“ I am currently in Hong Kong. “ Hanya itu SMS yang diberikan kepada pria “temannya”. Dia tidak menyebutkan hotelnya. Karena pria temanya itu sudah tahu dimana dia biasa menginap. Selepas itu jantungnya bergetar hebat. Tangannya terasa dingin, juga kakinya. Dia gelisah. “ Mengapa ? “ itulah pertanyaan yang selalu disesalinya namun tak pernah dia bisa membendung kerinduannya untuk bertemu pria temannya itu. Tadi siang memang melelahkan. Meeting dengan ralasi berjam jam dalam negosiasi yang melelahkan. Tapi itulah dirinya yang harus bertanggung jawab sebagai executive puncak perusahaan Publik. Dia bersyukur sebagai wanita karir yang belum genap usia 40 tahun sudah mendapat posisi bergengsi yang membuat iri banyak orang.
Pria temannya itu sudah berada didepan pintu kamar hotel.. Sebagaimana biasanya dia tak sanggup untuk berkata’ Tidak” walau batinnya menolak. ‘ Win, I miss you” kata pria itu sambil menyalaminya. Pria itu terlalu bijak menyikapi persahabatan mereka. Soft hug. Selalu begitu.
“ Aku suda siap.” Katanya kepada pria itu. Dengan gaun malam , dia nampak begitu anggun. Pria itu menampakan wajah terpesona. Dia senang tapi juga cemas.
“ Ditempat biasa,kan dinner nya “ Kata pria itu.
Dia hanya tersenyum. Selalu pria itu tahu bagaimana membuat dia merasa remaja dan diperlakukan begitu istimewanya. Restoran itu berada diartas atap hotel berbintang Lima. Suasana Summer dibawah temaram lampu lilin dengan hamparan cahaya malam Hong Kong. Membuat suasana begitu romantisnya. Alunan music lembut dari biduanita asal Filiphina membuat suasana begitu larut dalam gelora cosmopolitan yang berkelas. Pria itu selalu senang memandangnya berlama lama. Kadang dia risih tapi begitulah pria temannya ini mengaguminya. Dia tersanjung tentunya. Dia memikirkan jauh ribuan mill suaminya yang harus bergelut dengan perjuangan mendapatkan Phd. Sudah lebih dua tahun mereka terpisah oleh jarak dan kesibukan masing masing. Namun hubungan mereka baik baik saja. Mereka keluarga modern yang paham menghargai privasi masing masing.
“ Win..” seru temannya. Membuat lamunannya buyar. “ bagaimana kabar Mas mu “ Lanjut pria itu dengan lembut.
“ Mungkin tahun ini pulang. Semoga”
“ Oh , syukurlah. Artinya kamu tidak perlu kekeringan dimusim hujan kan”
Dia tersentak. Karena pria itu bicara tentang kekeringan dimusim hujan. Tanah yang subur tak pernah disemai sementara pria itu selalu ada untuk dia , untuk menyemai. Tidak ! Biarlah kering, Biarlah semai tertunda. Dia suka pria itu. Dia suka semua perlakuannya. Tapi tidak harus menyemai,kan. Bukankah persahabatan itu begitu indahnya tanpa harus ada semai menyemai. Pemilik ladang telah dilegitimit oleh Allah bahwa itu adalah suaminya. Bukan pria itu.
Dia berusaha mengalihkan pembicaraan ke soal lain. Pria itu dapat cepat memakluminya. Mereka bicara tentang financial engineering. Tentang corporate structure, tentang Corporate Social Responsibility, juga tak lupa membahas soal politik Asia. Kehebatan pria itu bisa membuat pembicaraan yang serius menjadi lelucon segar. Membuat dia tertawa lepas. Tak terasa makan malam itu telah berlangsung lebih satu jam.
