Sunday, July 10, 2011

Jalan Allah

Geng kecil kami sampai kini selalu menjalin silahturahmai setidaknya setahun sekali. Sebagaimana biasanya, tahun lalu, Sehabis reuni dengan teman teman semasa SMA, aku terbayang akan seorang sahabat yang tak pernah hadir dalam setiap reuni yang kami adakan. Kemanakah dia ? mungkin karena tidak pernah hadir sebagian kami sudah melupakannya. Tapi tidak bagiku. Aku tetap teringat dengan dia. Kupanggil dia Canuk. Ayahnya buruh dipenambangan batu kapur. Ibunya berdagang sayuran di Pasar tradisional. Ketika SMU aku sudah mandiri dengan berdagang kaki lima di pasar. Sepulang sekolah , kadang dia datang ketempat ku berdagang. Disela sela kegiatanku berdagang itu, kami sempatkan juga mengerjakan PR bersama sama. Pernah satu saat aku bertanya padanya ” apa cita cita kamu, Nuk ” . Dia terdiam lama. Setelah itu dia hanya tersenyum memandangku. Aku tahu dia malu untuk mengungkapkan niatnya dihadapanku. Aku maklum. Kami orang miskin dan tamat SMU adalah berkah tersendiri.

Tak ada orang yang tak suka dengan Canuk ketika SMA dulu. Dia orang yang ramah dan tiak pernah menyinggung perasaan teman. Mudah tersenyum dan tak pernah marah apalagi tersinggung. Sekolah kami beruntung mempunyai murid seperti Canuk.Karena berkat dia, sekolah kami tiga kali berturut turut menjadi juara tilawatil Quran tingkat SMA. Suaranya memang merdu dan dia hampir hapal semua isi a Al Quran. Disekolahpun dia termasuk cerdas. Selalu masuk kelompok sepuluh besar terbaik disekolah. Dia selalu ada waktu mengajarkan kami untuk memnyelesaikan PR. Bahkan sebagian kami beranggapan cara dia menjelaskan jauh lebih baik ketimbang guru sekolah. Setiap lomba pidato dalam bahasa inggeris antar kelas, maka Canuk akan tampil untuk akhirnya memberikan piala untuk kelas kami. Ah terlalu banyak kebaikan tentang Canuk. Bila kuingat ini, aku semakin merindukan dia.

Ketika tamat SMA, aku lebih dulu pergi dari kotaku. Sebulan setelah kepergianku, Canuk menyusul. Karena kami tidak sanggup harus membayar BP3 sebagai syarat mengambil ijazah. Upacara glamor perpisahan tak kami hadiri. Bagi kami cukuplah ujian sekolah sebagai tanda kami usai dengan effort kami. Soal ijazah tak lagi kami pikirkan karena memang kami tidak punya cita cita lebih seperti anak remaja kebanyakan. Beberapa bulan setelah aku pergi meninggalkan kota, Ijazahku dikirim oleh sekolah ke rumahku. Ibuku juga bercerita dalam surat , Canuk sempat pulang kekota ku. Karena ibunya sakit keras. Canuk datang kerumahku mengabarkan bahwa dia juga mendapatkan ijazah dari sekolah. Itu artinya kami dibebaskan dari kewajiban membayar biaya BP3.. Aku sempat terenyuh ketika mendapatkan kabar bahwa nilaiku dan Canuk termasuk terbaik disekolah. Setelah itu, dalam setiap surat, ibu sering bercerita bahwa Canuk acap datang kerumahku. Dia sudah menganggap keluargaku sebagai keluarganya. Ibu juga bercerita bahwa Canuk tidak melanjutkan keperguruan tinggi. Sama dengan ku.

Hanya setahun Canuk tinggal di kotaku, setelah ibunya wafat, diapun pergi merantau. Sejak itu kami disconnect. Perjalanan hidupku memang tidak sepi dari cobaan terberat ditengah keterbatasan sebagai urban dikota besar. Tapi aku bersyukur karena ketrampilanku berwiraswata cukup membuatku bisa survival. Tapi bagaimana dengan Canuk. Dia tidak terlatih untuk mandiri. Tubuhnya tidak tegap sepertiku. Dia krempeng. Apakah dia baik baik saja. Bulan berganti bulan dan tahun terlewati, tak terasa sudah lebih 10 tahun aku tidak lagi bertemu dengan Canuk. Aku sudah sedikit melupakannya. Namun dalam setiap reuni dengan teman teman satu gang disekolah dulu, itu selalu mengingatkanku tentang Canuk. Teman teman juga tidak banyak tahu dimana Canuk kini berada. Apakah dia bisa meneruskan keperguruan tinggi ? apakah dia sudah bekerja? Dimana? Salah satu teman mengatakan bahwa ayahnya juga sudah meninggal karena kanker paru paru. Canuk sudah menjadi yatim piatu.

