Monday, September 19, 2011

Bako

“Elok elok ya nak dirantau. Pandai pandai menempatkan diri dirumah bako atau etek-mu. Jangan tinggalkan sholat dan kirimi mandeh surat setiap bulannya” demikian pesan mandeh yang tak pernah kulupakan. Abak mengantar kepergianku sampai di terminal Bus. “Setiap pria minang harus merantau. Panjangkan cita cita, lapangkan hati, perkuat tekad, insya Allah kau akan berhasil. Bila sansai yang didapat, perbanyak sabar, bila rezeki datang , banyak banyaklah bersyukur kepada Allah. Jadikan harta itu untuk mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang dekat. , Ingat , kau ditakdirkan sebagai mamak rumah. Anak dipangku kamanakan dibimbing, orang kampung di patenggangkan. Sudah tugasmu mambangkikan batang tarandam. “ demikian pesan Abak.

Aku dapat maklum bila Abak berkata tentang batang tarandam. Karena sejak kejatuhan Abak dalam bisnis , sanak familinya banyak yang tak lagi memberi rasa hormat kepadanya. Padahal semasa jayanya Abak tak sepi direpotkan oleh kamanakannya juga familinya. Abak tak pernah berkeluh kesah soal ini. Baginya sudah takdir pria minang yang harus bertanggung jawab kepada kamanakan , ando basamando. “ Bila kau tak berharta, yang dekat menjauh dan yang jauh menghilang. Makanya pandai pandailah hidup. ” Demikian kata kata Abak yang tak pernah bisa kulupakan. Soal batang tarandam, mungkin Abak berharap agar aku bisa mengembalikan kehormatannya yang sudah terlupakan oleh keluarga besarnya.

Sejak menikah Abak dan mandeh sudah direpotkan dengan mengurus tiga orang adik. Aku dan adik adiku sangat akrab dengan adik adik Abak. Maklum saja , sejak aku lahir mereka semua sudah tinggal bersama kami menjadi tanggungan Abak. Adik dibawah Abak , Enggi, kemudian etek ago dan yang bungsu Iris. Walau mereka adalah paman dan tante bagi kami namun sampai dewasa kami tetap memanggil mereka dengan panggilan kebiasaan kami sedari kecil. Entah sudah nasip Abak pula, Ago dan Enggi, sangat lemah untuk hidup mandiri. Orang kampung mengatakan mereka “ kurang sasen” artinya mereka tidak gila, juga tidak idiot hanya memang lemah otak. Kurang cepat mencerna persoalan dan lemah bersikap bijak. Selebihnya mereka normal. Hanya Iris yang sempurna. Berlalunya waktu, adik Abak satu demi satu menikah. Namun satu demi satu akhirnya bercerai. Etek ago menjadi tanggung jawab Abak setelah diceraikan oleh suaminya.

Menurut cerita, Babo-ku pergi merantau kekota lain dan termasuk orang kaya terpandang dikampung kelahirannya. Hampir semua adik dan kamanakan disenangkan olehnya. Begitulah cara babo menempatkan diri sebagai urang samando dan mamak rumah yang berbudi. Rumah pusako tinggi,dirombaknya menjadi indah. Harta pusako tinggi tak berkurang bahkan bertambah. Orang minang menyebut penambahan harta untuk rumah gadang oleh urang samando disebut dengan pusako randah. Itu menjadi hak sepenuhnya harta dari anak anak dan tak bisa dijadikan harta adat. Hanya setahun setelah Abak menikah dengan mandeh, babo meninggal. Rumah gadang dikampung dihuni oleh Maktuo, kakak sepupu dari keluarga ibu Abak. Abak tinggal di kota lain, dirumahnya sendiri menanggung tiga orang adik.

Abak hanya mendapat sebagian kecil dari harta warisan babo dan sebagian besar dikuasai oleh kamanakan babo. Pembagian warisan itulah yang digunakan Abak untuk memulai usaha sebagai pedagang. Ketika usaha itu berkembang, kamanakan , ando basamando ditolongnnya. Menurut mandeh , apa yang dilakukan oleh Abak percis seperti apa yang dilakukan Babo semasa hidupnya. Dalam istilah orang minang Abak berusaha menjadi mamak rumah yang baik. Anak dipangku ,kamanakan dibimbing, orang kampung dibela.