Dia berdiri dari korsinya menuju teras melihat panorama hongkong dari atas puncak hotel. Pria itu membiarkannya dalam kesendirian. Kembali dia memikirkan suaminya. Salahkah aku ? pikirnya. Sudah dua tahun kedekatannya dengan pria temanya ini. Mereka bertemu dipesawat dan setelah itu pertemuan terus berlanjut. Dia menemukan semua yang tak dia dapatkan dari suaminya. Suaminya yang serius. Tak romantic. Tak pandai memanjakannya. Tak pandai menciptakan humor segar. Pria temannya itu serius namun santai. Romantis, pandai memanjakannya, juga pandai menciptakan humor segar.
“ Win” Dia kembali terkejut. Pria itu sudah ada dibelakangnya.
“ Aku lelah. Baiknya aku kembali kekamar. Mau istirahat”
“ Oh baiklah. Memang seharusnya kamu istirahat. Apakah kamu inginkan aku menemanimu malam ini ? “
Dia tak menjawab. Tak sanggup berkata tidak dan juga tak bisa berkata iya. Seperti biasanya kebersamaan itu selalu berakhir dalam tekanan diatas kebijakan teman prianya itu. Kebersamaan dalam kesendirian. Pria itu dengan sigap membayar bill walau dia berusaha untuk menahannya. Selalu pria itu begitu.
***
Disibaknya selimut dan diliriknya diseberang twin bed nampak pria temannya masih pulas. Dia berdiri dan berjalan malas kearah jendela kamar dan membuka tirai. Sinar pagi menyeruak kedalam kamar hotel berbintang lima itu. Dia membungkukkan tubuhnya sambil berbisik. “ Good morning ?
“ Jam berapa ? “ jawab pria itu yang masih nampak berusaha memejamkan matanya menolak cahaya pagi.
“ Jam 8. Aku harus pergi. Ada janji breakfast dengan clients “ Jawabnya.
“ Gimana tidurnya? “ tanya pria itu sambil berusaha beranjak dari tempat tidur.
“ Sangat pulas dan pagi ini terasa segar sekali. Doain ya semoga pagi ini dapat a good deal dengan clients. “
“ Aku doakan selalu. Kamu selalu bisa dan selalu tampil sebagai pemenang, Ya, kan.”
“ Ah bisa saja kamu. Bukannya kamu yang fighter sejati. Menjadi inspirasi bagiku. Selalu tampil sebagai pemenang “ jawabnya sambil tersenyum. Ditanggapi oleh pria itu dengan tersenyum pula.
“ Aku rencana minggu depan baru bisa ke Jakarta. Hari ini harus ke Beijing. “ Kata pria itu
“ Jangan lupa bawa suplemen untuk jaga kesehatan kamu “
“ Terimakasih udah diingatin terus !
“ Janga lupa loh, aku ini wanita bersuami dan ibu dari anak anakku. Udah kebiasaan para ibu rewel. Jaga kesehatan kamu. Jangan terlalu keras dengan dirimu, ya. ? Jawabnya “ Aku juga hari ini kembali ke Jakarta. Gimana kabar keluargamu “ sambungnya.
“ Baik baik saja. Aku merindukan mereka “ Nampa pria temannya itu berwajah sendu ketika mengatakan "merindukan mereka". Segera dia memegang bahu teman prianya itu dan berkata “ My dear, I know you're a good husband, a good father. You are a hard worker, I'm sure they always miss you and pray for you every time ..
“ You too!. Best wife and nice mother ” Timpal pria itu.
"Let me say to you my dear, even though you are busy but you give me your caring and attention which are more then enough. I understand us and I am not expecting much from you...."Dia segera masuk kekamar mandi. Sebetulnya berat untuk berkata seperti itu tapi itulah yang bisa dia katakan ditengah pergolakan batinnya sebagai seorang istri yang terjebak kedekatan dengan pria temanya itu.
Seusai mandi dan menggunakan pakaian blazer terbaiknya, dia bersegera melangkah menuju pintu kamar untuk pergi" You take care my dear" Terdengar suara pria itu dari belakang. Dia melambaikan tangan dan menghilang dibalik pintu. Dia melangkah cepat meninggalkan pria "temannya" dalam kesendirian tanpa pernah dapat menyentuhnya walau hubungan mereka telah lebih dari dua tahun. Dia pergi dan dia merindukan pria itu. Selalu.