***

Atas undangan dari pemerintah Thailand, aku berkesempatan untuk berkunjung ke Thailand Selatan. Ini wilayah muslim di Thailand. Dari Hong Kong , aku ikut satu penerbangan dengan rombongan dari konsorsium Chna dan Korea yang terlibat dalam pembangunan insfrastruktur disana. Sesampai di Bangkok, kami dibawa kehotel Sheraton untuk istirahat dan keesokannya melanjutkan perjalanan ke Pattani dengan pesawat. Tujuan akhir kami adalah distrik Mae Lan. Ini wilayah yang merupakan populasi muslim di Thailand. Wilayah ini pernah selama lima tahun dijadikan wilayah operasi militer oleh Pemerintah Thailand karena gerakan separatis muslim. Wilayah ini berbatasan dengan Malaysia di negara bagian Kelantan. Walau ini adalah wilayah komplik namun kehidupan rakyat tidak seburuk yang dibayangkan. Para penduduk mengatakan bahwa tidak semua rakyat menjadi pemberontak. Hanya sebagian kecil saja..

Betapa terkejutnya aku bahwa tokoh masyarakat disana ternyata seseorang yang tak asing bagiku. Bahkan dia adalah sahabat lamaku yang hilang entah kemana. Kini aku bertemu kembali dalam suana lain. Dia tampil percaya diri memberikan paparan tentang dukungan masyarakat terhadap pembangunan itu. Dia mengungkapkan islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Perjuangan rakyat khususnya islam tak pernah beranjak kepada perjuangan keadilan. Selagi rasa keadilan itu tetap ada maka selama itupula komunitas islam akan menjadi pontesi dimanapun untuk menjadi penggerak dan penyokong program pembangunan. Dialah Canuk. Seusai pertemuan itu , dia memelukku.

” Lama kita tak berjumpa ” katanya dengan airmata berlinang.

” Bagaimana kamu bisa sampai disini, Nuk ”

“ Panjang ceritanya. Tapi inilah sebetulnya cita cita ku sedari dulu. Namun aku malu mengatakannya kepadamu. “

“ Apa maksud kamu ?

“ Ingat dulu pernah kamu bertanya padaku. Apa cita citaku ? sebetulnya aku ingin manjawab bahwa cita citaku adalah mewakafkan hidupku untuk Allah. Aku tidak peduli seperti apa itu kelaknya. Aku hanya ingin mewakafkan hidupku dijalan Alalh. Itu saja. ”

” Oh...”

’ Setahun setelah kamu pergi merantau, akupun pergi. Aku tidak tahu kemana langkah akan diayun Kemana tujuan yang hendak kuraih. Aku hanya tahu semua tempat dibumi ini adalah milik Allah maka dimanapun aku pergi itu aku tetap dibumi Allah. Tak ada cita cita ingin jadi Ekonom seperti kamu. Tak ada cita cita ingin jadi insinyur seperti teman teman lain. Aku hanya ingin menjadi hamba Allah. ”

” Oh...” Aku terpesona dengan untain kata katanya.

” Aku tidak melihat ada kesempatan bagiku untuk terus tinggal di Indonesia. Makahijrah adalah pilihan. Alhamdulilalh tetanggaku mengajakku pergi merantau ke Malaysia untuk menjadi buruh Kebun Karet disana. Akupun pergi, Disela sela pekerjaanku sebagai buruh, aku sempatkan menjadi guru mengaji. Mengajarkan anak anak kampung berhitung dan menulis diusia dini. Salah satu teman asal Thailan yang juga menjadi buruh sama dengan ku , mengajakku untuk kekampungnya. Dia inginkan aku menjadi guru mengaji disana. Akupun ikut bersama dengannya. Sejak itulah aku tinggal di Thailand dan akhirnya menjadi warga negara Thailand. ”

” Terus ” aku semakin tertartik dengan ceritanya.

” Sebagai guru mengaji , tentu aku sering didatangi oleh penduduk kampung untuk bertanya tentang banyak hal. Sebisanya aku menjawab. Akupun di baiat oleh mereka sebagai imam masjid dan sekaligus sebagai khatip. Alhamdulilah, hanya setahun aku hidup menumpang dirumah penduduk. Salah satu penduduk mewakafkan tanah yang tepat berada disamping pasar rakyat. Mereka bergotong royong membangun rumah dua lantai untukku Yang dibawah kugunakan untuk restoran dan berjualan barang barang kebutuhan hari hari. Dilantai atas kugunakan untuk tempat anak anak belajar mengaji dan juga tempat tidurku. Maka jadilah rumah ini sebagai rumah umat. ”

