Suatu saat dia datang kepadaku. Wajahnya nampak menyimpan kesal.
“Apa artinya kebersamaan bila tidak ada respect lagi.” Demikian katanya mengawali. Saya tidak tahu siapa yang dia maksud. Saya hanya diam.
“ Keliatannya rumah tangga saya sulit dipertahankan “ lanjutnya. Maka tahulah saya yang dimaksudnya adalah istrinya, rumah tangganya., Saya tak ingin mengomentari kata katanya. Saya tahu précis bahwa masalah ini bukan masalah yang mudah saya campuri. Dia sahabat saya dan saya mencintai dia. Namun saya tak ingin membakar hatinya hanya sekedar mendukungnya. Kecuali saya siap menjadi pendengar.
“ Bayangkanlah oleh kamu” Katanya “ Dia sangat pencemburu. Awalnya saya bisa memaklumi karena begitulah pada umumnya wanita. Tapi lambat laun ini sudah mengganggu saya. Dia lebih cenderung saya sebut paranoid. Ini penyakit. Sedikit dibawah orang gila. Sangat tidak rasional. Teman wanita dikantor dicurigainya. Setiap pulang kantor , dia cium baju saya. Untuk memastikan saya tidak bersinggungan dengan wanita lain. Kan gila ini. Kamu tahu, bila dia sedang larut dalam emosi cemburunya , dia bersikap sangat mengesalkan saya. Semua serba salah. Padahal tak pernah sedikitpun terbersit dihati saya untuk selingkuh. Tidak pernah. Karena saya sangat mencintai dia dan tentu ingin menjaga kehormatan dihadapan anak anak saya. Saya rasa rumah tangga saya tak bisa lagi dipertahankan karena tidak ada lagi kepercayaan. Untuk apa kita hidup bersama seseorang bila tak ada lagi rasa saling percaya."
Dia terdiam setelah lelah dengan kata katanya, yang penuh dengan emosi. Saya tak ingin mengomentari. Saya hanya diam. Saya tahu dia butuh dukungan saya, untuk mengerti keadaannya.
“ Bagaimana pendapat kamu “ tanyanya. Nah benarkan, dia butuh pendapat saya.
“ Jangan bercerai, Jagalah istrimu karena itu amanah terindah dari Allah. Apapun dia, dia adalah cobaan dari Allah kepadamu, sebagai pemimpin dirumah dan juga ayah dari anak anakmu.”
“ Tapi , dengan sikapnya itu …”
“ Jangan bercerai! "Kataku tegas. “ Itupun kalau kamu masih anggap saya sebagai sahabat."
Dia terdiam. Matanya mencoba menangkap tajam wajah saya. Mencoba mencari yang tersirat dibalik kata kata saya. Saya tersenyum. Setelah itu dia pergi dari hadapan saya.
Dilain kesempatan dia datang lagi kepada saya, kembali dengan wajah murung.
“ Bagaimana dengan keluargamu ? tanya saya
“ Semakin membuat saya kehilangan semangat untuk terus bertahan.” Jawabnya lesu. Saya terdiam. Dia nampak berpikir untuk berkata sesuatu.
‘ Kamu tahu,dia memang pencemburu. Tapi bukan hanya itu. Dia juga tidak punya respect terhadap saya suaminya. Bayangkan oleh kamu, sedikit saja saya salah, dia sikapi dengan besar. Sehingga masalah kecil menjadi besar. Dia benar benar paranoid. Ketika saya punya masalah dikantor , dia bukannya memberikan semangat malah membuka buka kesalahan saya. Dia bilang saya anak mamilah yang lebih suka berkeluh kesah dan berharap terus diperhatiin oleh orang lain. Dia juga bilang saya lemah dan ceroboh dan banyak lagi yang semuanya seakan merendahkan saya.”
Saya hanya diam tanpa ingin mengomentari.
“ Bagaimana pendapat kamu ?
“ Jangan bercerai, Jagalah istrimu karena itu amanah terindah dari Allah. Apapun dia, dia adalah cobaan dari Allah kepadamu, sebagai pemimpin dirumah dan juga ayah dari anak anakmu.”
“ Tapi , dengan sikapnya itu …”
“ Jangan bercerai! Kataku tegas. “ Itupun kalau kamu masih anggap saya sebagai sahabat.
Belakangan saya dengar kabar teman ini sudah menjadi orang sukses ditempat kerjanya., Jabatannya naik. Mungkin dia termasuk orang sukses berkarir dalam usia muda. Saya yakin dia bahagia dengan karirnya. Benarkah ?
