dan alat mempelajari bahasa inggeris dengan cepat. Pengunjung rak itu cukup ramai. Umumnya anak anak remaja. Aku yakin mereka adalah pelajar dari siswa lanjutan atas sampai mahasiswa. Ada hal yang membuatku tertarik,seorang gadis remaja sedang memperhatikan satu set alat belajar bahasa inggeris dalam bentuk kaset video lengkap dengan buku panduan serta translator tools.
Yang membuatku tertarik adalah sikap gadis remaja itu yang memeluk box yang berisi satu set alat belajar bahasa inggeris. Dia mencium box itu dan kemudian airmatanya berlinang. Dia tertunduk. Kemudian nampak bibirnya bergerak halus. Itu semua kuperhatikan dengan seksama. Mengundang rasa ingin tahuku.
“ Hi, apa yang sedang anda lakukan” kataku dalam bahasa mandarin yang tidak sempurna. Berharap gadis remaja itu bisa memahami pertanyaanku.
“ saya ingin sekali membeli ini “ katanya menunjuk alat belejar bahasa inggeris itu. “ Setiap hari saya datang ketoko buku ini hanya ingin memastikan alat belajar bahasa inggeris ini masih tersedia. Saya ingin sekali. Tapi apa hendak dikata. Orang tua saya tidak punya cukup uang. Saya ingin bekerja apa saja asalkan dapat membeli buku ini. “ Lanjutnya.
“ Kamu masih sekolah “
“ ya, sekarang kelas 1 SMU “
“ Kenapa kamu ingin sekali belajar bahasa inggeris”
“ cita cita saya ingin jadi pramugari. Ingin sekali. Kelak bisa membantu kedua orang tua saya”
Saya perhatikan dengan seksama gadis remaja ini. Tak ada nampak dia sedang berdusta. Saya sering diingatkan oleh teman teman agar berhati hati dengan siapa saja di china.Karena akal mereka banyak sekali untuk mendapatkan uang, termasuk menggugah emosi orang untuk memberi uang.
“ Kamu tidak sepeti orang china pada umumnya Maksud saya wajah kamu beda”
“ Oh ya. Saya dari suku urgu. Kampung orang tua saya di Xinjiang. Kami keluarga muslim. “
“ Oh jadi kamu muslim? “
“ Ya. “
“ Oh kalau begitu kamu saudari saya. Karena saya juga muslim. Kita semua bersaudara. “
Gadis remaja itu berlalu dari hadapanku sambil membungkukan wajah dan tak lupa mengucapkan salam. Aku terdiam dalam kesendirian. Baru saja aku bertemu dengan seoarang anak gadis remaja dengan semangat tinggi walau hidup serba terbatas.
Keesokan harinya aku kembali ketoko buku itu. Karena memang hanya itulah kebiasaan yang membuatku nyaman dan sekalian menambah koleksi perpustakaanku dirumah. Hampir semua buku yang dijual tergolong sangat murah dibandingkan membeli di toko buku di Hong Kong atau Jakarta. Pemerintah china memang punya program subsidi besar besaran untuk biaya percetakan buku. Tidak jauh dari toko buku itu tepat dibelokan jalan, nampak seorang gadis remaja duduk dihadapan lembaran karton putih yang betuliskan hurup china. Gadis itu duduk denganl wajah menunduk dan diam tanpa suara. Seorang teman yang ikut bersama saya menterjemahkan tulisan pada karton itu “ Saya seorang pelajar. Saya tidak mengemis , saya hanya mengharapkan hak yang dititipkan Tuhan kepada anda agar diberikan kepada saya Siapapun anda, sangat saya harapkan keikhlasannya memberi zakat untuk saya yang miskin ini. Untuk membeli buku. “ Saya tersenyum mendengar terjemahan itu.
Tidak ada satupun orang lewat yang melemparkan urang receh dikarton itu. Itulah sebabnya saya melemparkan uang sebesar RMB 5 ( Rp. 6000). Gadis itu mendongak keatas dan pandangan kami beradu. Ternyata gadis remaja ini adalah yang kutemui kemarin di toko Buku. Wajahnya memerah. Aku tahu percis dia masih mengingatku. “ se se ( terimakasih ).
Akupun berlalu dari hadapan gadis remaja itu dan langsung kearah toko buku. AKu langsung kearah rak yang menyediakn alat belajar bahasa inggeris. Aku mengambil box itu dari rak dan membayarnya di kasir .Harganya RMB 600 ( Rp. 660,000). Aku minta kepada petugas itu agar dibungkus rapi dengan kertas kado. Aku menulis pesan pada kertas kado itu. Segera aku keluar dari toko itu dan menuju ketempat dimana gadis remaja itu masih duduk bersediam. Aku menempatkan bungkusan diatas karton itu dan membiarkanya begitu saja. Gadis remaja itu membuka bungkusan dan tanpak takjub ketika melihat isi bungkusan itu. Dia menatap lama kearahku dan akhirnya menangis. Aku berlalu dari hadapan gadis remaja itu sambil tersenyum. Sahabatku yang ikut bersamaku nampak bingung dengan sikapku.
