Ketika senja merah mulai merangkak di bumi Singapore. Dari kamar hotel Mandarin Orchard , dia melihat pemandangan dibawah. Semua begitu teratur dan asri. Semua tertata dengan baik bersama wajah wajah yang berseri. Beda sekali dengan negerinya yang kebanyakan berwajah muram. Walau negerinya merupakan donator terselubung untuk kemakmuran Singapore. Sebentar lagi, relasinya bersama teman temannya akan datang kekamarnya untuk pergi kesuatu tempat yang membuat dia semakin lupa akan janjinya kepada rakyat jelata. Apalagi kalau bukan wajah cantik amoy yang sudah menanti di ruang karaoke berkelas. Semua itu tersedia dengan begitu mudah tanpa harus membayar. Akan ada saja yang siap membayar untuk kesenangan dan kepuasan jasmani.
“ Jangan lupa ya. Bilang ok. Ada bagi baginya tuh” itu SMS yang masuk ke Galaxi Tab nya. Dia tersenyum. Sumber income masuk lagi. Tak ada resiko, Tak ada berlelah. Uangpun mengalir setiap kesempatan walau jauh dari negeri tercinta. . Entah siapa yang menciptakan sumber uang itu lebih dulu , tak penting. Yang penting dia selalu kebagian. Inilah keadilan yang beradab sesuai pancasila sila kedua. Lantas bagaimana dengan rakyat yang telah memilihnya ? Itulah yang membuatnya gundah. Telah dua tahun lebih berlalu. Rasanya baru kemarin dilantik menjadi orang terhormat. Kini sudah harus masuk persiapan untuk bagaimana bisa terpilih lagi menjadi anggota Dewan.
Diluar gedung dibatasi oleh pagar tinggi antara dia dan rakyat , dia melihat orang ramai datang bersuara lantang sambil membacakan puisi :
Mohon dimaklumi oleh seluruh sesama rakyat..
Kami telanjang di sini bukan untuk melanggar UU APP
Bukan kami sudah kehilangan etika dan sopan santun
Kami bertingkah tak waras begini karena ingin meneladani
Budaya yang tidak tahu malu dari para legislator
Sungguh para pemimpin yang tidak tahu diuntung
Mereka berwisata ke mancanegara di saat balita kami busung lapar
Mereka memalingi anggaran negara di saat kami mengemis di jalanan
Mereka tidur di tengah rapat saat ayah kami sakit keras di kampung
Mereka menonton bokep di tengah rapat saat putri kami diperkosa
Mereka dugem bermewah-mewah saat para perempuan miskin melacurkan dirinya
Sebagai manusia mereka sungguh tidak beradab
Mereka adalah politisi yang tidak memahami filosofi Pancasila
Kami malu punya wakil rakyat seperti mereka
Kami menyesal telah memilih mereka sebagai wakil rakyat
Kami malu sekali, sungguh malu sekali!
Sekarang mereka bagaikan badut yang bodoh di depan publik
Namun di belakang layar berhati gelap, berkaki seribu, dan berotak penyamun
Mustahil karenanya mereka memikirkan nasib 80% rakyat Indonesia yang miskin
Tidak ada gunanya dilakukan PAW karena penggantinya pasti sama saja
Oh Tuhanku Yang Maha Kuasa mohon dengarkanlah doa kami rakyat jelata:
“Sebelum gedung baru laknat itu akhirnya berdiri,
kami minta Kau kirim tsunami datang ke Senayan sini!.
Ads kesadaran datang ketika orang ramai bicara tentang rasa malu. Diapun teringat akan janjinya dulu waktu kampanye. Dia harus berbuat sesuatu. Agar tak dibilang tak punya malu. Namun acap Darman menggaruk garuk kepalanya ketika usai sidang dengan menteri yang menjadi rekan kerjanya. Dia sebagai pengawas dan menteri yang diawasi. Dia pusiing. Karena begitu banyak rencananya ketika hendak menjadi anggota Dewan. Dia punya agenda sesuai janjinya, sesuai misi partainya. Tapi semua rencana itu hanya ada sebatas wacana. Berbagai tulisan yang penuh retorika tentang cita citanya, hanya dianggap sebagai wacana oleh teman temannya.
“ Mau tahu kenapa konsep kamu itu hanya sebatas wacana ? kata temannya
“ Ya, bantu aku untuk menjawabnya. “ Kata Darman. Dia tak ingin berprasangka buruk kepada siapapun. Apalagi kepada teman separtainya.
“ Karena ide kamu hanya sebatas retorika. Tak ada data kuantitatif dan kualitatif mendukung ide kamu itu. “
“ Apakah itu perlu ?
