Amplob tebal ada didalam genggamannya Warnanya coklat dan terbuat dari kertas jagung. Dari bentuknya amplop ini biasa saja. Tapi bahasa amplop sudah menjelaskan makna yang tidak baik, terutama bagi pegawai negeri seperti Rahmat. Tadi siang , dia sempat terkejut ketika atasanya memintanya datang menghadap.
“ Rahmat ! seru Atasannya “ Anda orang baru di unit ini. Anda bekerja untuk saya dan hanya mengikuti perintah saya. Jangan pernah berpikir lain kecuali apa yang saya perintahkan. “ mata atasannya memandang tajam kearah matanya. Rahmat tertegun diam dan tak sanggup memandang lama mata atasannya itu. Segera matanya dialihkan ke lantai sambil memegang dua lututnya. Nampak , Atasannya berdiri dari kursi empuknya dan pindah kesofa. Rahmat tetap dikursinya.
“ Duduk disini aja, agar kita bisa bicara santai.” Rahmat berdiri dan duduk berhadapan dengan atasannya. Namun tetap tidak bisa menatap langsung mata atasannya.
“ Kamu kenal Pak Yakub “ Atasannya menyebut nama seseorang alias Koh Aceng. Pria non pribumi bermata sipit Siapa yang tidak kenal di kantornya. Pria ini sangat popular karena gemar menolong siapa saja yang ada di kantor ini. Tapi , sejak awal ketika Rahmat menduduki jabatannya yang baru di Unit ini , dia selalu menghindar untuk bertemu dengan Yakub. Konon katanya , pejabat yang lama diberhentikan karena ulah Yakob yang memaksakan harga penawarannya diterima walau tidak masuk akal.
“ Saya minta anda bersikap lunak dengan Yakup. Dia rekanan lama dikantor kita. Dia orangnya baik. “ Suaranya atasannya melembut dan lebih santai.
“ Tapi …Pak Yakup pernah terlibat masalah di unit ini. Saya tidak ingin menimbulkan masalah di unit ini..Makanya saya menghindar dari Yakup..” Rahmat mencoba memberikan penjelasan tapi wajah atasanya nampak tidak senang.
“ Ah itu tidak benar. Kamu tidak bisa mempercayai rumor. Nyatanya dia aman aman saja. Dasar si Mamat yang memang rakus ! “ Atasannya menyebut nama Mamat yang dulu memegang jabatannya sekarang.
“ Baik , Pak, Akan saya laksanakan saran Bapak. “
“ Nah , itu bagus. !
Ditatapnya amplop itu. Dibolak baliknya seperti menimbang nimbang jumlah yang ada didalam amplop. Tentu jumlahnya besar tapi berapa pastinya dia tidak tau. Karena sedari tadi dia tidak berani untuk membukanya. Ada persaan bimbang didalam hatinya. Apalagi ketika tadi sore ketika semua orang sudah pulang Pak Yakup datang keruang kerjanya dengan membawa amplop itu sambil menyerahkan proposal harga untuk disetujuinya. Rahmat tau betul bahwa harga yang diajukan tidak masuk akal. Dia sudah melaporkan keatasannya masalah ini tapi dijawab :
“ Kamu lebih tau bagaimana bersikap. Atur aja yang baik.”
Tapi tidak ada arahan pasti untuk dijadikannya pegangan.Terbayang olehnya deretan daftar permintaan dari Istrinya ketika dia usai dilantik.
“ Ingat lho Mas. AKu malu kalau kita masih tinggal dirumah BTN. Ibu ibu diarisan sudah pada ngomongin kalau kita tidak pantas tinggal dirumah BTN. Dan lagi itu lho Mas Mobil ya mbok diganti. Malu kita sama teman temanmu dikantor.”
Dan banyak lagi celoteh yang harus diterimanya setiap hari ketika berangkat tidur. Ketika bangun pagi dimeja Makan, Anaknya yang sulung dan sibungsi sudah pula mempunyai deretan permitaan. Alasannya sama malu sama teman teman. Karena bapaknya pejabat sementara facilitas masih kere. Rahmat hamper tidak bisa bernafas dengan ini semua. Apalagi bawahannya dikantor sudah tidak lagi memberikan senyuman cerah padanya karena banyak rekanan yang selama ini memanjakan mereka , tersingkir dari daftar rekanan. Ditambah lagi , terakhir atasannya sendiri sudah mulai memberikan ancaman agar dia lebih lunak kepada rekanan yang di “anggap baik “ itu.
