Sepagi ini seseorang masuk kekamar kerjanya dengan berwajah masam. Yang jelas sekretarisnya tak mampu menaham orang itu, seorang pria dengan setelan jas mahal.
” Anda cari masalah dengan saya. ” Pria itu berkata dengan nada dingin kepadanya tanpa bersapa terlebih dahulu.
” Maksud anda ?”
” Anda mencoret relasi saya dari daftar peserta lelang project .Itu sama saja cari masalah.”
” siapa yang anda maksud ?”
Pria itu memberikan dokumen untuk di bacanya. Di dalam dokumen itu terdapat surat yang dia tanda tangani dan ditujukan kepada satu rekanan yang dinyatakan gagal dalam proses lelang project.
” OK. Lantas ?” Dia memberikan kembali dokumen itu kepada pria itu. Dia tetap tenang.
”Anda kenal siapa saya ? ”
” Saya tahu nama anda dari koran. Tapi saya tidak mengenal anda. Ini baru pertama kali kita bertemu.”
” Tapi anda tahu bagaimana berkuasanya saya untuk hanya sekedar membuat orang seperti anda kehilangan jabatan”
’ Saya tidak tahu!”
” Mau tahu !
” Tidak perlu. ”
” Kalau begitu , masukan kembali nama relasi saya itu kedalam daftar peserta lelang.”
” Tidak bisa. Itu sudah keputusan saya. Sudah sesuai procedure yang ditetapkan oleh peraturan”
” Kalau begitu anda akan tahu sendiri akibatnya.”
Pria itu langsung melangkah keluar. Dia baru sadar pria itu datang tanpa duduk. Pembicaraan itu dilakukan sambil berdiri dan terkesan bernada dingin dengan penuh ancaman. Dia tidak peduli
Dia kembali kemeja kerjanya. Telp berdering ” Dari keluarga , mau terima bu ” kata sekretarisnya. Dia langsung menerima telp itu. Ini sudah kebiasaanya untuk selalu menerima telp dari keluarga. Karena hanya lewat telp dia bisa tetap terhubung. Tatap muka termasuk hal yang sulit ditengah kesibukannya.
” Mbak. Aku ada masalah”
” Masalah apalagi Nur ?
” Keliatannya aku sudah engga sanggub bersuamikan Mas To. Betul betul engga tahan. Aku ingin minta cerai”
” Jangan gampang bicara cerai. Istighfar kamu. ” Selanya tegas. Dia paling tidak bisa mendengar kata kata ditengah letupan emosi. Apalagi dia sudah merasakan betapa berat perceraian itu” Emang kenapa dengan suami kamu?’
” Dia selingkuh, Mbak ”
” Kamu sudah buktikan itu ?
” Menurut teman teman di arisan memang begitu. Dan lagi dia semakin dingin dengan aku. Aku tidak perlu buktikan lagi.”
” Oh gitu. Jadi hanya dengar kata orang lantas kamu mengambil kesimpulan seperti itu”
” Bukan itu saja. Dia samakin cuek dan dingin dengan aku. Apalagi yang perlu dipertahankan bila rasa hormat tidak lagi kita dapatkan dari suami.”
’ Ya...” Dia berusaha berpikir untuk menenangakan Nur
” Aku harus segera boarding Mbak.”
’ Memang mau kemana ?
” Ke Jakarta , kerumah Mbak. Aku mau menjauh dulu dari rumah. ”
” Loh anak....” Dia berusaha menanyakan soal anak anak. Sekedar manahan keinginan Nur untuk pergi dari rumah.
” Feri ikut aku. Meli engga mau ikut karena ada acara disekolah. Biar itu urusan Mas Tok. Udah dulu ya.” Telp teruputus. Dia terhenyak. Nur memang keras dan selalu begitu.
Kembali dia dengan kesibukan dengan tumpukan dokumen yang harus dipelajarinya. Sebentar lagi rapat dengan pimpinan. Baru beberapa menit. Intercom kembali berdering
’ Bu, diminta bapak menghadap sekarang”
Dia melangkah keluar ruangan kerjanya menuju kamar kerja pimpinannya.