“ Tentu perlu. Ini lembaga resmi. Lembaga terhormat. Tempat orang orang pandai menjual gagasannya dan mengawasi gagasan yang telah menjadi undang undang. Semua ide harus diujji lewat prosedur yang ketat. Gimana data pendukungnya, data pembandingnya, dasar kajian ilmiahnya, pendekatan teorinya apa dan lain sebagainya. Tanpa itu, maka ide hanyalah sebatas retorika yang tak ubahnya seperti Demontran jalanan dengan pengeras suaran membisingkan.”
“ Ya, kan segala sesuatu harus berangkat dari ide,dari agenda. Setelah itu barulah dikaji lebih dalam untuk memenuhi azas ilmiahnya dengan segala data pendukung. “
“ Nah tugas kamu bagaimana menjadikan ide itu sempurna sesuai procedur yang ada. “
“ Aku pernah mencoba membuat seperti usulan kamu itu. Tapi nyatanya tetap dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk dibahas. “
“ Oh, itu artinya memang belum memenuhi syarat. “
" On ternyata ide atas dasar niat baik untuk mensejahterakan rakyat, tidak cukup. Harus ada pelengkap untuk menjadikan ide itu sesuai procedure. "
" La iyalah. Kamu baru tahu. Setiap tahapan procedure itu, definisi rakyat di kaji secara ilmiah. Siapakah yang dimaksud rakyat. Siapakah yang dimaksud konsumen dan siapakah yang dimaksud produsen. Kemudian , diperluas lagi, keadilan untuk siapa? Tak semua produk undang undang itu mempunya definisi yang sama mengenai kata kata rakyat, konsumen, produsen, keadilan. Semuanya transaksional antar kekuatan. "
" Bukankah seharusnya sama definisi itu untuk semua undang undang dibawah Pancasila?
" Jangan sebut sebut Pancasila. Kamu akan ditertawakan. Itu sudah closed file sebagai dasar membuat UU. Jangan. Semua dasarnya adalah soal kepentingan pragamatisme. Apakah UU itu kelak akan dirubah , ya bukan urusan kita. Tugas kita sekarang hanyalah membuat UU sesuai standard procedure yang ditetapkan dalam tata terip Dewan. Ini project kebersamaan untuk selalu sepakat asal pendapatan sama. Titik. "
Dia tak mau lagi bertanya. Karena selalu ujungnya “ memang belum memenuhi syarat”. Setelah berulang ulang kali selama lebih dua tahun dia mencoba melempar gagasannya kepada teman temannya, dan selama itupula tak pernah didengar apalagi dibahas. Dia sudah mati rasa.
Kini, setelah dua tahun lebih duduk di DPR, tanpa berbuat apa apa kecuali hanya sebagai pelengkap procedur sebuah drama demokrasi. Andaikan dia ingin berbeda pendapat maka ketua Fraksi nya sudah lebih dulu memelototkan mata. Mau ikut berpolemik harus terlebih dahulu mendengar arahan dari Ketum Partai. Mau apa saja , ada procedur yang harus didengar dan ditaati.
“Benar kamu dipilih oleh rakyat tapi setelah kamu terpilih kamu tak lagi milik rakyat. Kamu milik partai yang hanya menyuarakan kepentingan partai. Suka tidak suka, itulah keadaan kamu yang sebenarnya. Paham, kan.” Kata Ketua Frakasinya di DPR. Dia paham dan tetap tidak mengerti.
Betapa tidak. Ini berkah demokrasi. Apa yang kita ketahui tentang Demokrasi? Sehatkah kehidupan budaya demokrasi saat ini? Tanyanya kepada temannya. "gimana mau sehat. Apa kamu terpilih tanpa keluar duit. Apa ada orang memilih kamu dengan ikhlas. Walau istri dan anak anak kamu tetap saja pamrih. Jangan terlalu moralis. Dunia ini sudah dari dulu brengsek. Orang pintar makan orang bodoh. Orang kuat makan yang lemah. Ini hukum alam. Berhentilah bicara tentang nilai nilai demokrasi. Itu hanya untuk para mahasiswa dan dosen untuk terus mengajarkan demokrasi dan sekaligus mengkampanyekan demokrasi sebagai system terbaik diantara yang lainnya. Pahamkan. "
Tiga tahun lagi akan ada PEMILU. Artinya dia akan masuk dalam kompetisi lagi. Lantas apalagi yang akan dikatakannya dihadapan rakyat. Bila kenyataanya tidak ada sesungguhnya yang dia kerjakan untuk rakyat. Apakah rakyat begitu bodohnya untuk kembali mempercayainya. Apakah rakyat paham tentang makro ekonomi yang tinggi dan hebat.Apakah rakyat paham bila negeri ini sudah masuk kelompok 20 negara maju. Apakah mereka paham ? bila kenyataannya, rakyat dalam kebingungan dengan harga kebutuhan yang terus melambung. Sekolah gratis yang ongkosnya lebih mahal ketimbang yang bayar. Polisi yang terus memeras bila rakyat berurusan. Hakim yang korup dan jaksa yang pemeras bersama pengacara yang culas. Petugas pajak yang ahli korup. Partai yang bersuara anti korupsi namun kenyataannya partai ahli korupsi. Ah ,banyak lagi yang bila diurut satu demi satu, rasanya tak pantas lagi dia untuk minta dipilih kecuali bila rasa malu sudah terhalau dalam diri.