Sebelum Abak meninggal, Iris sudah lebih dulu dipanggil Allah. Dia meninggal dibawah perawatan Mandeh. Ketika meninggal dia dalam kemiskinan dan dilupakan oleh keluarga istrinya. Karena mungkin menurut cerita mandeh “ sudah tak berharta dia, dicampakan oleh keluarga istrinya. Kemana lagi dia akan pulang kecuali kerumah kita” Aku tak tahu banyak bagaimana sampai Iris bercerai dengan istrinya. Karena aku sudah pergi merantau ke Jakarta ketika itu. Yang kutahu ketika bercerai dengan istrinya , semua anak diambil oleh keluarga istrinya. Itulah adat minang. Bila laki laki bercerai maka tak ada hak apapun kecuali pergi membawa baju yang melekat dibadan.

Enggi setelah bercerai kembali kerumah kami. Namun karena keadaan ekonomi kami sulit, hanya berselang beberapa tahun, Enggi memilih untuk tinggal dikampung. Karena berhitung tak pandai apalagi berdagang maka pekerjaanya yang cocok untuknya hanyalah menerima upah membajak sawah orang. Soal ini mandeh sempat berucap kepadaku “ harta pusaka rendah yang menjadi hak Enggi-mu lebih dari cukup untuk hidup senang. Tapi itu dikuasai semua oleh maktuo-mu. Tak ada sedikitpun menetes ke Enggi-mu. Padahal dia orang lemah dan butuh perlindungan. Babomu dulu menambah harta tak lain berharap agar dapat menjadi tempat sandaran bagi anak anaknya. Tapi lihatlah nasip anak anaknya kini. Diacuhkan oleh maktuo-mu. “.Hampir semua orang kampung berpikiran sama dengan mandeh. Mungkin untuk menghilangkan pegunjingan orang kampong, maktuo meminta agar anak anaknya dirantau membawa Enggi kerantau. Enggi diboyong oleh anak maktuo ke Bandung.

Ketika Abak meninggal. Aku tidak tahu banyak soal perkembangan Enggi yang tinggal di Bandung bersama kamanakannya. Aku tahu Enggi punya anak dari perkawinannya. Tapi mereka tidak mau mengurusnya. Rumah pembelian Abak untuk Enggi diambil alih oleh istrinya ketika bercerai. Belakangan rumah itu dijual oleh anak anaknya untuk modal berdagang. Hanya itu cerita yang kutahu. Pastinya aku tidak tahu banyak.

Sebulan setelah Abak meninggal, Ago yang selama ini tinggal bersama kami dijemput oleh maktuo untuk tinggal dikampung. Ketika itu mandeh tak bisa berbuat banyak walau pesan Abak agar mandeh manjaga adiknya apabila dia meninggal. “ bagi orang minang , bila suami meninggal maka istri tak lagi punya hubungan istimewa dengan keluarga suami. Sudah sepantasnya pula etekmu dijemput oleh keluarga Abakmu” AKu hanya diam ketika itu. Walau sebetulnya aku dan juga adik adik serta uni keberatan Ago dibawa oleh Maktuo. Ago lemah dan kadang kelakuannya seperrti anak anak. Apakah mungkin Maktuo bisa mengurusnya. Demikian pikiran kami. Kutahu cerita dari mandeh berat hati Ago untuk berpisah dengan mandeh Karena sejak kecil dia dirawat oleh mandeh.

***

Sepuluh tahu setelah Abak meninggal. Kami adik beradik telah tumbuh dewasa. Lima, sudah berumah tangga dan mempunyai rumah sendiri. Sedang dua masih tinggal dirumah bersama mandeh.

“ Kau sudah tahu cerita tentang pak etek-mu “ kata temanku ketika bertemu dalam pesta perkawinan keluarga bako “ Dia terlunta lunta di Bandung. Setiap hari dia tinggal diemperan toko orang. Hidup mengais sampah. Ditambah lagi dia sudah tua dan penyakitan. Tak ada kamanakannya yang peduli dengan dia. Padahal dia dulu dijemput dari kampung dengan janji akan dirawat oleh kamanakannya. Sudah saatnya kau bertindak. “ Sambung temanku.