” Setelah itu Allah mengirim wanita untuk menjadi istriku. Diapun seorang muslimah yang taat Kami bersama sama bertekad mewakafkan hidup kami kepada Allah. Kehidupan ekonomiku semakin membaik sejak aku dipercaya oleh penduduk sebagai pedagang perantara hasil pertanian. Setelah berkembang ku wakafkan semua hartaku sebagai modal awal membentuk koperasi bersama sama penduduk kampung. Berawal dari usaha dagang antara kabupaten kini sudah merambah menjadi pedagang antar negara. Hubungan keanggotaan koperasipin sudah melebar hampir kesemua kabupaten ”

” Wah kamu jadi jutawan sekarang ? sergahku.

” Aku mewakafkan hidupku untuk Allah. Itu tujuanku.Bukan jutawan. Usaha yang kujalankan adalah usaha koperasi dimana semua penduduk sebagai anggota. Aku hanya mengelola mereka dan mereka patuh. Setiap tahun mereka memberikanku jasa sebagai amilin , tak lebih. Kelebihan keuntungan lainnya disimpan sebagai tabungan koperasi untuk dana cadangan membantu mereka yang miskin, merawat tempat peribadatan , menjaga kelangsungan usaha bila terjadi masa paceklik, membantu mengirim anak anak desa yang pintar pintar untuk mendapatkan kesempatan keperguruan tinggi di kota.”

” Oh...”

” Bagaimana kamu bisa meyakinkan penduduk kampung untuk bersatu dan akhirnya maju mandiri menyelesaikan masalahnya sendiri. Inikan tidak mudah. ”

” Didalam Al Quran sudah dijelaskan bagaimana caranya mengelola satu kesatuan itu. Berawal dari rumah tangga , kemudian tetangga untuk saling menjaga dan akhirnya meluas ketingkat RT , RW dan terus kekelurahan, kecamatan,kabupaten , provinsi dan akhirnya dunia. Ya kan. Nabi telah menteladankan bagaimana membangun peradaban yang dirahmati Allah. Tak perlulah teori tinggi untuk itu. Sesuatu itu menjadi rumit karena nafsu. Dan akan menjadi sederhana apabila setiap tindakan kita dituntun oleh hati kita, qalbu kita. Karena didalam qalbu kita itulah Allah bersemayam, yang akan mendidik kita untuk selamat dunia akhirat. Sederhana kan, Don. ”

” ya, Nuk. Kamu benar. ”

Kunjungan singkat itu seakan melunasi rasa rinduku selama 25 tahun akan Canuk. Benarlah bila kita bertekad mewakafkan hidup kita kepada Allah maka Allah pulalah yang akan menjaga kita. Muslim adalah dia yang menyerahkan segenap wujudnya di jalan Allah taala. Yakni mewakafkan wujudnya untuk Allah taala. dan untuk mengikuti kehendak-kehendakNya, serta untuk meraih keridhaan_Nya. Kemudian dia berdiri teguh diatas perbuatan-perbuatan baik demi Allah taala. Dan dia menyerahkan segenap kekuatan amaliah wujudnya di jalan Allah.

Orang berakal dapat memahami bahwa hakikat Islam baru dapat merasuk ke dalam diri sesoarang apabila wajudnya diwakafkan untuk Allah taala dan untuk jalan-Nya. Dan amanat-amanat yang dia terima dari Allah taala, dia serahkan kembali kepada Sang Penganugerah Sejati itu. Dan tidak hanya secara akidah saja , melainkan secara amalanpun dia memperlihatkan seluruh bentuk Islamnya serta hakikat sempurna Islam tersebut. Tanganya, kaki, kalbu, otak, akalnya, pemahamannya, kemarahannya, rasa kasihnya , kelembutan hatinya, ilmunya, segenap kekuatan rohani dan jasmani yang ia miliki, kehormatannya, hartanya, ketentraman dan kebahagiaanya dan apa saja yang ada secara zahir maupun batin mulai dari rambut-rambut di kepalanya hingga ke kuku-kuku kakinya , bahkan sampai niat-niatnya, partikel partikel kalbunya, dorongan nafsunya, kesemuanya itu hanya karena mengikuti Allah taala

Canuk telah memiliki cita citanya, dengan realitais hidupnya, bahwa langkah kebenaran itu telah mencapai suatu derajat dimana saja yang dia punyai sudah tidak lagi menjadi miliknya, melainkan telah menjadi milik Allah taala. Dan segenap bagan tubuh serta kemampuan, telah dikerahkakn untuk mengkhidmati ilahi, sekan-akan semua itu menjadi bagian tubuh Al haq. Subhanallah.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Jalan Allah

0 comments:

Post a Comment