Monday, October 3, 2011

Menanti maaf...

Sebelumnya wanita itu tidak berdiri didepan gerbang tapi dia duduk dipojok ruangan cafe itu bertemankan segelas soda sambil matanya menatap kearah pintu masuk. Setelah itu entah mengapa dia tak lagi didalam cafe tapi berdiri diluar. Dari luar dia memandang kearah pintu cafe dengan pakaian lusuh. Setiap sabtu malam ,pengunjung cofe yang berada dijantung bisnis keuangan shanghai akan terbiasa melihat seorang wanita berdiri didepan pintu gerbang Cafe itu. Siapakah wanita itu. Tak banyak orang yang tahu. Para pengunjung tidak peduli dengan kehadiran wanita itu. Begitupula dengan saya.

Untuk kesekian kalinya saya kembali berkunjung ke Shanghai tapi wanita itu tidak nampak lagi didepan cafe. Pandangan mata saya menyapu kesekitar gerbang cafe seakan mencari cari wnita itu.

“ Wanita itu tidak akan pernah lagi menunggu. “ Kata teman yang mendampingi saya di cafe itu.
“ Siapa yang kamu maksud” tanya saya pura pura tidak tahu.
“ Wanita yang selalu ada didepan pintu gerbang cafe itu. Ya kan. Jangan boong. Aku ini wanita punya indra kesepuluh tahu” Mata sipitnya berusaha melotot didepan wajahku.
“ Ya “ Saya bermerah wajah menahan malu.
“ Mau tahu mengapa wanita itu selalu didekat pintu masuk ? tanyanya
“ Mengapa ? Saya penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang wanita itu.
***
Namanya Wang Nie. Dia kelahiran Xinjiang. Dengan berbekal ijazah Academy Bahasa , dia mengadu nasif di Shanghai. Memang shanghai kota kapitalis yang bernaung dalam system komunis. Geliat kota sanghai tak ubahnya Hong Kong, New York, Dubai. Semua orang berkompetisi. Begitulah yang dirasakan oleh Wang yang terjepit diantara arus kota cosmopolitan. Dia hanya bisa mendapatkan peluang sebagai SPG disalah satu Mall yang banyak tersebar di Shanghai. Kehidupan Wang berubah ketika berkenalan dengan pria berkembangsaan Amerika. Pria itu bekerja sebagai tenaga ahli disalah satu bank asing di Shanghai. Cinta mereka bertaut seakan tak terpisahkan. Wang pun pindah ke Apartement pria itu setelah menikah. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Tak lebih 1 tahun. Pria itu harus kembali ke Amerika. Mereka berpisah untuk janji akan berkumpul kembali.

Sebulan setelah kepergian Pria kekasihnya, Wang hamil. Seiring membesar kandungannya Wang terpaksa berhenti bekerja dan hidup dari bekal pemberian pria kekasihnya itu. Wang terus menanti dan berharap pria itu akan kembali kepadanya. Tak terbilang surat , kartu Pos, serta email dikirm. Namun balasan tak kunjung datang. Wang tak pernah putus asa. Dia tetap berprasangka baik bahwa kekasihnya akan datang menemuinya dengan cinta. Bayi wanita cantik lahir dalam kesendirian tanpa suami pendamping ditengah kerasnya kehidupan kota shanghai. Wang harus berpikir untuk bertahan hidup sambil berharap suatu saat pria kekasihnya akan datang. Dia berusaha bekerja keras apa saja untuk bertahan hidup. Sampai batas dayanya, akhirnya dia harus menerima kenyataan untuk berpisah dengan putrinya.

Dengan langkah berat dia menyerahkan putri kecilnya kepada agent adopsi anak. Semua surat yang diperlukan untuk menyerahkan putri kecilnya dia tanda tangani. Tentu dengan airmata berurai melepaskan buah cinta kasihnya bersama pria kekasihnya. Itulah sisi lain betapa kejamnya kehidupan kota kapitalis. Wang merasakan itu namun dia berkayakinan itulah yang terbaik untuk putri kecilnya, untuk masa depan anaknya.

Teman itu terdiam sebentar. Saya terharu mendengar cerita yang sangat menyentuh itu. “ Apakah Wang membenci pria itu ?
“ Wang tidak pernah membeci.Dia selalu mencintai pria itu. Dia berharap dan berharap suatu saat pria itu datang kepadanya. “
“ Untuk apalagi ? Bukankah buah cintanya dengan pria itu telah diberikan kepada orang lain. Apakah ada istri yang pantas disebut ibu untuk di cintai seperti Wang itu ? Tanya saya
“ Itulah persoalannya.Dia selalu menanti dan menanti”
“ Oh…” saya tersekak. “ Lantas gimana kelanjutan ceritanya.

Teman itu tersenyum melihat saya penasaran. Lima tahun setelah dia menyerahkan putrinya kepada agent , lanjut cerita teman itu. Lima tahun pula setiap sabtu dia datang berkunjung ke caffee ini. Sampai pada batas dimana penantian itu ada akhirnya. Pria itu kembali ke Shanghai menemui Wang. Tapi tahukah kamu bahwa pria itu datang tidak sendirian tapi dia datang bersama istri yang dinikahinya di Amerika. Mereka datang ke Shanghai karena anak yang di adobsi melalui agent di AS , ternyata DNA anak itu sama dengan DNA pria itu; Anak kecil yang lahir di Shanghai, yang juga putri dari Wang , buah dari cinta dengan pria itu.

