Badrun menatap kearah ikan yang bergerak lincah didalam aquarium itu. Dia tersenyum melihat kelincahan Ikan ikan itu. Mereka bergerak tanpa beban dan menikmati ruang oksigen yang tersedia didalam air , didalam aquarium kecil. Bahagiakah mereka ? Apa arti kemewahan aquarium itu, bila lingkungan memanjarakan dengan batasan yang pasti. Walau makanan tersedia dan penerangan yang abadi dalam aquarium itu , namun tetap saja hidup memanjarakan ikan itu.Tentu kehidupan dialam bebas lebih baik untuk mereka. Tapi..entahlah..Badrun sendiri masih cemas dengan kehadirannya diruang tunggu kamar kerja Pimpinannya. Tadi pagi, dia sempat terkejut ketika mendapatkan memo dimejanya. Dia harus menghadap atasannya. Ini pasti marah lagi. Dia sudah siap tapi tetap saja cemas.
“ Duduk ! “ kata pimpinannya dengan suara bariton. Badrun berusaha menatap sekilas kearah pimpinannya tapi itu hanya sekejap. Wajah pimpinannya terlalu berat untuk ditatap langsung. Terlalu berkharisma atau memang menciptakan rasa takut. Bagi Badrun sama saja. Sama sama menakutkan. Dia tahu bahwa pimpinannya memandangi tubuhnya dengan seksama seakan berpikir untuk mengucapkan kata kata pedas. Tentang dia yang lemah, Malas. Tidak kreative. Tidak koordinative. Bla bla..
” Mau rokok ” Kata Pimpinannya dengan tersenyum. Badrun tersentak. Ada apa ini ?. Mengapa hari ini lain acaranya.? Tidak ada kata kata pedas tapi uluran penuh santun dan bijak kepada nya. Sebatang rokok bukanlah apa apa tapi senyuman pimpinannya lebih dari segala galanya.
” Terimakasih, pak..” Badrun menolak dengan halus sambil menghias wajahnya dengan senyum.
” Merokoklah. Jangan sungkan. Kebiasaan merokok ini nanti baik untuk kamu. Apalagi setelah menduduki jabatan seperti saya. ” Kata atasannya yang membuat Badrun terkejut. Ada apa ini ?. ” Terimakasih , Pak. ” Jawab Badrun sambil menerima sebatang rokok.
”Badrun ! Seru Pimpinannya ” Selama ni memang saya teramat keras kepada kamu. Karena posisi kamu sangat penting bagi tugas saya. Makanya saya tidak ingin kamu melakukan kesalahan. Ditangan mu berbagai perencanaan disusun untuk diterapkan oleh berbagai unit dibawah saya. Jadi , saya harap kamu maklum. ” lanjut atasanya.
” Saya, Pak ..” Kata Badrun.
” Nah, sekarang kamu saya tugaskan diposisi baru sebagai wakil saya. ” Kata pimpinannya. Badrun terkejut seperti terlempar dari korsi. ” Jabatan ini , berlaku mulai besok. Hari ini saya akan umumkan dan besok pelantikan akan dilaksanakan. ” Lanjut pimpinannnya. Badrun mengangkat dagunya dan menatap wajah pimpinannya yang nampak tersenyum.
” Tidak usah terkejut. Saya tahu bahwa kamu akan menerima tugas ini dengan penuh tanggung jawab., ya kan ” Kata Pimpinannya lagi.
” ..Eh ..ya , Pak. Siap..” Jawab Badrun ditengah keterkejutan dan rasa senang dengan jabatan barunya.
” Sebelum kamu melaksanakan tugas maka saya ingin mengarahkan kamu. Bahwa tugas sebagai wakil itu sama dengan tugas saya sebagai pimpinan. Hanya bedanya kamu melaksanakan semua program kerja dan saya yang bertanggung jawab. Tugas perencanaan, koordinasi , pelaksanaan serta pengawasan ada ditangan kamu. Laksankan tugas itu dengan seksama dengan rasa tanggung jawab sebagai abdi negara. Kamu harus focus dengan hasil. Kalau ada perlawanan dari bawahan atau masyarakat , tidak usah diladenin. Saya yang akan menghadapinya. Tugas kamu bukan menggunakan emosi mu tapi akal dan tindakan sesuai program yang sudah saya tatapkan. Saya hanya akan melihat kamu berhasil apabila kamu dapat melaksanakan program yang sudah ditetapkan. Memang cara saya terkesan otoriter tapi negara ini harus diurus dengan tangan besi. Kita tidak punya waktu berdebat dengan para orang yang pintar berteori diluar sana. Karena ada lebih 90 persen rakyat yang hanya mengerti bila kita mampu menyediakan sandang, pangan, papan. Itu saja. ” Kata Pimpinannya sambil mengepulkan asap rokok keseluruh ruangan.