Hal ini kucoba ceritakan kepada istriku. Tapi istriku dengan tangkas menjawab bahwa itu hanya cerita kosong. Dia tidak yakin Enggi diperlakukan seperti itu oleh kamanakannya. Apalagi kamanakannya hidup berkecukupan. Maklum saja karena istriku juga adalah bako-ku yang tentu tak ingin familinya dipersalahkan. Juga mertuaku dengan tegas mengatakan itu tidak benar. Dalam satu kesempatan aku ceritakan soal ini kepada mandeh. Mandeh tak bisa berbuat banyak. “ Bukan urusan kita. Itu urusan bako kalian. Mandeh apalah, janda dari Abakmu yang tak punya hak suara apapun lagi dikeluarga besar Abakmu”

Bersamaan itu, mandeh mengabarkan kepadaku di Jakarta bahwa Ago kembali kerumah mandeh. Mandeh bercerita bagaimana penderitaan Ago selama sekian tahun tinggal dengan maktuo dikampung. Bahkan menurut mandeh, Ago tak mau lagi pulang kekampung. Dia seperti trauma. Mandeh minta pendapatku. Dengan serta merta aku menyetujui. Begitupula dengan adik adiku “Kalian berhak atas etek kalian. Karena bagaimanapun dia adalah adik kandung Abak kalian. Jangan karena adat membuat yang wajib menjadi tak wajid. Sudah menjadi tanggung jawab kalian untuk menjaga adik Abak kalian. Soal bako kalian yang tak senang soal ini, itu tugas mandeh akan menjelaskan. Bahwa etek kalian tinggal bersama mandeh karena pemintaan kalian”

Atas dasar itu , aku berkeyakinan bahwa cerita soal Enggi yang terlunta lunta di Bandung mungkin ada benarnya. Tak lagi kupikirkan soal kehormatan keluarga bako, walau aku sendiri menikah dengan keluarga bako. Bagiku ini soal perintah agama, Enggi adalah bagian dari keluargaku dan aku harus menjaganya. Benarlah, ketika kuminta agar Enggi kembali kekeluarga kami, tak ada satupun dari keluarga bako-ku yang keberatan. Mungkin mereka segan menolak karena aku urang samando mereka atau mungkin juga mereka memang tdak lagi punya perasaan adat untuk menjaga mamaknya dikala tua.

Benarlah ketika Enggi berhasil dijemput untuk kembali kekeluarga kami, semua adik adiku, uni, mandeh menangis menyaksikan keadaanya yang begitu memprihatinkan. Badannya kurus dan penyakitan. Baju hanya yang melekat dibadan. Untuk menjaga perasaan adat minang, Enggi tidak tinggal bersama mandeh tapi aku kontrakan rumah untuknya yang tidak begitu jauh dari rumah mandeh. Adikku semua berikhlas hati mengurus. Sementara biaya makannya dan sewa rumah setiap bulan aku kirim dari Jakarta. Aku dan adik adiku tak ingin membahas soal harta Babo di kampong yang menjadi hak Enggi yang dikuasai bako-ku. Juga tak mempersoalkan bila bako-ku tidak lagi peduli dengan Enggi. Kami tak ingin hubungan keluarga terputus. Bagaimanapun mereka adalah bako kami.

Sampai ajalnya menjemput Enggi ada dalam perawatan kasih sayang mandeh dan adik adiku serta Uni.

Kini mandeh dirumah bersama etek Ago dan menjadi tanggungan kami adik beradik. Tak ada satupun diantara kami adik beradik mempermasalahkan harta yang ada dikampung, yang menjadi hak etk Ago. Tak ada. Bagi kami diberi kesempatan menjaga mandeh dan etek Ago dimasa tuanya adalah nikmat tak terbilang. Ini adalah ladang ibadah yang teramat mulia dihadapan Allah. Apalagi ini bagian dari tanggung jawab kami melaksanakan pesan Abak untuk mambangkik batang terandam; masalah besar tabuntang yang tak mudah diselesaikan dengan akal kecuali dengan hati , bahwa berkorban karena Allah tanpa perlu ada penghormatan manusia yang diatur oleh adat.

Ada hikmah dibalik itu semua sebagaimana tutur Mandeh. “Ketika Abak kalian meninggal , tak ada harta berlebih yang ditinggalkan kecuali rumah reot. Tapi mungkin kebaikan hati Abak kalian kepada kamanakan serta ando basamandonya dibalas oleh Allah dengan tumbuhnya kalian menjadi anak yang berbudi. Mandeh tak merasa sulit mendidik 7 orang kalian. Sifat tolong menolong diantara kalian telah membuat yang berat menjadi ringan, yang pelik terselesaikan. Urusan dunia menjadi mudah bagi kalian. Mandeh berpesan agar kalian tetap hormat kepada adat kita namun agama tetaplah menjadi sandaran utama bersikap. Bila adat tak sesuai dengan agama, maka bijaklah bersikap, seperti kalian memperlakukan adik adik Abak kalian dan menjaga hubungan baik dengan bako kalian.”

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Bako

0 comments:

Post a Comment