Saya tersentak. “ Bagaimana mungkin? Ini miracle. Suatu kebetulan yang langka.” Kata saya. 
Teman itu tidak meresponse kata kata saya namun dengan analogi hebat dia berkata “ Tahukah kamu ada miliaran sperma yang berjuang melintasi kanal uterus untuk sampai ke ovarium membuahi ovum. Tapi hanya satu yang berhasil. Dari satu inilah terjadi proses pembetukan manusia didalam rahim ibu. Begitupula dengan ada puluhan jutan anak ditawarkan untuk di adobsi oleh agent tapi hanya satu jatuh kepelukan orang tua angkat, pria itu yang ternyata adalah putrinya sendiri. Tidak ada yang luar biasa soal itu. Yang luar biasa adalah proses terbentuknya manusia. ITulah yang miracle tapi banyak orang lupa bahwa keberadaannya sebagai mahkluk memang miracle. Itulah kehebatan Allah yang tak tertandingi oleh apapun.”
“ Dan karena itulah , Pria itu berusaha untuk bertemu kembali dengan Wang?. Tanya saya. “ Lantas setelah mereka bertemu ? Saya penasaran.
“ Wang hanya inginkan maaf dari pria itu. Hanya itu. “
” Hanya itu ???
“ ya!”
“ Mengapa Wang tidak marah kepada pria brengsek itu? Kata saya kesal.
“ Bagi Wang, tidak ada yang perlu dimarahi atau disesali terhadap pria itu. Ketika dia mencintai pria itu, dia tidak berharap banyak seperti cinta yang kita persepsikan selama ini, yang selalu meminta. Baginya anugrah cinta pria itu lebih dari cukup yang harus disyukurinya. Kegagalannya menjaga anak buah cinta mereka itulah yang membuat dia merasa bersalah dan berdosa. Dia hanya inginkan maaf. “
“ Apakah pria itu memaafkan Wang?
“ Tentu memaafkan.
“ Terus”
“ Bagi Wang Nie, semua sudah usai. Dia tidak sedih bila pria itu mengaku telah menikah kembali dan kini anaknya ada dalam pelukan pria itu lewat proses miracle. Dia mengikhlaskan pria itu untuk kembali ke negerinya bersama anaknya serta istrinya.
“ Power of love” kata saya singkat.
“ Tepat sekali. Cinta bukanlah soal mimiliki tapi adalah memberikan sesuatu yang pada waktu berasamaan kita sangat menginginkannya. Bertemu karena Tuhan, berpisahpun karena Tuhan. Mengapa ini semua terjadi, itupun rahasia Tuhan. Tak cukup akal untuk menjelaskan itu semua. Semua orang melewati takdirnya masing masing dan Wang sadar itulah kini yang terbaik baginya untuk sepatah kata tentang Cinta.” Kata teman dengan mata sipitnya yang menari nari melihat kedalam mata saya untuk mencoba menyatukan kata katanya dengan bahasa oralnya. Untuk saya pahami, tentunya. Saya hanya tersenyum. Semua wanita , mempunyai kekuatan cinta lebih dibandingkan pria.

Setelah usai bersantai di cafe itu, sebelum berpisah dengan teman itu, saya kembali bertanya” Bagaimana kamu bisa tahu kisah wanita itu. Teman itu tersenyum sambil berkata “ Pada acara talk about the love di Radio. Mungkin karena setiap hari sabtu dia datang ke Cafe ini mengundang perhatian orang banyak. Salah satunya adalah petugas Radio yang merasa pantas mengajaknya berdialogh dalam acara menjelang pagi”
“ Oh I see. Dan mengapa wanita itu selalu menanti di cafe ini? Tanya saya lagi.
“ Karena di cafe inilah Pria itu pernah berjanji akan kembali untuk Wang. Dan Wang percaya. Akhirnya mereka bertemu disini”
" Dan.."
" Ah. Sudahlah. Capek jawab pertanyaan kamu. Nih, udah malam. Besok harus kerja. Dan lagi wanita itu berkat kisahnya di radio membuat salah satu pria muda kaya raya di Shanghai tersentuh dan akhirnya menikahinya. " kata teman itu dengan tersenyum dan mengajak saya berlalu dari cafe itu.
***
Dalam kehidupan, ketika diri berlumuran dosa karena maksiat dan pintu tobat memang terbuka lebar dari Allah. Allah maha pemaaf. Namun proses maaf itu tidak dijemput dengan mudah. Harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh. Sampai pada puncaknya ketika orang tak lagi berharap banyak dari Allah kecuali ampunan dari Allah. Maka ketika itulah Allah tahu bahwa sesal kita karena kecintaan kita kepada Allah tanpa syarat. Tak berharap apapun kecuali cinta dan cinta kepada Allah. Karena cintalah kita melepaskan segala keinginan kecuali sebuah kebutuhan untuk dimaafkan. Bapak Adam dan Bunda Hawa telah membutikan ratusan tahun terpisah setelah terlempar dari sorga akibat melanggar larangan Allah. Selama itupulan mereka tak henti berdoa memohon ampun kepada Allah. Tidak ada henti, ratusan tahun lamanya sampai akhirnya dipertemukan Allah di Arafah…

Berkat kecintaan kita kepada Allah lah maka Allah memaafkan kita. Sebagaimana Nabi Yunus yang lari dari kaumnya dan akhirnya terlempar disamudra, terjebak didalam perut ikan paus. Dalam sesal ditengah rintihan doa “ Tiada tuhan selain Allah sesungguhnya aku termasuk orang yang zolim”. Hanya itu rintihan yang keluar dari mulut dan hatinya, tak berharap apapun kecuali ampunan dari Alllah….Ya benarlah kata orang bijak bahwa Cinta manusia hanyalah kepada Allah , yang lain hanyalah cobaan dari Allah untuk menguji kesempurnaan iman kita. Bila cinta Allah yang kita jemput maka dunia dan akhirat akan menjadi tempat sebaik baiknya untuk kita.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Menanti maaf...

0 comments:

Post a Comment