” Dara, terpaksa keputusan kamu saya anulir. Itu rekanan yang kamu coret kita masukin lagi kedalam list”
’ Tapi , pak..”
"Aku sudah baca alasan kamu. Tapi alasan itu tidak penting. Yang penting rekanan itu harus masuk list dan kemudian dinyatakan menang.”
Dia hanya terdiam. Tak mau berpikir lagi. Karena itu sudah selesai dipikirkannya ketika menandatangani surat penolakan terhadap rekanan yang tidak qualified. Sebelumnya dia juga berkali kali didatangi rekanan itu untuk membujuknya dengan setumpuk uang tapi dia tolak dengan tegas. Dia tak pernah berniat apalagi melakukan korupsi dalam bentuk apapun. Dia juga tahu dibelakang rekanan itu ada Partai Penguasa. Tapi apa peduli dia soal kekuasaan dan lain sebagainya. Dia hanya melaksanakan tugas sesuai aturan yang berlaku.
’ Ada lagi, pak ? Katanya dengan setengah berdiri. Dia sadar ini pertemuan bukan ajang adu argumentasi ilmiah dan compliance hukum tapi sebuah perintah dari system birokrasi yang sedang bekerja.
’ Tidak ada. Kamu boleh pergi”
Dia menghela nafas. Sadar hanya soal waktu jabatannya akan digeser. Dia tidak peduli. Baginya apapun jabatan itu adalah amanah. Dia harus kerjakan sesuai aturan yang berlaku.
Menjelang istirahat kantor kembali dia mendapat tamu. Seorang pria. Teman semasa kuliahnya. Dia berpesan kepada sektretarisnya agar tamu itu menunggu di ruang tamu. Jam istirahat dia keluar dari kamar kerjanya. Dengan tesenyum dia menyalami temannya itu dan mengajak makan siang direstoran dekat kantor.
’ Dara..” Seru pria itu dengan wajah nampak lusuh. Dia tahu temannya ini sudah dua tahun terkena PHK. Kini bekerja serabutan. Tahun lalu temanya pernah pinjam uang dan sampai kini belum terbayar. Dia sudah melupakan soal hutang itu. Dia ikhlas.
” Maafkan aku karena belum bisa melunasi hutang kepada kamu.”
’ Ah tidak usah dipikirkan soal hutang itu. Bukankah kita berteman. Sudah sepatutnya aku membantu selagi bisa.”
” ya terimakasih.” Kata temannya dengan tersenyum tipis.” tapi...
” Tapi apa ?
” Aku datang lagi kekamu karena aku butuh lagi pinjaman. Putraku diterima di universitas. Aku tidak cukup punya uang untuk membayar. Bisa bantu? Dia tertegun. Betapa beruntungnya temannya ini. Punya putra yang mau kuliah dan kelak akan menjadi sarjana kebanggan oang tua.
” Berapa kamu perlu?
” Lima belas juta”
Dia terkejut. Walau jabatannya tinggi namun uang sebanyak itu tidak mudah dia dapat.
” Aku tidak punya uang sebanyak itu.Tapi aku akan kasih lima juta."
Temannya hanya diam dengan pandangan kosong. Dia sadar tentu temannya sedang berpikir keras mendapatkan sisanya. Dia tidak bisa berbuat apa apa kecuali sebisa yang dia bantu. Usai makan siang, dia mampir ke ATM untuk mengitim dana kerekening temannya. Selang satu jam , temannya mengirim SMS ketelpnya ” Sebagai sahabat lama, kamu anggap saya sebagai sampah. Kamu tahu kebutuhan saya. Kamu tahu hanya kamu tempat saya minta tolong. Saya juga tahu kamu pejabat tinggi tentu lima belas juta bukan masalah besar bagi kamu. Tapi , ya sudahlah...”