“ Tak usah berpikir kusut betul soal nanti. Jalani sajalah hidup ini dan nikmati selagi sempat” Kata temannya. Dan benar , semua teman temannya yang duduk sebagai orang terhormat , tak lagi bicara tentang idealism. Mereka hanya bertugas menghapal apa yang harus dikatakan dalam sidang sesuai pesanan. Pesanan siapa?” bisa saja pesanan dari LSM yang dibayar oleh pengusaha untuk menjual gagasan yang menguntungkan pengusaha. Tentu ada uang mengalir kesakunya . Atau membaca RUU yang di buat oleh LSM yang berafiliasi dengan LSM asing atau raksasa bisnis. Mereka tak perlu tahu mengapa RUU itu harus ada. Kalaupun ingin tahu, ilmu mereka tidak sampai untuk menjadi kritikus ide yang dibuat oleh orang berlabel Doktor dan Professor. Mereka akan menjadi mahasiswa yang baik untuk memahami ide yang dibuat itu agar bisa melewati prosedur untuk lahirnya sebuah Undang Undang atas nama Rakyat.
Dia gundah tapi tidak bagi kebanyakan temannya di DPR. Dengarlah kata mereka “ Saya tahu, banyak masyarakat yang sakit hati dengan saya, terutama yang pernah membantu saya untuk menjadi anggota dewan. Biar saja, toh, pemilihan anggota dewan masih lama. Nanti saja, menjelang pemilu, pada detik-detik akhir, pada masa injury time, kita dekati mereka. Kita berikan apa yang mereka minta, kita bagikan suvenir, amplop berisi duit, b agikan sembako, adakan pelayanan kesehatan gratis, membelikan karpet buat mesjid, ” katanya dengan yakin. Sangat jumawa. Itulah perlunya uang yang banyak. Saatnya duduk sebagai anggota dewan, saatnya mengeruk uang sebanyak mungkin. Tapi harus cerdas dan peka dengan segala jebakan. Tapi sebetulnya tanpa ambil resiko pun, tanpa rakus, uang akan terus mengalir dan jumlahnya sangat besar untuk hanya sekedar membeli suara dari rakyat yang bodoh.
Masyarakat kita,temannya melanjutkan , “ ingatannya pendek. Gampang lupa, apalagi jika kita dekati dengan berbagai pemberian yang melimpah, yang lalu-lalu bakal lalu “ Temanya tertawa lebar . Sungguh, bagi dia , sangat tidak lucu. Kalau saja ia bukan temanya separtai l, sudah dia tonjok mulutnya. Tapi begitulah, bertukar kata dengan temannya , cuma membuang energi saja. Dan tanpa disadari diapun tak jau beda dengan temannya. Idealis dalam batas retorika saja. Hati berkata benar namun dompet menolak kalau tak ada uang masuk. Ironis sekali.
Untuk kesekian kalinya dia bertanya tentang dia dan semua mereka yang menjadi orang terhotmat. Mengapa sulit sekali menyatukan niat dengan perbuatan sesuai janji kepada rakyat. Mengapa ? Terdengar HP nya bergetar, SMS datang dari istrinya “ pah,jangan lupa ya beli berlian satu set seperti teman aku punya itu. “ dan entah kenapa , setelah itu datang lagi SMS dari “piaraanya “ , sayang, jangan lupa ya transfer uang untuk ganti mobil.”
"Ya aku tersandera oleh orang orang yang kucintai dan lupa kepada Allah sebagai pemilik cinta sesungguhnya yang tak berharap banyak dari ku kecuali agar aku amanah dengan janjiku. sebisa aku perbuat. Tapi aku tidak berbuat apapun. Tidak ada. Karena aku hanyalah hamba setan yang tak perlu malu lagi kepada rakyat , apalagi kepada Tuhan. Inikah pilihan hidupku ? ,Inikah pilihan rakyat ? Dia tak lagi gundah. Tak ada lagi rasa malu. tak ada lagi kawatir dengan masa depannya. Mungkin besok dia tak lagi menjadi orang terhormat tapi dia tetap terhormat dihadapan setan , yang akan mengisi hidupnya dengan kesenangan diatas tumpukan deposito hasil suap dari menjual negeri ini kepada siapa saja yang mau membeli.

0 comments:
Post a Comment