Selanjutnya , Badrun sudah mulai sibuk sebagai wakil pimpinan. Sikap keras kepada bawahan disemua unit , merupakan kesehariannya dalam melaksanakan fungsinya sebagai koordinator dan sekaligus pengendali jalannya setiap kebijakan operasional. Sekecil apapun riak yang timbul karena kebijakannya, dihadapannya dengan tangan besi. Bila project berurusan dengan penggusuran lahan rakyat maka itu harus dilaksanakan tanpa membuang waktu berdebat soal HAM atau hukum. Bila bawahannya nyeleweng maka dia langsung geser kedaerah terpencil dan ganti keorang lain tanpa harus ribut menggiring bawahannya kepolisi. Memenjarakan mereka yang salah karena kebijakannya hanyalah membuang waktu. Sementara rakyat tidak bisa menunggu kebutuhan akan sandang, pangan , papan.
Berjalanan waktu, tak terasa project demi project selesai dibangun dengan memuaskannya. Walau semua itu dicapainya dengan banyak penderitaan. Kalaupun jabatan ini membuat Badrun mempunyai harta cukup namun tidak membuat dia kaya raya. Tapi setidaknya harta itu , cukup membuat dia pensiun dengan damai. Pimpinannya, merasa puas dengan pekerjaannya. Makanya pimpinannya meminta dia datang menemui pimpinan puncak yang juga atasan dari pimpinannya.
” Badrun ” Kata atasanya sebelum mereka pergi menemui pimpinan puncak deparatementnya ” Saya akan dipindah tugaskan ketempat lain. Ya jabatan baru untuk orang yang menjelang usia pensiun. Saya sudah rekomendasikan kamu sebagai pengganti saya. Atasan kita setuju karena kamu memang pantas menduduki jabatan saya. Menurut atasan saya bahwa saya berhasil menciptakan kader yang berkualitas. Membuat kami para orang tua merasa puas dengan berhasil menjadikan kamu sebagai generasi yang tangguh. Kami percaya , ditangan kamu , departement ini akan lebih baik. ” demiikian atasannya.
Kemudian , Badrun sudah berada dipuncak menggantikan pimpinannya. Dia menempat kan seseorang bernama Gunawan sebagai wakilnya. Anak muda yang energik. Sama seperti Badrun muda dulu. Badrun melihat semua potensi ada pada anak muda ini. Gunawan adalah cermin generasi muda yang akan meneruskan semangat juangnya. Tapi , kini era reformasi. Era demokratisasi. Paradigma baru untuk semangat baru menuju masyarakat yang lebih demokratis.. Tentu dia tidak ingin menularkan cara kerja dan dokrin yang selama ini dia dapat dari pimpinannya dulu. Dia ingin mengarahkan Gunawan menjadi pimpinan yang akomodative dengan tuntutan situasi dan mengambil keputusan dengan objektive tanpa meninggalkan hati nurani. Makanya dia berkeharusan untuk memanggil Gunawan untuk berbicara dari hati ke hati sebelum memulai tugas.
” Gun ” Seru Badrun ” saya tahu bahwa suasana otoriter tidak layak lagi dipertahankan dalam mengelola organisasi. Kita juga sadar bahwa manusia bukanlah mesin atau barang yang bisa dicreate sesuai yang kita mau. Manusia adalah mahkluk sosial yang butuh perhatian, sentuhan dan senyuman. Lebih daripada itu , manusia adalah makluk sosial yang butuh kehormatan. Artinya, untuk apa kita membangun bila proses pembangunan itu tidak menimbulkan kehormatan bagi orang lain. Inilah, yang selama ini terlupakan oleh atasan saya dulu dan juga saya. Makanya, saya ingin kamu rubah situasi ini. Lakukanlah situasi kerja dengan paradigma baru yang lebih manusiawi dan demokratis. Saya yakin, kamu sebagai generasi muda menyadari bahwa keadaan sekarang tidak sama dengan keadaan kami dulu. Saya percayakan semua ini dengan kamu. Selamat bertugas. Saya akan terus mengawasi kamu...” Demikian kata Badrun kepada Gunawan., Udara ruangan memang sejuk namun Gunawan tetap berkeringat. Mungkin nampak gugup, pikir Badrun.
