Thursday, August 4, 2011

Sayyidina Ali

Sayyidina Ali adalah sepupu pertama Nabi Muhammad SAW. Ayahnya, Abu Thalib dan ayah Nabi SAW, Abdullah, adalah anak Abdul Muthalib dari satu ibu. Seperti nama istrinya, Ibu Sayyidina Ali juga bernama Fatimah. Fatimah adalah putri Asad putranya Hasyim yang terkenal itu, dan Asad adalah saudara Abdul Muthalib. Jadi ayah dan ibu Sayyidina Ali adalah saudara sepupu.

Sayyidina Ali lahir pada tanggal 13 Rajab, sekitar 610 M, yakni 23 tahun sebelum Hijrah. Saat dia lahir, ayahnya dan saudara sepupunya, Nabi Muhammad SAW sedang bepergian ke luar kota Makkah. Ibunya memberi nama Asad dan Haidar. Ayahnya menamainya Zaid. Tapi ketika Nabi SAW pulang, beliau merawat sepupu kecilnya ini dan menamainya Ali, dan mengatakan bahwa ini adalah nama yang ditetapkan Allah untuknya. Diantara sekian kunyah-nya (nama panggilan yang mengungkapkan rasa hormat), yang paling terkenal adalah Abul Hasan, Abus Sibtain dan Abu Turab. Gelar-gelarnya adalah Murtadha (yang terpilih), Amirul Mukminin (Pemimpin kaum Mukmin), Imamul Muttaqin (Imam orang-orang bertakwa).

Sayyidina Ali menikah dengan Sayyidah Fatimah, putri Nabi SAW dari Sayyidah Khadijah. Dia bertunangan dengan Fatimah beberapa hari sebelum berangkat Perang Badar, tapi pernikahannya dirayakan tiga bulan setelahnya. Dari Sayyidina Ali, Fatimah memiliki 4 anak dan yang anak kelima (Muhsin) mengalami keguguran ketika masih berada dalam kandungan. Penyebab kecelakaan ini dan juga penyebab kematian Sayyidah Fatimah adalah peristiwa yang amat tragis dan menyedihkan dalam hidup mereka. Nama putra-putri mereka adalah Hasan, Husain, Zainab (istri Abdullah ibn Ja’far) dan Ummu Kultsum (istri Ubaydillah ibn Ja’far). Selama Fatimah hidup, Sayyidina Ali tidak menikahi wanita lain. Sepeninggal Fatimah dia menikahi Yamamah dan sepeninggal Yamamah, menikah lagi dengan seorang wanita bernama Hanafia, yang darinya Ali memiliki seorang anak bernama Muhammad Hanafia.

Sayyidina Ali memiliki banyak anak yang beberapa diantaranya memiliki tempat tak tertandingi dalam sejarah kemanusiaan, seperti Hasan, Husain (Pahlawan Karbala), Zainab (Pembela Islam di Kufah dan Damaskus setelah Tragedi Karbala), Abbas (Panglima Tentara Husain) dan Muhammad Hanafia (Pahlawan dalam Perang Nahrawan).

***

Ali mulai bertindak sebagai pengawal Nabi SAW bahkan ketika usia 14 tahun. Para pemuda Quraisy, atas anjuran orang tua mereka, sering melempari Nabi dengan batu. Ali memenuhi tugas sebagai pembela Nabi. Dia jatuhkan para pemuda itu, merobek hidung satu musuh, merontokkan gigi musuh lainnya serta membanting yang lainnya. Dia sering bertarung melawan orang-orang yang lebih tua darinya. Dia sendiri sering terluka, tapi dia tidak pernah meninggalkan tugas yang dia pilih sendiri. Selang beberapa hari, dia mendapat nama panggilan Qadhim (pembanting) dan tidak seorang pun berani melempar sesuatu kepada Nabi ketika Ali mendampinginya dan dia tidak akan pernah membiarkan Nabi pergi sendirian. Pengorbanannya pada malam menjelang hijrah dan perjuangannya di seluruh medan tempur adalah bukti nyata kecintaannya yang amat mendalam kepada Nabi SAW.