***
Setiap malam dia tak dapat menikmati tidurnya dengan nyaman ketika membayangkan dirinya terperangkap dalam "kedekatan" dengan pria itu. Dia meradang dan dikuasai oleh paranoia. Walau "temannya" tak pernah menyentuhnya namun pertemuannya dengan pria yang kini menjadi temannya adalah suatu kecelakaan ditengah upayanya untuk menjaga kesucian rumah tangganya.
Masya Allah, bayangkan bila suaminya memergoki dia dalam berduaan dengan pria temanya apa yang akan terjadi ? dia membiarkan imaginasi menyeruak seliar mungkin. Pertama tama,yang akan dilakukan oleh suaminya adalah membunuh temannya. Kemudian, suaminya akan memakinya dengan menyebutnya sebagai wanita kotor dan najis untuk didekati. Atau suaminya akan membacakan rentetan tuduhan ketidak setiaannya. Suaminya akan mengumbar berbagai kata kata philosophy untuk dia pahami tentang arti kesetiaan. Cintanya seperti lautan yang tak bertepi , langit tak berbingkai dan seterusnya seterusnya. Kalimat itu akan meluncur dengan deras hingga dia tak mampu membendungnya dengan berbagai pembelaan.
Patutkah dia melakukan pembelaan. Memberikan bukti walaupun dia berteman akrap dengan pria itu namun tak sehelai rambutpun ia pernah disentuh. Apa yang harus ditakutkan bila kenyataanya memang begitu. Tapi apakah suaminya cukup bijak untuk menyadari tentang hal yang sebenarnya terjadi antara dia dan teman prianya. Apalagi pria itu berkali kali mengatakan ‘Persahabatan kita tak seharusnya melukai orang yang mencitai kita. “ Sangat bijak. Apakah ini bisa dipahami oleh suaminya yang sebentar lagi menjadi Phd ? Entalah.
***
Diruang tunggu kedatangan dia nampak gelisah. Sebentar lagi pesawat suaminya akan datang setelah tiga tahun mereka berpisah.. Seminggu sebelumnya dia telah membeli gaun terbaik untuk menyambut kedatangan suaminya. Dari arah kuridor kedatangan namupak suaminya melangkah cepat dan setengah berlari ketika melihat dia dan anak anaknya. Tidak henti hentinya kedua anaknya dicium dan digendongnya. Ada kecemburuan karena suaminya lebih memperhatikan anak anaknya daripada dia. Terbukti suaminya tidak memberikan ciuman kerinduan padanya. Suaminya lebih merindukan anak anaknya. Sejenak kemudian , suaminya menatapnya dan menggandeng tangannya melangkah keluar airport.
***
Malam terasa panas. Membuat dia tak dapat tidur. Kegelisahannya semakin menjadi jadi ketika suaminya masih asik dengan teman temannya diluar rumah. Suaminya lebih merindukan teman temannya daripada dia. Apakah suaminya tidak pernah merasakan betapa beratnya dia menanti dalam kesendirian menahan segala gelora dari kehadiran teman prianya. Saat ini dia sangat membutuhkan sentuhan pria. Dan itu dia rindukan dari Suaminya.
‘ Sayang , Maaf aku terlambat pulang “ Wanita itu tersentak dan terjaga dari tidurnya. Dilihatnya suaminya sudah berada disisinya.
