Hari itu serasa cerah sekali. Setelah 30 tahun menarik becak , baru kali ini dia mendapatkan rezeki yang berlebih. Tiga ratus ribu rupiah. Jumlah yang tak sedikit bagi Karman. Rezeki Allah yang patut disyukukurinya. Karena tadi siang ada penumpang becak yang dermawan memberinya uang lebih. Dari wajahnya terpancar senyum bahagia karena membayangkan wajah ceria istrinya kala menerima uang sebanyak ini. Setelah dihitung hitung maka cukuplah uang yang ada di pundi tabungannya untuk berangkat ketanah seberang melihat cucunya yang baru lahir.
Dalam kayuhan pedal becaknya dia menerawang pada masa setahun lalu. Ketika anak tertuanya yang bermukim di daerah transmigrasi datang menjenguknya. Istrinya sangat bahagia sekali. Masih terbayang oleh Karman wajah dan mulut istrinya menikmati Ayam Goreng Panggang yang dibelikan oleh menantunya ketika mereka mengunjungi Kebun Binatang. “ Enak Loh Mas..” Karman tersenyum menyaksikan keceriaan istrinya. Mungkin sepanjang usia perkawinannya dia tidak pernah mampu membelikan Ayam Panggang itu. Kini ada niatnya untuk mengajak istrinya pergi kewarung lesehan menikmati Ayam Panggang. Dengan uang yang ada ditangan, lebih dari cukup untuk membeli kebahagiaan sesaat bersama istri tercintanya. Sisa uang itu akan digunakannya untuk ongkos menjenguk cucu pertamanya yang baru lahir.
“ Duh , Alangkah bahagianya Surti bila mendapatkan ini semua. Ayam Panggang dan Pergi menengok cucu pertamanya. Dua duanya adalah kebahagiaan tak ternilai baginya “ Kembali Karman tersenyum membayangkan wajah ceria Istrinya ketika sampai dirumah.
Dalam lamunan itu , suara keras terdengar didepan becaknya. Nampak seorang pengemis terpental karena ditabrak oleh mobil sedan. Karman, menghentikan becaknya dan segera memeriksa korban kecelakaan itu. Mobil yang menabrak pejalan kaki itu sudah lari entah kemana. Tinggallah Karman seorang diri ditengah jalanan yang sudah berangkat malam dan sepi. Karman menaikkan korban itu kedalam becanya. Dia mengayuh sepedanya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat. Syukurlah korban dapat diselamatkan. Uang yang ada ditangan hasil menarik becak seharian dan juga hasil pemberian sang dermawan , semuanya habis terpakai untuk menanggung biaya berobat korban kecelakaan itu.
Hari telah menunjukkan pukul 10 malam. Karman mengetuk pintu rumah kontrakannya yang berada dibelakang dan menempel di tembok real estate mewah. Nampak istrinya tersenyum sambil membukakkan pintu. Karman menceritakan semua kerjadian yang dialaminya.
“ Ya sudah Mas.. Mungkin Allah memberi rezeki berlebih pada kita hari ini agar kita dapat berbuat baik pada orang lain yang teraniaya. Karena selama ini kita hanya mampu mencari rezeki untuk hidup kita saja. Soal rencana keseberang , dak usah dipikirkan benar. Anak kita tau kok keadaan kita. Kalau mereka ada rezeki pasti mereka kirimin ongkos untuk kita datang “ Karman tertunduk haru mendengar ucapan istrinya itu. Surti kenal betul sifatnya.
Karman duduk diatas bale bale dengan lampu 5 watt sambil menikmati Ubi kayu bakar yang dihidangkan istrinya. Digenggamnya tangan Surti. Mereka sambil tersenyum menikmati buka puasa. Kelak saur mereka hanya akan menikmati sepotong ubi bakar yang tersisa dan segela air putih. Allah telah memberikan kesempatan pada mereka untuk berbuat baik kepada sesama. Hari ini mereka merasa sangat kaya. “ Puja puji kepada mu Ya allah. Yang telah memberikan kami harta tak ternilai. Hati yang selalu ikhlas berkorban hanya untuk Mu.” Demikian suara lembut sitrinya yang terdengar sayup sayup dalam kantuknya.
Saudaraku...
