Friday, February 17, 2012

Ketika...

Dikamar tak lebih berukur 4 meter. Dia tergeletak di dipan lusuh. Tubuhnya terbujur lemah. Matanya terpejam. Wajahnya pucat. Itu yang kusaksikan ketika sampai ditempat kost nya. “ Sejak kepulangannya dari Taipeh , dia nampak murung. Kadang menangis sendiri tanpa sebab. Bila ditanya dia hanya diam. Bila malam dia tahajud dan berdoa dalam berurai air mata.  Ketika pulang dari Taipeh uang dia hanya bisa menyewa kosan ini untuk tiga bulan. Kini dia sakit. Tak ada uang untuk berobat. Sayapun sebagai sahabatnya tak bisa berbuat banyak.  Ingin saya ajak dia pulang kampung tapi dia bersikeras tak mau pulang. “ Demikian sahabat Dewi mengatakan kepadaku. Aku terenyuh. Dengan serta merta aku memanggil ambulance untuk membawa Dewi ke rumah sakit.  Dewi terkena radang usus dan butuh perawatan dokter di Rumah sakiat. Aku berikhlas hati untuk menanggung semua biaya berobat Dewi untuk diopname selama dua minggu.

Ketika Dewi sembuh dari penyakitnya ,seorang kenalanku  yang kebetulan membutuhkan karyawan customer service menerima Dewi sebagai karyawan. Setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Dewi.  Mengapa aku ceritakan tentang Dewi kepadamu ? sebetulnya tidak ada yang istimewa. Namun baiklah aku ceritakan selengkapnya. Dia kali pertama aku mengenalnya di Taipeh 10 tahun yang lalu.  Perkenalanku dengan Dewi disuatu tempat hiburan di Taipeh. Ralasi businessku mengajaku menikmati hiburan malam di Taipeh disebuah KTV berkelas. Ketika deretan gadis ayu berjejer didepan kami, pandanganku kepada seorang wanita bermata sipit, yang disebutkan oleh Mamisan bahwa dia berasal dari Indonesia,namanya Dewi. Aku memilihnya untuk menjadi pendampingku.

Aku memang acap terjabak dalam pergaulan dunia hiburan seperti ini tapi ini bagian dari resikoku dalam dunia business. AKu berusaha untuk tidak larut dan sadar bahwa minuman keras dan free sex adalah dosa besar. Dua hal ini kujaga dengan segala daya agar aku tetap tawar ditengah laut yang asin.  Itulah sebabnya kuminta mamas an mengizinkan Dewi mengganti pakaiannya yang sopan selama mendampingiku. Kulihat mamasan nampak terkejut dan merasa aneh dengan sikapku namun aku tak peduli.
“ Kamu dari Indonesia “ tanyaku.
“ Ya Om.
“ Sudah berapa lama kerja disini ?
“ sudah hampir setahun. “ katanya dengan pandangan tertunduk kebawah. Kutahu Dewi merasa tidak nyaman berada disampingku karena mungkin aku berasal dari Indonesia. Namun , mamisan, mengatakan bahwa Dewi memang begitu sifatnya. Namun dia tetap primadona di KTV ini. Dia lembut dan pasrah untuk memanjakan setiap tamunya.
“ Bagaimana kamu sampai kerja ditempat ini ?
“ Awalnya saya ditawari untuk menjadi duta seni datang kemari.Setelah melewati standard test di agend modeling di Jakarta, akhirnya saya diberangkatkan ke Taipeh. Namun setelah sampai disini malah diperkerjakan ditempat hiburan., Tak ubahnya sebagai pelacur. Saya tak berdaya karena sudah kontrak. Dan lagi ketika kerja disini orang tua saya terpaksa menggadaikan sawah rumah untuk bayar biaya keberangkatan. “
“ Kamu tamatan apa sekolahnya ?
“ Saya tamatan ABA. “
“ Oh itu sebabnya kamu bisa bahasa inggeris dengan sempurna dan bekerja ditempat berkelas seperti ini.”
Dewi hanya mengangguk. 

Aku tak mau lagi bertanya lebih jauh. Bagiku ini sudah menjadi cerita klasik ditempat hiburan bahwa semua wanita pada dasarnya tak ingin menjadi pelacur. Karena tuntutan hidup atau karena kebodohan mereka akirnya menjadi korban. Namun yang  saya tahu pasti bahwa mereka sadar akan dosa dan setiap hari mereka tentu menyesal dengan perbuatannya itu. Sementara dibanyak kehidupan , banyak orang tak sadar dia berbuat dosa. Bisa saja orang yang bangga akan amalannya namun pada waktu bersamaan dia sedang menggenggam dosa besar akibat sombong dengan amalannya. Entahlah. Aku lemah untuk mengatakan aku lebi baik dari pelacur karena kelemahan itulah aku bersikap halus untuk sekedar meyakinkan mereka aku tidak termasuk orang yang suka mengexploitasi mereka.

Ketika jam menunjukan dini hari , relasiku menutup Bill. Aku memberikan tip kepada Dewi. Dia menolak dengan halus. Alasannya cancel bill untuk membawa dia kehotel.  Namun aku tetap bersikeras agar dia menerima tip dua lembar 100 dollar amerika ketangannya.

“ tidak perlu om.  “ Katanya sambil mundur dan berusaha untuk menjauh dariku. Namun ketika aku keluar dari ruang KTV , Dewi tetap mengantarku sampai didepan pintu dan saat itulah aku memaksakan agar dia menerima tip dariku, Diapun menerima dan nampak airmatanya berlinang. Entah kenapa aku memberinya kartu namaku.