Dia terkejut dengan SMS itu. Andaikan temanya tahu betapa uang itu tidak didapat dengan mudah. Tentu tidak akan berpikir seperti itu. Itu honor yang diterimanya tiga bulan sekali sebagai team asistensi project. Sebetulnya uang itu dia perlukan untuk menambah biaya berobat ayahnya yang sakit sakitan. Tapi dia ikhlaskan untuk meringankan beban temanya. Tapi yang dia dapat bukannya terimakasih malah kesan yang menganggap dia pelit dengan uang yang banyak ditangannya. Apakah temannya tidak tahu bahwa tidak semua pegawai negeri korup. Bahkan banyak pegawai negeri yang kehidupan ekonominya lebih sulit dibandingkan pedagang kaki lima. Dia tidak menanggapi dengan serius. Sebagaimana teman lainnya yang banyak kecewa dengannya karena tak pernah bisa mendapatkan keistimewaan mendapatkan project dikantornya. Biarlah teman temannya menemukan hikmah tersendiri dari masalah yang datang. Yang penting dia telah berbuat sebisa yang dia perbuat. Selanjutnya berserah diri kepada Allah.
Rapat pimpinan dikantor terkesan monoton. Tidak ada tanya jawab. Tidak ada presentasi masing masing bagian. Yang ada hanya wejangan bernada perintah untuk mengatur bagaimana setiap bagian mendukung keputusan pimpinan puncak agar memenangkan rekanan Partai Penguasa dalam lelang project. Dia sudah selesai dengan tugasnya menolak dan akhirnya dianulir. Selanjutnya dia hanya diam. Berserah diri kepada Allah.
Seusai rapat. Hari telah berangkat malam. Dia masih dikantor.Di kamar kerjanya. Pikirannya menerawang jauh. Dua puluh empat tahun berlalu sebagai PNS. Lima tahun lagi dia akan pensiun. Teringat akan perkawinannya yang gagal karena suaminya pergi kewanita lain meninggalkan dia bersama dua anaknya. Putra sulungnya tak berniat untuk kuliah. Padahal dia begitu berharap agar putranya dapat sekolah tinggi sepertinya yang menyandang S3. Tapi ternyata putranya lebih memilih menikah dalam usia muda dan akhirnya memilih hidup sebagai pedagang dipasar tradisional di Bandung. Dari putranya ini dia sudah mendapatkan cucu satu. Putri bungsunya hanya kuliah tingkat satu dan berhenti karena memilih untuk menikah dengan pria idamannya yang pengusaha di Semarang. Dari putrinya dia mendapatkan satu cucu. Maka dua orang cucu menghias hidupnya.
Sebagai anak tertua dari lima bersaudara , sedari usia remaja dia harus mengambil peran sebagai perngganti ibu dirumah karena ibunya meninggal. Sementara ayahnya hanya pedagang kecil tanpa harta berlebih untuk menanggung lima anak. Bersyukur dia dapat menyelesaikan kuliah dengan cepat dan cepat pula dapat kerja. Hinga dia dapat membantu menanggung biaya adik adiknya.
Kini diusiaya menjelang 50 tahun, ayahnya sudah semakin renta dan sakit sakitan. Tinggal bersama dengan dia. Nora, adik bungsunya memang idiot yang juga menjadi bebannya dirumah. Boy, adiknya yang nomor empat tak henti membuat pening kepalanya karena terjerat narkoba. Kini dalam perawatan rehabilitasi. Rudi, adiknya yang nomor 3 masih menjadi bebanya karena sejak tamat kuliah belum juga bekerja. Nur, adiknya yang nomor dua, kini keluarganya sedang terkena prahara. Sebentar lagi akan menjadi bebannya juga.
Dia berusaha untuk memahami semua yang terjadi dalam hidupnya. Betapa banyak keinginannya untuk orang orang terdekatnya tapi semua tak berjalan seperti apa yang dia mau. Suami yang dicintainya, yang diharap sebagai penopang ternyata memilih pergi meninggalkannya dengan alasan yang sulit diterima dengan akal sehat. Diapun menjada. Tak seperti orang lain yang hidup bahagia bersama suami yang selalu siap berbagi menanggung beban hidup.
Putra putrinya hidup dengan cara mereka tak seperti apa yang dia inginkan. Tak seperti orang tua lain yang dapat berbangga mempunyai putri putri sarjana berkarir diperusahaan raksasa atau di Pemerintahan. Saudara saudaranya yang tak henti merepotkannya dan adapula seperti Nora yang terpaksa menjadi bebannya seumur hidup tanpa bisa dia mengelak.Tak seperti orang lain dimana antar saudara saling menolong dan menjaga. Ayah yang sakit sakitan dimasa tuanya yang harus dia rawat. Tak seperti orang lain yang orang tuanya mendapatkan jaminan pensium dan tabungan untuk menikmati masa tua dengan tenang.