“ Eh, Mas, sudah pulang. Maaf aku ketiduran. Sudah Makan ? “ Dia berusaha berdiri namun suaminya memegang tangannya. “ Sayang, aku sudah makan. Tidurlah lagi “ langkahnya terhenti dan ditatapnya suaminya. Ingin rasanya dia memeluk tapi suaminya asik dengan buku bacaan ditangannya. ‘
" Sayang…” seru suaminya. Dia tersentak dan berharap …
“Banyak suami menilai istrinya bagaikan mutiara. Tetapi sebenarnya, mereka justru merusak dan tidak menghargai kebahagiaan istrinya? Mereka memuliakan istrinya, mereka cintai sebagai barang berharga, mereka anggap 'mutiara', tetapi sebagaimana orang selalu menyimpan mutiara di dalam kotak, demikian pula mereka menyimpan istrinya dalam kurungan atau 'pingitan'. Bukan untuk memperbudaknya, bukan untuk menghinanya, bukan untuk merendahkannya, begitu katanya. Melainkan untuk menjaga, untuk menghormati, untuk memuliakan. Perempuan mereka anggap sebagai Dewi, tetapi selalu mereka jaga, awasi dan selalu 'dibantu' sehingga menjadi insan yang sampai mati justru tidak akan pernah bisa menjadi dewasa. Tapi aku menempatkanmu sebagai srikandi yang agar kamu dapat menjadi sahabatku, kekasihku dan ibu dari anak anakku. “
Suaminya meluncurkan kalimat itu sambil memegang tangannya.
Dia terdiam.
“ Wanita itu lebih kuat daripada pria dalam menjaga dirinya. Tiga tahun kamu dalam kesendirian. Aku yakin kamu selalu kuat untuk tetap kering ditengah hujan deras, tetap kuat bila harus mendaki gunung. “
Dia terpesona.
" Tapi aku laki laki. Sebetulnya laki laki adalah makhluk yang paling renta bersikap terhadap cinta. Coba bayangkan , ketika dia diberi akal maka dia banggakan rasionalistasnya untuk menjadi unggul tapi tak berdaya ketika dia harus memalingkan wajahnya dari wanita cantik yang lewat didepannya. Walau mungkin istrinya lebih cantik. Memang pria kadang tak mampu menggunakan rasionya bila berhadapan dengan nafsunya terhadap wanita. Mungkin karena pria dikodratkan untuk dengan mudahnya mengumbar nafsu sahwatnya kepada wanita wanita yang ditemuinya tanpa harus merasa berkianat.. Beda sekali dengan wanita yang selalu mampu menahan diri dari nafsunya.”
Wanita itu menatap bibir suaminya yang begitu sibuk dengan dirinya sendiri. Dia menanti cemas suaminya akan melanjutkan kata kata seperti “ Namun sayangku, bagaimanapun, demi formalitas dan perstiseku sebagai suamimu, demi harga diriku dan juga pandangan sacral masyarakat terhadapku, adalah sesuatu yang wajar jika aku mempertanyakan tentang kesetiaan, kesucian dan ketegaranmu sebagai seorang wanita. Sayangku, dibelahan dunia lain, dimana hubungan persetubuhan dilakukan begitu mudah dan permisif, semudah engkau membeli kangkung dipasar, aku patut mempertanyakan tentang mu selama tiga tahun kita berpisah.? Kata kata itu tidak pernah keluar dari suaminya. Namun dimatanya terbayang suaminya berada dipelukan wanita lain. Sebetulnya dia ingin bertanya pula “ Mas, apakah selama kita berpisah , kamu tak pernah tergoda untuk bersetubuh dengan wanita lain” .Tapi pertanyaan itu tidak pernah terlontar.
Didekap erat suaminya ketika terdengar bisikan suaminya. “ Aku pulang untuk mu dan anak anak kita. “.Dia terbayang akan pria temannya itu tentu mengatakan hal yang sama kepada istrinya " aku pulang untuk mu dan anak anak kita". Dia terasa berada dalam ruang kosong. Disisi kiri kanan ruang itu terdapat ruangan lain yang ditirai oleh dinding tebal, dimana suami dan pria itu berada. Terlalu sulit bagi wanita untuk berbagi perasaan , beda dengan pria. Itulah takdir wanita yang kebanyakan wanita tak menyadarinya. Baru tersadarkan ketika semua pergi. Perlukah kebebasan bagi wanita. Seperti apa kebebasan itu ? like her ?

0 comments:
Post a Comment