Dengan itu jika nama agung sebagai Muslim pertama, seorang kawan setia Nabi di pengasingan, kawan seperjuangan Nabi dalam menegakkan keimanan, sahabat karib Nabi dalam kehidupan dan saudara Nabi. Jika pengetahuan sejati tentang spirit ajaran-ajaran Nabi dan Al-Quran, jika penegasian ego diri dan penegakan keadilan, kejujuran, kesucian dan cinta akan kebenaran, kesemuanya layak mendapatkan keagungan, maka kita harus menganggap Ali sebagai yang paling terkemuka. Kita akan sia-sia mencari berbagai keistimewaan yang telah dianugrahkan Allah kepada Ali, baik dari kalangan pendahulunya kecuali Nabi Muhammad atau dari para penerusnya.” Nabi SAW memberinya gelar gerbang ilmu dan hikmah.

Dia pribadi yang paling berilmu, paling berani dan orator ulung serta penceramah paling fasih. Ketakwaannya, kecintaannya kepada Allah, ketulusan dan ketabahannya dalam menjalankan agama adalah diantara derajatnya yang begitu tinggi sehingga tak seorang pun dapat bercita-cita untuk mencapainya. Dia politikus teragung karena membenci diplomasi dan mencintai kebenaran serta keadilan, kebijakan politiknya adalah sebagaimana yang diajarkan Allah. Dia dicintai semua orang, dan setiap orang memberikan tempat di hatinya untuk Imam. Dia orang yang memiliki karakter begitu unggul dan agung serta watak yang begitu luhur dan tiada tara, sehingga banyak ilmuwan yang takjub mempelajarinya dan membayangkannya sebagai manifestasi wakil Allah. Banyak di antara Yahudi dan Kristen yang mencintai dia, dan para filosof diatara mereka pun yang kebetulan tahu ajaran-ajarannya membungkukkan diri di depan lautan ilmunya yang tak tertandingi.

Sebagai hasil binaan langsung Rasulullah SAW, maka sifat-sifat Sayyidina Ali terbentuk persis seperti sifat-sifat Rasulullah SAW dalam semua seginya,baik ibadah, pemikiran maupun tingkah laku.Ia mengikuti jalan yang ditempuh Rasulullah SAW dan menapaki jejak-jejak langkahnya. Bahwa apabila datang waktu shalat, wajah Sayyidina Ali tampak pucat dan tubuhnya gemetar.Karena itu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, mengapa begitu. Ali menjawab, “Telah datang waktu amanat yang dulu ditawarkan Allah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun mereka menolaknya, dan kemudian diterima oleh manusia sekalipun manusia ini lemah. Karena itu, aku tidak tahu apakah aku akan bisa memikul amanat itu dengan baik ataukah tidak.”

Allah SWT begitu agung dalam pandangan Sayyidina Ali, sehingga ibadah yang dilakukan merupakan ungkapan dari rasa cinta dan kerinduan kepada-Nya. Beliau mengungkapkan hubungan dirinya dengan Allah melalui ucapannya yang berbunyi, ”Ilahi, aku tidak menyembah-Mu lantaran takut siksa-Mu, dan tidak pula berharap akan pahala dari-Mu. Tetapi aku menyembah-Mu semata-mata lantaran aku mendapatkan-Mu sebagai Dzat yang semestinya disembah.”

Untuk menggabarkan pribadi Ali, tersebutlah kisah tentang perlakuannya terhadap musunya.Talha ibn Abi Talha bukan hanya musuh sengit Islam, tapi juga musuh Nabi SAW dan Sayyidina Ali. Dalam perang Uhud, Talha adalah pengusung panji pasukan Quraisy. Ali menghadapi dia dan berduel dengannya, menyerang dia dengan pukulan telak hingga terhuyung-huyung dan jatuh tersungkur. Ali meninggalkannya dalam keadaan terjatuh. Banyak panglima Muslim memerintahkan agar Ali menghabisinya, dengan mengatakan bahwa dia adalah musuhnya yang paling jahat.

Ali menjawab: “Musuh atau bukan musuh, sekarang dia tidak berdaya, dan aku tidak bisa menyerang seseorang yang tidak berdaya. Jika dia bisa bertahan biarkan saja dia hidup selagi masih berumur.”