Sebulan setelah pertemua itu, aku mendapat email dari Dewi. Pesan yang ditulisnya dalam email itu sangat mengharukan. Betapa tidak. Menurutnya dan berdasarkan pengalaman teman temannya, mereka akan di rotasi dari tempat yang mewah sampai ketempat yang kumuh. Dia mengkawatirkan keselamatannya bila sampai di rotasi ketempat yang kumuh.  Dia hanya berharap agar aku dapat menolongnya pulang ke Indonesia.  “ Dewi ingin pulang, om. Bantu Dewi. “ Demikian diakhir kalimatnya.

Email Dewi aku forward keteman di Taipeh yang kukenal punya relasi kuat di pemerintahan. Aku tidak menjanjikan apapun kepada Dewi. Aku hanya bisa berdoa semoga teman di Taipeh bisa membantunya pulang ke Indonesia. Pada saat itu aku marah kepada pemerintah yang membiarkan izin agent duta seni menyalahkan gunakan izinnya. Seharusnya tidak sulit bagi pemerintah untuk mengetahui penyelewengan izin itu asalkan pihak kedutaan atau konsulat mau bekerja melakukan investigasi terhadap penempatan tenaga kerja. Tapi memang rakyat tak bisa berharap banyak pemerintah akan peduli kepada mereka.  Sudah nasip menjadi buruh migrant memang tak ubahnya seperti orang buangan. Terlupakan didalam negeri dan terabaikan diluar negeri.

Dua bulan setah itu, akupun mendapat telp dari seseorang mengatakan bahwa dia sahabat Dewi dan Dewi sedang sakit keras. Itulah mengapa aku datang ketempat kost Dewi dan akhirya tergerak hati untuk menolongnya. 

Tahun 2003 Desember. Aku berangkat ke tanah suci melaksanakan rukun islam ke lima. Pada  hari Jumat, aku melaksanakan sholat jumat di Masjidil Haram. Ketika itu semua tempat yang beratap penuh. Tersisanya hanya satu tempat luang didekat Ka’bah. Cuaca panas sekali. Teman yang satu rombongan haji, kebetulan juga adalah ustadz, memilih keluar dari shap. 

” Ini konyol. Kita bisa mati kepanasan disini.Bukan soal keimanan tapi ini sudah konyol. ” Kata teman itu yang segera berdiri dan berusaha mencari tempat lain yang ada atapnya. Aku mem ilih tetap ditempat. Sementara Kotbah jumat sedang berlangsung. Beberapa orang dari negara lain, tetap bertahan karena mamang mereka punya daya tahan tubuh yang kuat. Selang beberapa menit , kepala terasa pusing dan lemah sekujur tubuh. Kening berkeringat banyak. Aku tertunduk dalam keadaan duduk bersila. Serasa tubuh seperti melayang jauh keudara. Nampak seorang wanita berhijab putih tersenyum kearahku . Dia memberi air zam zam. Seketika tubuh terasa segar dan sekonyong konyong aku sudah  berada didalam istana nan indah dan sejuk. Nampak dari kejauhan pengkotbah jumat dan orang yang hadir, semua berseragam putih. 

Ketika usai sholat jumat , aku berdiri melangkah kegerbang Babusalam. Aku  terkejut ketika nampak dari jauh Dewi melambaikan tangan kearahku  dan menghilang dibalik punggung orang ramai. Teman taman satu rombongan denganku  nampak  semua bingung karena melihatku tidak berkeringat dan tetap segar.

Ketika sampai di hotel. aku teringat Dewi dan ingin mengirim email kepada dia. Tapi , didalam mail box aku sudah terdapat email dari dia. Isinya.

Aku terima email dari Om tentang rencana keberangkatan om ketanah suci. Setiap malam aku tahajud untuk memohon ampun kepada Allah. Juga aku tidak pernah berhenti berterimakasih dengan segala keikhlasan om membantuku. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk membalas kebaikan om, kecuali dalam setiap tahajud, aku berdoa untuk keselamatan om. Doa ku kepada Allah ” Tuhan dengan segala dosaku rasanya aku tidak pantas untuk meminta apapun kepadamu. Karena begitu banyak nikmat yang telah engkau berikan kepadaku. Namun, ya Allah, Seorang manusia yang engkau kirim kepadaku yang akhirnya aku dapat menemukan kembali keimananku setelah masuk dalam lembah hitam, kini dia sedang berada di rumah mu ya Allah. Bila semua adalah karena Mu, maka lindungilah seseorang itu dari segala bencana. Engkau maha tahu dan berkuasa diatas segala galanya. ...”

Telah lebih 10 tahun aku tidak pernah bertemu lagi dengan Dewi. Aku yakin Dewi akan bahagia hidupnya ketika dia menemukan kembali Allah , jalan Allah,. Karena sudah janji Allah bahwa manusia akan selamat hidupnya bila dia mendekat kepada Allah dengan sesal tak bertepi atas segala dosa dosanya. Bagiku , kisah tentang Dewi tak ubahnya cara Allah berdiallogh denganku tentang makna sabar atas segala godaan nafsu rendah  dan ikhlas berbuat. 



***
Siapapun kita bisa berbuat salah dan akhirnya terjerumus dalam kemaksiatan. Namun siapapun kita akan kembali kepada jalan Allah asalkan kita sadar akan perbuatan kita itu dilarang dan dibenci oleh Allah. Dan teruslah  berjuang untuk kembali kepada Allah maka pertolongan Allah akan sampai dengan pintu tobat seluas luasnya. Namun ada orang yang begitu bangga dengan amalannya dan tanpa disadarinya dia sombong dengan amalannya. Dosa sombong orang yang beramal banyak jauh lebih besar bencananya daripada dosa seorang pelacur yang jelas sadar perbuatannya tercela dan hina...

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Ketika...

0 comments:

Post a Comment