“ Saya benar benar tidak habis piker “ katanya ketika bertemu dengan saya pada satu kesempatan. “ Bayangkan oleh kamu, ketika saya berhasil dalam karir, mendapatkan posisi bagus dikantor , dia bukannya senang malah disikapi dengan biasa saja. Hambar saja. Sementara wanita diluar sana, memuji saya dan bahkan tak henti mengungkapkan kebanggaannya akan saya. Ingin saya berbicara betapa begitu banyaknya tantangan yang berhasil saya lewati dikantor tapi saya malas bicara lebih banyak.Karena percuma saja, dia tidak akan bangga akan itu. Benar benar tidak ada respect lagi.”
Saya hanya diam tanpa mengomentari banyak. Apalagi ikut larut dalam suasana hatinya.
“ Bagaimana pendapat kamu ?
“ Jangan bercerai, Jagalah istrimu karena itu amanah terindah dari Allah. Apapun dia, dia adalah cobaan dari Allah kepadamu, sebagai pemimpin dirumah dan juga ayah dari anak anakmu.”
“ Tapi , dengan sikapnya itu …”
“ Jangan bercerai! " Kataku tegas. “ Itupun kalau kamu masih anggap saya sebagai sahabat.
Suatu saat saya mendapat email dari teman ini bahwa dia akan menunaikan haji bersama istrinya. Dia juga memohon doa dari saya. Saya jawab dengan tegas bahwa doa saya selalu bersamanya. Saya senang karena dia tetap utuh dalam kebersamaan dengan istrinya. Walau saya tahu sedikit banyak tentang rumah tangganya.
Sepulang dari haji dia kembali menemui saya. Kami berbicara santai. Wajahnya nampak cerah.Tak nampak lagi wajah kesal.
“ Dapatkah kamu menjelaskan dibalik nasehatmu agar saya tidak bercerai. Padahal berkali kali saya katakana sifat istri saya pencemburu sehingga terkesan tidak respect kepada saya, suaminya., Istri saya mudah larut dalam emosinya bila saya melakukan kesalahan kecil. Tak suka memuji saya , apalagi nampak berbangga akan keberhasilan saya. Selalu menyikapi kelemahan saya dengan kata kata yang menyadarkan akan kelemahan saya, kebodohan saya, dan lain sebagainya. “
Saya tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“ Patutkah saya jelaskan itu “
“ Please “
“ Mengapa “
“ Please “
“ Baiklah saya jelaskan kepada kamu. Mengapa istri pencemburu ? Karena dia tahu kita ini pecundang soal perempuan. Kita bangga dengan kekuatan rasionalitas kita tapi lemah dalam soal nafsu birahi. Makanya dia akan terus jaga kita dari kehinaan dan kebodohan dari nafsu sesat kita. Itu tandanya istri mengenal kita sepenuhnya dan peduli untuk itu. Dia jaga kita agar kita tetap bijak walau dengan caranya kadang mengesalkan termasuk cemburu.
Mengapa istri selalu marah dan ngomel kalau suami pulang telat dari kantor. Karena istri menginginkan kita menjaga keseimbangan antara kerja dan istirahat. Manusia itu bukan mesin yang tidak kenal bandrol. Dan lagi itu tandanya istri anda peduli. Dia juga ingin agar mengenal dia, memahami dia.
Mengapa kadang istri merasa tidak puas dengan hasil yang kita bawa pulang. Karena dia menginginkan kita bekerja lebih keras, lebih creative, lebih tekun. Tujuannya agar kita dapat bersaing dengan tangguh dan hasilnya dapat lebih bukan hanya untuk keluarga juga untuk orang lain. Dia ingin anda sempurna menjadi bagian dari dirinya.
Kita kadang lelah dengan banyak masalah dikantor tapi kadang istri tidak peduli dengan kita.Malah terus saja menyalahkan kita.. Dia menyalahkan kita karena tidak pandai mengelola masalah. Tujuannya agar kita lebih hati hati. Agar lebih bijak menghadapi masalah dan bukanya mencari mencari biang kesalahan. Tapi memperbaikinya dengan bijak. Dia ingin setiap waktu kita mengoreksi diri kita. Dialah pengingat kita disaat kita lupa dan bingung.
Anehnya, kalau kita berhasil dalam suatu tugas, bukannya dipuji tapi malah biasa saja. Padahal orang lain memuji kita dengan segala penghormatan. Itu tidak aneh. Dia hanya tidak ingin kita larut dalam pujian. Orang lebih banyak jatuh karena pujian bukan karena cacian. Juga yang harus kamu ketahui bahwa kalau orang lain melihat kita dengan apa yang kita capai tapi istri kita melihat kita dari semua kekurangan kita. Dia inginkan kita sempurna dan terhindar dari segala hal yang membuat kita rendah, salah satunya akibat dari pujian.