Kisah lainnya, dalam Perang Jamal, di tengah pertempuran budaknya Qambar membawa sedikit air dan berkata: Tuanku, matahari amat panas dan Anda masih terus akan bertempur, meminum segelas air dingin ini bisa menyegarkan Anda?

Dia melihat sekitarnya dan menjawab: “Bisakah aku minum ketika beratus-ratus orang mati terkapar dan sekarat karena kehausan dan terluka parah? Daripada membawakan air untukku, bawa sedikit orang dan kasih minum setiap orang yang terluka ini.”

Qambar menjawab: “Tuanku, mereka semuanya musuh kita.”

Ali berkata: “Mungkin mereka musuh kita, tapi mereka manusia. Pergilah dan rawat mereka.”

Waktu itu bulan Ramadhan, sudah tiba waktu shalat subuh. Masjid Kufah sudah penuh. Sayyidina Ali sedang sujud dan ketika mau mengangkat kepalanya, sebuah tebasan telak mengenai kepalanya yang membuatnya luka parah. Suasana di masjid menjadi gempar dan kacau. Pembunuh melarikan diri. Orang-orang berhasil menangkap dan membawanya ke hadapan Sayyidina Ali yang terluka dan bersimbah darah. Beralaskan sajadah Sayyidina Ali berbaring diatas pangkuan putra-putranya. Dia tahu tebasan itu sangat fatal dan dia tidak akan bertahan lagi. Tetapi ketika pembunuhnya digelandang ke hadapannya, dia melihat jerat yang memborgolnya terlalu kencang hingga menyayat dagingnya. Ali melirik kepada kaum Muslim dan berkata: “Seharusnya kalian jangan begitu kejam kepada sesama, kendorkan talinya, tidakkah kau lihat tali ini melukai dia dan membuatnya kesakitan.”

Menjelang ajalnya, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir At Thabariy dalam Tarikh-nya dan Abu Faraj Al Ashfahaniy dalam Maqatilut Thalibiyyin masing-masing mengetengahkan wasiyat Imam Ali r.a. sebagai berikut:

"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu apapun bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, diutus membawa hidayat dan agama yang benar, untuk dimenangkan atas agama-agama lain, walau kaum musyrikin tidak menyukainya. Kemudian shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semuanya kupersembahkan kepada Allah, Tuhan penguasa alam semesta, tanpa sekutu apa pun bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku ini adalah orang muslim pertama.

"Kuwasiyatkan kepada kalian berdua supaya tetap bertaqwa kepada Allah. Janganlah kalian mengejar-ngejar dunia walau dunia mengejar kalian, dan janganlah menyesal jika ada sebagian dunia itu lepas meninggalkan kalian. Katakanlah hal-hal yang benar dan berbuatlah untuk memperoleh pahala akhirat. Jadilah kalian penentang orang dzalim dan pembela orang madzlum."

"Kuwasiyatkan kepada kalian berdua, kepada semua anak-anakku, para ahlu-baitku, dan kepada siapa saja yang mendengar wasiyatku ini, supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah. Hendaknya kalian mengatur baik-baik urusan kalian dan jagalah hubungan persaudaraan di antara kalian. Sebab aku mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. mengatakan: Memperbaiki dan menjaga baik baik hubungan persaudaraan antara sesama kaum muslimin lebih afdhal daripada sembahyang dan puasa umum. Ketahuilah, bahwa pertengkaran itu merusak agama, dan ingatlah bahwa tak ada kekuatan apa pun selain atas perkenaan Allah. Perhatikanlah keadaan sanak famili kalian dan eratkan hubungan dengan mereka, Allah akan melimpahkan kemudahan kepada kalian di hari perhitungan kelak."

"Allah…, Allah, perhatikanlah anak-anak yatim. Janganlah mereka itu sampai kelaparan dan jangan sampai kehilangan hak. Aku mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. berpesan: Barang siapa mengasuh anak yatim sampai ia menjadi kecukupan, orang itu pasti akan dikaruniai sorga oleh Allah. Sama halnya seperti siksa neraka yang pasti akan ditimpakan Allah kepada orang yang memakan harta anak yatim."