Tahun 2011
Pagi pagi sekali aku harus terbang dengan pesawat pertama ke Beijing untuk menghadiri rapat, Padahal malamnya aku hanya tidur 2 jam dan paginya belum sempat sarapan. Badan memang terasa tidak fit tapi semangatku untuk memenuhi janji tak menghalangiku untuk terbang. Ketika didalam pesawat terasa kepalaku sakit dan pada waktu bersamaan perut terasa mual. Ada dorongan ingin muntah namun tak bisa keluar. Keringat dingin membanjiri keningku. Sekonyong terasa gelap disekitarku. Ketika aku sadar aku sudah berada dirumah sakit Bandara Beijing. Disampingku nampak seorang wanita yang nampak kawatir namun berusaha tersenyum. Kulihat wanita itu bersegera keluar dari ruangan. Tak berapa lama dokter datang bersama wanita itu menemuiku.
“ Anda terkena asam lambung. “ Kata dokter itu. ‘ saya harap anda dapat istirahat dirumah sakit ini sampai besok. Bila besok keadaan semakin membaik, anda bisa pulang” Lanjut dokter itu dengan ramah dalam bahasa inggeris yang sangat sempurna. Setelah dokter itu berlalu, wanita itu tetap duduk disampingku. Dengan ramah wanita itu berharap agar aku dapat segera sembuh. Dia berjanji akan datang lagi keesokan harinya. Dia menggunakan seragam pramugari. Oh ini standard pelayanan maskapai penerbangan. AKu kagum.
Keesokan harinya keadaanku sudah membaik. Relasiku di Beijing berjanji akan menjemputku di rumah sakit untuk diantar ke Hotel. Ketika aku menanyakan Bill biaya rumah sakit, petugas rumah sakit mengatakan bahwa semua sudah dibayar. Aku beranggapan relasiku yang sudah membayar.
Ketika di lobi rumah sakit,
“ Terimakasih karena sudah membantu biaya rumah sakit. “ Kataku kepada relasi yang menjemputku.
“ Saya tidak membayar biaya rumah sakit kamu. “ jawabnya yang nampak bingung
“ Lantas siapa yang membayar? Apakah ini atas tanggungan maskapai penerbangan? “
“ Tidak. Tidak mungkin.! Karena kamu bukan korban kecelakaan pesawat.”
“ Lantas siapa ?
Relasiku hanya mengangkat bahu.
“ My brother “ terdengar suara memanggilku dari arah belakang. Nampak seorang wanita tersenyum kearahku dan disampingnya ada wanita dan pria setengah baya. “ Kenalkan ini, kedua orang tua saya. “ kata wanita itu. Aku masih bingung. Karena kebingungan terhadap wanita itu sudah ada sejak aku siuman namun entah kenapa aku tak sempat bertanya namanya. Aku hanya berprasangka wanita itu adalah petugas dari maskapai penerbangan yang memang ditugaskan untuk melayani penumpang. Wanita itu berusaha membangkitkan memori saya tentang dia. Bahwa dia adalah wanita yang enam tahun lalu saya beri satu set alat belajar bahasa inggeris, di Shenzhen.
“ Putri saya bercerita banyak tentang anda yang memberinya alat belajar bahasa inggeris. Kami tidak punya cukup uang untuk membelinya namun kesungguhan hatinya dalam doa , ternyata Allah mengirim manusia seperti anda. Cita citanya menjadi pramugari tercapai juga, kami bangga dengan dia. Terimakasih” Oh ternyata pria setengah baya itu adalah ayah dari wanita ini, yang enam tahun lalu pernah bertemu denganku di Shenzhen.
“ Anda masih mengingat saya “ tanyaku. Karena aku sendiri sudah lupa wajah wanita itu.
“ Waktu saya dengar kabar ada penumpang yang pingsan di ruang bisnis kelas , saya sempat melirik dari ruang ekonomi kelas. Saya langsung mengenal anda. Saya memberi tahu teman teman crew pesawat bahwa anda adalah saudara saya. Bagaimana saya bisa melupakan anda. Tidak mungkin , Katanya sambil tersenyum.
“ Jadi anda yang membawa saya kerumah sakit ini. “
“ Ya. “ katanya dengan tetap berhias senyum manis
“ Anda pula yang membayar bill ?
“ Ya”
“ Kenapa ?
“ Anda adalah saudara muslim saya. Sudah kewajiban saya untuk berbuat kepada saudara saya sendiri, apalagi sedang terkena musibah. Bukankah begitu agama kita mendidik. Bukankah begitu kata anda tempo hari. ?“ Kata wanita itu sambil menyerahkan secarik kertas. “ Dikertas ini ada tulisan tangan anda yang selalu saya simpan. Ingatkah anda“ Lanjut wanita itu sambil menyerahkan secarik kertas itu.
Aku mengambil kertas itu dan membacanya “ Kamu adalah saudari muslim saya dan sudah menjadi kewajiban saya membantu. Terimalah titipan dari Allah ini . Semoga bermanfaat membantumu meraih cita cita..” ya, itu memang tulisan tanganku dan yang kutulis enam tahun lalu, dikertas pembungkus. Secarik kertas pembungkus itu masih nampak baru dan tida lusuh. Memang wanita itu menyimpan kertas berisi tulisan itu dengan hatinya. Kami berpisah dan setelah berlalu aku baru sadar lupa menanyakan nama dan alamatnya. Namun beberapa bulan kemudian dia menghubungi saya via emal dan akhirnya persahabatan terjalin.
Ya satu lagi pengalaman hidupku mengajarkan tentang sebuah makna dari nilai persaudaraan dalam islam, tanpa mengenal ras, suku , bangsa. Semua menyatu dalam satu kesatuan untuk menghadap ke Baitullah dan berbagi karena Allah…

0 comments:
Post a Comment