Suatu ketika kamu berkata kepadaku bahwa nikmati hidup selagi bisa. Kenikmatan yang pasti adalah sesuatu yang masuk kedalam perut kita. Selebihnya hanya enak dipandang dan itu hanya psikis. Itulah sebabnya kamu memilih makanan terlezat dan menikmati sepuas yang bisa kamu makan. Namun, ketahuilah bahwa makanan itu adalah sumber benacana dalam kehidupan kita. Memang kita perlu makan untuk hidup tapi tidak hidup untuk makan. Di Dikisahkan,Nabi Yahya as bertemu dengan iblis yang membawa sesuatu barang.Kepada iblis, Nabi Yahya menanyakan untuk apa barang itu? Iblis menjawab,barang itu syahwat untuk memancing anak cucu Adam.
"Adakah dalam diriku sesuatu yang dapat engkau pancing?" tanya Nabi Yahya.Jawab Iblis,
"Tidak ada.Hanya pernah terjadi pada suatu malam,engkau makan agak kenyang,dan kami dapat menarikmu sehingga engkau merasa berat mengerjakan shalat."
"Kalau begitu,aku tidak akan makan terlalu kenyang lagi selama hidupku," kata Nabi Yahya.
"Wow,sungguh menyesal sekali kami buka rahasia ini.Mulai saat ini,kami tidak akan menceritakan rahasia ini kepada siapapun," Iblis menyambung.
Ketahuilah oleh kamu bahwa seandainya manusia menundukkan hawa nafsunya dengan cara berlapar diri, maka ia akan mempersempit ruang gerak setan, tidak melakukan perbuatan tercela, tidak tenggelam di dalam kehidupan dunia, dan melaksanakan ketaatan kepada Allah"
Selama ini kita seringkali menilai negatif terhadap rasa lapar, bahkan kita berusaha bagaimana agar tidak pernah lapar sedetikpun. Namun, para nabi, sahabat dan orang-orang terdahulu, khususnya orang-orang sufi, malah menjadikan lapar sebagai tradisi. Mereka tidak pernah suka perutnya merasa kenyang. Ada banyak hikmah, manfaat dan keutamaan di balik lapar.
Lantas bagaimanakah teladan yang bisa kita petik dari Rasul. Beginilah kisanya . Muslim dan Tirmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: “Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu, Muhammad saw hanya mendapat kurma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!”
Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: “Aku pernah datang kepada Rasulullah saw ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya:
‘Ya Rasulullah saw! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit?’
Jawab baginda: ‘Aku lapar, wahai Abu Hurairah!’
Mendengar jawaban baginda itu, aku terus menangis sedih melihat keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: ‘Wahai Abu Hurairah! Jangan menangis, kerana beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia.’ (Kanzul Ummal 4:41)
Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah r.ha. dia berkata: “‘Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah Saw tidak pernah berasap.’ Berkata Urwah ra: ‘Wahai ibuku, jadi apalah makanan kamu?’ Jawab Aisyah r.ha: ‘Kurma dan air saja, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah Saw dari kaum Ansar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan’.” (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)
Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: “Aku pernah datang menziarahi Aisyah r.ha. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: ‘Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya!’ Tanya Masruq: ‘Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?!’ Aisyah r.ha menjawab: ‘Aku teringat keadaan di mana Rasulullah saw telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah baginda kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari’.” (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)
Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: “Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah saw maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: ‘Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu’.” (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)
Tirmidzi memberitakan daripada Abu Talhah ra. katanya: “Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah Saw lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah saw pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perut baginda terikat dua batu demi dua batu.” (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)
Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah r.ha. dia berkata: “Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi saw ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!” (At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).
Dari sosok Rasul , manusia terbaik dimuka bumi , sebagai bayang bayang Allah, hidupnya tidak diliputi oleh kekenyangan. Hidupnya diliputi oleh rasa lapar. Namun sepanjang hidupnya hanya tiga kali sakit. Satu ketika perang uhud dan satu lagi ketika terkena guna guna, dan terakhir menjelang ajal. Itu saja. Selebihnya baginda kokoh karena sabar dan ikhlas tanpa memperturutkan hawa nafsu dengan tidak membuat perutnya kenyang. Semoga kamu dan saya dapat berlajar dari semua itu bahwa orang yang mengutamakan akhirat adalah mereka yang dekat dengan lapar, namun ikhlas berbagi kepada siapapun.

0 comments:
Post a Comment