Ketika waktu berlalu , Gunawan melenggang lincah dengan tugas barunya. Tapi, Badrun tidak melihat hasil yang sudah dicapainya. Anggaran terkuras habis. Setiap rapat Gunawan datang dengan berbagai analisa tentang situasi yang membuat pekerjaan terkendala. Soal masyarakat yang tidak mau digusur, soal bawahan yang takut berbuat karena sustem pengawasan yang ketat , apalagi media massa tidak bisa dibungkam untuk memberitakan apa saja yang mereka lakukan., masyarakat yang terus bersuara lantang lewat demontrasi, suasana kantor yang mencekam karena tekanan dari partai politik , DPR, LSM. Semua itu adalah kendala yang dapat dijelaskan dan dibenarkan. Bahwa kini bukan soal hasil tapi soal bagaimana proses pembangunan dijalankan dengan keterlibatan masyarakat luas walau itu hanya membuat pekerjaan menjadi bertele tele.
Badrun , seakan kehilangan tenaga pintarnya ketika berhadapan dengan Gunawan. Dia seperti macan ompong. Lelah dengan berbagai argumentasi pintar Gunawan. Apakah ada yang salah dengan semua ini. Apakah ada yang dapat membenarkan bila pembangunan untuk menyediakan pangan, papan, sandang tertunda hanya karena keyakinan tentang kebebasan. Apakah rakyat didesa, nelayan, buruh tani, supir angkutan, buruh pabrik , yang kekurangan pangan, papan dan sandang , paham akan nilai nilai demokrasi tentang kesetaraan, perdamaian, kebebasan. Apakah mereka semua paham bila para orang pintar bicara di TV tentang 70% APBN habis untuk membayar gaji dan pesta demokrasi serta membayar bunga dan hutang. Pahamkah , mereka ?. Dengar kata Gunawan " Sukses kita bukan apa yang bisa kita bangun untuk rakyat tapi apa yang dapat kita beri kepada DPR, DPRD, LSM dan Aparat Hukum. Ini era demokrasi dan kekuasaan terdistribusi secara sistematis dan mengakomodasi semua kekuasaan dengan uang adalah lebih penting daripada tugas kita sendiri. "
Gunawan , tersenyum cerah dengan jabatannya tapi Badrun tersenyum kecut memandang semua yang nampak dihadapannya. Melawan keadaan akan berhadapan dengan anti demokrasi dan siap didemo oleh yang katanya rakyat. " Serahkan semua kepada saya dan bapak akan menikmati jabatan bapak sampai pensiun tanpa ada masalah apapun. " Demikian Gunawan meyakinkan Badrun yang selalu kawatir
Saatnya , Badrun harus pensiun dan Gunawanpun menggantikan kedudukannya. Acara perpisahan diadakan dengan meriah. Tidak ada pidato dari Badrun karena dia memang tidak hadir dalam acara itu. Sementara Gunawan tampil memukau dihadapan para hadirin dengan pidatonya yang berisi tentang janji janjinya ...
” Selamat , ya Mas ” Seru istri Gunawan sambil mencium pipi gunawan ketika kendaraan mereka menuju pulang ” Bagaimana dengan janji , mas kepada mama dan anak anak ..” lanjut istrinya dengan manja. Gunawan tersenyum sambil membalas kecupan indah dikening istrinya. Dia tidak peduli dengan janji sebagai amanah jabatannya tapi janji kepada keluarga adalah segala galanya.
” Kini aku dapat berbuat apa saja untuk janjiku kepada mama dan anak anak setelah si Badrun itu pensiun. Kita benar benar bebas. Tidak ada lagi suara si tua itu yang membuat aku selalu meriang dengan tugasku. ”
Istri Gunawan semakin merapatkan tubuhnya kepada Gunawan sambil membayangkan rumah mewah, mobil mewah , deposito di bank serta apartement mewah di luar negeri untuk anak nakanya sekolah. Dengan uang melimpah, Gunawanpun membayangkan karir selanjutnya sebagai anggota DPR dan selanjutnya jadi Gubernur..wah indahnya hidup di era demokrasi. Semua orang boleh bermimpi selagi ada kesempatan. Dasar si Badrun tua , yang tidak tahu menikmati hidup dan mau menghabiskan umur untuk memikirkan nasip orang lain yang memang sudah ditakdirkan miskin dan bodoh. Wong Tuhan saja tidak bisa merubah mereka , mengapa pula kita repot...bisiknya sambil tersenyum puas, senyum srigala yang kelak siap menjadi bagian dari gromblon elite negeri ini untuk merampas hak hak rayak yang lemah...

0 comments:
Post a Comment