Sahabat yang tak pernah berterimakasih atas segala kebaikannya. Tak seperti orang lain yang sahabatnya selalu tempat saling berbagi. Kantor yang terlau lemah dengan penguasa dan menyeretnya menjadi pecundang dihadapan rakyat. Tak seperti negara lain yang penguasanya sangat peduli dengan rakyat dan peka terhadap tindak korupsi.
Dia menghela nafas panjang. Seberapa besar keinginannya , seberapa besar harapannya namun pada akhirnya inilah hidup yang harus dijalaninya.
Dia matikan lampur kamar kerjanya.
Kini saatnya untuk pulang.
Ya dia ingat akan nasehat ibunya ketika dia masih remaja ” Hidup ini tidak ada yang serius. Semua hanyalah permainan Allah. Apapun yang ada disekitarmu, itu tak lain cara Allah berdialogh denganmu, untuk kamu mendapatkan hikmah kehadiranNya dalam dirimu. Sabar dan ikhlas lah melewati hidup ini. Karena hidup begitu singkatnya dan sangatlah merugi bila harus menderita karena keinginan yang tak terkabulkan. Memang begitu banyak keinginan yang tak terpenuhi namun yang pasti semua kebutuhan kita terpenuhi.Itulah keadilan Allah.”
Dia malangkah dengan ringan sambil tersenyum menyapa Satpam diloby kantornya. Ya Penguasa yang brengsek, anak yang tak menunaikan keinginannya , saudara sedarah yang membuatnya repot, ayah yang harus dirawatnya, teman yang tak pandai berterima kasih , itu semua bukanlah antara mereka dengan dia tapi antara dia dengan Tuhan. Untuk mengujinya dalam dialogh tentang sabar dan ikhlas. Itu saja.
Telp genggamnya bergetar. Nampak di layar tertera " My boy". Bersegera diterimanya telp itu " Ya sayang"
" Mama lagi dimana ?"
" Ini baru keluar dari kantor dan sekarang lagi jalan kerumah . Ada apa sayang?
' Kita rencana ke Jakarta hari Senin,"
" Loh kenapa? Kan lebaran hari selasa. Kenapa engga sabtu aja ? "
" Dik putri dari Semarang mau mampir ke Bandung jemput kami sekeluarga, terus ke Jakarta."
" Oh. Gimana kalau mama kirim Pak Jojo bawa kendaraan jemput kamu hari jumat. Mama kangen cucu mama. " Dia tahu putranya hanyalah pedagang kecil yang tak punya kendaraan pribadi. Rumahpun ngontrak. Berkali kali dia ingin membantu putranya mendapatkan rumah cicilan namun putranya begitu bijaknya menolak " Doa mama lebih dari segala galanya bagiku." Putranya tak ingin merepotkannya dan meyakinkanya bahwa akan selalu baik baik saja walau rumah ngontrak. Memohon doa darinya agar suatu saat dapat membeli rumah sendiri. '
" Terimakasih Mah. Engga usah. Kita udah janjian berangkat ke Jakarta bareng. Mama sehat kan"
" Mama sehat. Alhamdulillah. "
" Ya udah Mah. Assalamualaikum "
" Waalaikum salam"
Usai menerima telp dia tersenyum. Itulah yang membuat dia marasa sangat bahagia. Kedua putra putrinya juga menantunya sangat agamais dan sangat santun tanpa pernah membebaninya dengan pikiran maupun materi. Kedua putra putri saling menjaga dan saling peduli satu sama lain. Mungkin mereka belajar dari realita dia mengurus adik adiknya dan baktinya kepada orang tua serta istiqamah sebagai pejabat yang amanah. Anak melihat dan mencontoh lewat keteladanan orang tua. Inilah hikmah yang kadang dia lupa dan bila ingat , betapa dia sangat bersyukur akan nikmat Allah.

0 comments:
Post a Comment