"Allah…, Allah, perhatikanlah Al-Qur'an, jangan sampai kalian kedahuluan orang lain dalam mengamalkannya. Allah…, Allah…, perhatikanlah tetangga-tetangga kalian, sebab mereka itu adalah wasiyat Nabi kalian. Sedemikian sungguhnya beliau mewasyiatkan, sampai kami menduga bahwa beliau akan menetapkan hak waris bagi mereka. Allah…, Allah…, perhatikanlah rumah Allah, masjid Al-Haram, janganlah kalian tinggalkan selama kalian masih hidup. Sebab jika sampai kalian tinggalkan, kalian tidak akan dipandang orang. Barang siapa selalu dekat kepadanya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Allah…, Allah…, peliharalah shalat baik-baik, sebab shalat itu amal perbuatan yang paling mulia dan merupakan tiang agama kalian.

Allah…, Allah…, tunaikanlah zakat sebagaimana mestinya, sebab zakat itu meniadakan murka Allah. Allah…, Allah…, laksanakanlah puasa bulan Ramadhan, sebab puasa itu merupakan penutup jalan ke neraka."

"Allah…, Allah…, berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Hanya ada dua macam saja orang yang berjuang di jalan Allah, yaitu seorang pemimpin yang memberikan bimbingan dan orang yang patuh kepada pemimpin serta mengikuti kebenaran pimpinannya.

Allah..., Allah…, jagalah baik-baik keturunan Nabi kalian, jangan sampai mereka dianiaya orang di depan mata kalian. Jagalah baik-baik para sahabat Nabi yang tidak mengada-adakan bid'ah mungkar, dan yang tidak melindungi orang yang mengada-adakan bid'ah mungkar. Sebab Rasul Allah s.a.w. telah memberi wasiyat tentang mereka itu, dan mengutuk orang dari mereka atau orang yang bukan mereka, yang mengada-adakan bid'ah mungkar dan mengutuk pula orang orang yang memberi perlindungan kepada mereka."

"Allah…, Allah…, perhatikanlah para fakir miskin. Ikut sertakan mereka dalam kehidupan kalian. Allah…, Allah…, jagalah baik-baik wanita kalian dan para hamba sahaya kalian, sebab Rasul Allah s.a.w. mewasiyatkan supaya kalian menaruh perhatian kepada dua golongan lemah itu, yaitu kaum wanita dan para hamba sahaya."

Setelah berhenti sebentar untuk memulihkan tenaga yang semakin melemah, Imam Ali r.a. melanjutkan:

"Dalam menjalankan kewajiban terhadap Allah, janganlah kalian takut dicela orang lain. Allah akan melindungi dan menyelamatkan kalian dari orang-orang yang hendak berbuat jahat terhadap kalian. Berkatalah baik-baik kepada semua orang sebagaimana telah diperintahkan Allah kepada kalian. Janganlah kalian lengah meninggalkan amr ma'ruf dan nahi mungkar, agar Allah tidak melimpahkan kekuasaan kepada orang-orang yang berperangai jahat. Sebab dalam keadaan seperti itu doa kalian tidak akan dikabulkan lagi."

"Hendaknya kalian saling berhubungan erat, saling tolong-menolong dan saling bercinta-kasih. Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, saling bertolak belakang atau bercerai-berai. Hendaknya kalian saling bantu-membantu dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah salingbantu dalam berbuat dosa dan permusuhan."

"Bertaqwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya siksa Allah itu sangat berat. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memelihara kalian, hai para ahlul-bait. Allah melestarikan Nabi s.a.w. melalui kalian. Kuucapkan selamat tinggal sebaik-baiknya kepada kalian dan kuucapkan pula Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh…"

Beliau wafat meninggalkan kesan terdalam bagi umat islam tentang teladan kepemimpinan dan keikhlasan mencintai Allah. Dia adalah orang yang zuhud , beliau memandang bahwa zuhud bagi penguasa merupakan sesuatu yang penting dan wajib. Beliau berkata, “Allah menjadikanku sebagai imam dan pemimpin dan aku melihat perlunya aku hidup seperti orang miskin dalam berpakaian, makan, dan minum sehingga orang-orang miskin mengikuti kemiskinanku dan orang-orang kaya tidak berbuat yang berlebihan.”

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sayyidina Ali

0 comments:

Post a Comment