Tapi mengapa pula , kalau kita salah dia ngomel seperti kita ini anak kecil. Kadang marahnya seperti kita ini orang lain...mengapa ? Karena memang kita pantas diperlakukan seperti anak kecil. Kita merasa dengan telah bekerja seharian mencari nafkah maka kita pantas berbuat salah dirumah. Itulah yang membuat kita seperti kanak kanak atau seperti orang lain yang bergaya seperti mandor. Juga harus diingat bahwa kecintaan istri kepada kita bisa saja terungkapkan dalam bentuk apa saja, termasuk ngomel. Dia inginkan kita sempurna dan karenanya sedikit saja kita salah disikapi dengan emosinya..”
“ Tapi dengan sikap istri seperti itu , telah membuat banyak pria didunia ini menderita dan tidak menemukan kebahagiaan. Makanya banyak pria mencari kebahagiaan diluar rumah…Adilkah untuk pria ini..” Katanya. Saya hanya tersenyum.
“Bahagia atau menderita , itu soal pilihan bersikap. Hidup bukanlah untuk mendapatkan apa yang kita mau tapi melewatinya. Itulah yang kadang orang lupa sehingga ketika dia tidak mendapatkan sesuai yang dia mau maka dia menderita. Padahal manusia telah mendapatkan sesuatu nikmat yang luar biasa dari Allah. Yaitu cinta. Ini adalah satu rahmat Allah dari 100 rahmat yang Allah akan berikan di sorga kelak. Diharapkan dengan rahmat cinta ini , Allah mendidik melalui pasangan kita agar kita tidak larut dalam kesesatan. Selagi kita malas, suka berdusta, emosional, penakut, terlalu banyak kawatir, boros, mata keranjang , senang dipuji maka rumah tangga bukanlah tempat yang nyaman namun tetap membuat kita betah karena didalamnya ada rahmat cinta yang dianugrahkan allah melalui pasangan kita. Jadi perasaan cinta itu mengungkung kita untuk tidak lari dari arena pendidikan. Karena yang tahu pasti siapa kita ,ya pasangan kita. Dihadapan pasangan , kita semua telanjang. Tanpa topeng. Wanita diluar sana melihat kita dalam keadaan bertopeng dengan dasi, jas atau pangkat kita. Maka sikap merekapun juga topeng. Sementara istri kita melihat kita dengan mata cinta, bahasa istri kita adalah bahasa cinta , sikap cinta yang murni tanpa kepalsuan. Dengan semua itu , walau kadang sikapnya terkesan tidak rasional dan tidak menyamankan tapi begitulah cara Allah mendidik kita…”
Dia tersenyum mendengar kata kata saya. Nampak ada cahaya kebenaran kedalam pikirannya.
“Bisakah kita merubah sifat istri kita agar sesuai yang kita mau ? “
“ Bisa. “ jawab saya tegas. “ Asalkan syaratnya kita sudah sempurna sebagai laki laki. Sikap istri kita dirumah adalah repliksi dari cara Allah mendidik kita agar kita berubah sesuai yang Allah inginkan. Itulah indahnya Allah mendidik kita , melalui pasangan kita, setiap hari kita dipaksa untuk meng update kepribadian kita untuk amanah, pekerja keras, tawadhu, sabar dan ikhlas, yang kadang cara dan suasananya tidak menyamankan. Makanya sikapilah suasana hati istri kita dengan bijak agar kita tidak larut dalam penderitaan yang tidak perlu. ”
“ Tapi,bukankah hadith banyak bercerita tentang wanita soleha seperti Chadijah, Aisyah,Fatimah dan lain lain. Mereka semua ahli sorga. Mengapa ini tidak dijadikan panutan oleh para istri untuk membahagiakan suami “ Katanya mencoba beragumen..
“ Fatimah adalah istri Ali dan kita bukanlah manusia sekelas Ali bin Abi Thalip, apalagi sekelas Rasulullah. Jadi berhentilah mengharapkan kesempurnaan istri seperti yang kita mau selagi kita sendiri belum sempurna. Kita harus melatih diri kita sempurna melalui sikap istri dan begitupula sebaliknya istri melatih sempurna dengan sikap kita. Bila satu menjadi dua dan dua dipersatukan oleh Allah maka Allah lah yang akan menjadikan kesempurnaan itu. Caranya tentu tidak murah dan mudah, Harus diperjuangkan. Makanya , jangan bercerai atau melihat wanita diluar sana ketika apa yang diinginkan tidak bersua dengan kenyataan. Rumah tangga bukanlah tempat meraih apa yang kita inginkan tapi apa yang kita butuhkan untuk hidup, untuk sempurna seperti apa yang Allah mau.
Dia tersenyum bahagian. ‘ Terimakasih telah menjadi sahabat saya dan salalu menjadi penyeimbang ketika saya berada dipersimpangan jalan. Apa yang kamu jelaskan, saya telah mendapatkan hikmah dari itu semua dari pengalaman rumah tangga saya. Terimakasih..

0 comments:
Post a Comment