Amplop itu ditatapnya lama lama. Yang terbayang adalah wajah atasannya yang siap mengancam jabatannya. Wajah istrinya yang selalu merendahkannya karena selalu tidak bisa memenuhi permintaan.. Juga wajah anak anaknya yang sekarang sudah mulai malas belajar karena malu dengan teman teman. Keadaan ini membuatnya berat untuk pulang. Kendaraannya diarahkan ketaman. Dia terduduk ditaman ini dalam kebingungan. Ternyata perjuangan selama ini mencapai karir yang diinginkannya telah menimbulkan dilemma dalam hidupnya. Terbayang Orang tuanya yang senantiasa memberikan nasehat untuk hidup jujur. Wajah teman temannya yang dulu ikut berdemontrasi menentang kezoliman dan menolak praktek KKN kembali terbayang. Akankah dia korbankan ini semua hanya karena ingin mengikuti kemauan teman teman dikantornya ,menuruti perintah atasannya dan juga keluarganya. Begitu sempitkah dunia baginya yang sehingga segelintir orang dapat mengendalikan hidupnya. Mereka yang kini hadir dalam hidupnya tidak lebih adalah segelintir manusia yang hidup berniaga dengan jabatannya. Beda dengan Orang tuanya dan teman temannya yang dulu yang selalu bertaut dalam kasih sayang tampa pamrih.
Hari telah berangkat malam. Dengan berat dilajukannya kendaraan itu dan meninggalkan taman. Dalam kebingungan tanpa disadarinya kendaraanya melaju dan menerobos lampu merah. Dari kejauhan nampak Polantas berlari memintanya berhenti.
“ Anda membahayakan diri snda sendiri.” Sapa Polantas itu dengan ramah. Kemudian memintanya mengeluarkan surat kendaraanya. Setelah melihat dengan seksama , kemudian Polantas itu berbicara “ Seharusnya anda malu dengan SIM ini. “
“ Kenapa Pak ? “ Rahmat bingung mendengar Polantas itu berbicara tentang “malu “
“ Ya . SIM ini menunjukkan anda orang yang mengetahui semua aturan tentang lalu lintas tapi anda dengan entengnya melanggar aturan itu” Polantas itu berbicara dengan tenang namun tetap sopan. Rahmat dapat menduga dibalik kata kata itu tentu sang Polantas ingin buying time agar Rahmat tau diri hingga mengajaknya berdamai. Segera Rahmat membuka dompetnya dan keluar dari kendaraan. Dia memepet tubuh Polantas itu sambil menyisipkan uang Rp. 50.000. Tapi Polantas itu menepis dengan sopan dan berkata “ Memang anda sudah tidak punya rasa malu lagi. Bagaimana anda menduga saya bisa disuap.? Rahmat gelagapan seperti orang tolol.
“ Simpan uang anda itu dan tanda tangani surat tilang ini. “ Sambung polisi itu sambil menyerahkan surat tilang. Rahmatnya hanya mengangguk dan menandatangi surat tilang itu. Masih dalam kebingungan dan perasaan malu polantas itu kembali berkata dengan halus “ Pak, mungkin semua yang anda tau tentang Polantas adalah suka diajak damai dengan uang tapi tidak untuk saya. “
“ Mengapa ? “ tampa terduga pertanyaan itu keluar dari mulutnya
“ Karena saya masih punya rasa malu pada diri saya sendiri. Aturan lalu lintas dibuat untuk menciptakan ketertiban dan kenyamanan. Tugas saya adalah memastikan aturan ini berjalan dengan benar. Sederhana , bukan ? Apa jadinya bila yang sederhana ini saja saya tidak bisa lakukan. Orang seperti anda inilah yang membuat aturan menjadi bukan aturan. Malulah pada diri anda. Malu pada dasi anda. Malu pada kantong anda, malulah pada tuhan anda, malulah dengan title anda.. “ Polantas itu menjawab dengan enteng
“ Bagaimana dengan anda “ Tanya polisi itu lagi ketika Rahmat hendak masuk kedalam mobil. Rahmat hanya tersenyum kecut.
Telp genggamnya bergetar , segara dia menerima karena terlulis sipenelpon adalah atasannya sendiri
“ Rahmat, tolong diparaf surat penawaran harga dari Pak Yakup besok dan antar kemeja kerja saya “ Terdengar suara dari semberang yang bernada lembut namun menekan.
“ Maaf , pak. Surat penawaran pak Yakup sudah saya lempar ketempat sampah. Karena tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi “
Kemudian segera dia mematikan telpnya sambil tersenyum. Dipacunya kendaraannya dengan mantap menuju pulang. Tak berapa lama ketika dilampu merah dibukanya Inbox Message di HP nya dan dia tulis pesan kepada istrinya yang berbunyi “ Terimalah dengan syukur gaji yang aku dapat setiap bulannya dan berhentilah berharap lebih ….Usai mengirim pesan pendek, Amplop ditangannya dilempar keluar dan entah kemana jatuhnya , yang pasti diluar sana ada jutaan rakyat yang terkapar dalam kemiskinan , yang akan siap menerima jatuhnya uang itu. Dia tersenyum puas …

0 comments:
Post a Comment