“Kenapa harus pergi ke luar negeri jadi TKW. “ Pertanyaan itulah yang pertama kali disampaikan oleh suaminya. Dia tidak mau menjawab. Keadaan hidupnya sudah cukup untuk menjawab itu. Tapi suaminya seperti ingin tahu isi hatinya. Kesungguhannya. Dia sendiri tidak tahu apa dia bersungguh sungguh dengan tekadnya. “Aku hanyalah wanita. Seorang ibu. Seorang Istri. Apakah itu kurang cukup menjelaskan bahwa sudah terlalu banyak profesiku didunia ini. “ Itulah katanya pada dirinya sendiri. Sebetulnya dia ingin meneruskan kata katanya itu tapi dia urungkan. Kawatir pada akhirnya akan menyudutkan suaminya yang hanya mampu menafkahinya dari usaha sebagai buruh. Ya buruh didesa sebagai buruh tani. Bila masa tanam usai, suaminya akan pergi kekota untuk menjadi buruh di kota. Suaminnya akan kembali pulang kedesa bila saatnya panen dan kembali menanam. Hanya itu. Sementara kehidupan sudah tak lagi akrab dengan pendapatan sebagai buruh. Biaya hidup semakin mahal sementara upah tak begitu perkasa melawan biaya terus merangkak naik.
Malam itu sebagaimana malam sebelumnya, matanya sulit dipejamkan. Disebelahnya suaminya terlelap dalam kelelahan sehabis bekerja keras. Diluar sana, hujan turun dengan deras bagai ditumpahkan dari langit. Cahaya petir melesat disela sela geribik kamarnya dan matanya secara replek terpejam. Kemudian dia tak lagi terkejut bila suara guntur memecah malam. Buaian malam bersama perti dan guntur tak seberapa dibandingkan buain derai hatinya bila harus berpisah dengan keluarganya. Suami dan putri semata wayangnya. Kenapa harus pergi. ? ya harus pergi. Semudah menyebutkan dengan kata kata tapi kalau pertanyaan datang seperti “mengapa harus berpisah dengan suami dan anaknya “? Maka dia akan menjerit didalam hati. Ingin dia berteriak lantang mempertanyakan keadilan dibumi ini. Di tanah Air dimana dia terlahir. Berat sekali harus berpisah dengan orang orang yang dia cintai. Tapi kecintaannya kepada suami dan anak anaknya menuntutnya untuk rela berkorban , termasuk menjadi jongos di negeri orang. Dia hanya inginkan dapat sedikit modal .
“ Aku harus pergi.” Demikian tekadnya. Dia berkeyakinan perbuatan terbaik dalam hidupnya adalah bila dia bisa membuat aman orang yang mencintainya. Apalagi peluang untuk itu ada. Teman temannya juga telah melakukan hal yang sama. Mereka bahagia dengan pilihannya. Walau banyak cerita seram tentang nasip buruh migran, dia anggap itu sebagai sebagai konsekwensi pilihannya. Dia siap dan sangat siap dengan pilihannya daripada hidup ditengah keadaan yang membuat dia tidak pernah bisa berbuat apa apa kecuali menyesali nasip dengan kemiskinan yang menjerat. Di tatapnya sekilas wajah suaminya yang terlelap disampingnya. Dia tersenyum. Dia sangat yakin suaminya akan setia selama dia pergi. Dan lagi apa yang harus dikawatirkan? Tak mungkin suaminya akan mencari wanita lain sebagai istri. Keberadananya sebagai istri lebih dari keberuntungan dari suaminya yang miskin. Tak ada kondisi dan situasi yang harus membuatnya kawatir. Suaminya akan baik baik saja dan tentu akan selalu ada ketika dia pulang kelak.
“Bagaimana dengan putriku”. Kembali bisikan datang kepada dirinya. Itulah yang selalu menggangu pikiran dan keyakinannya untuk pergi ke luar negeri. Dicobanya untuk menepis semua kekawatiran itu. Dia tidak perlu terlalu kawatir karena suaminya akan menjaga putrinya. Dan lagi ini tidak akan lama. Hanya setahun dua tahun saja dan setelah itu dia sudah ada uang untuk mengantar putrinya pertama kali mengenal bangku sekolah. Selebihnya dia gunakan untuk modal usaha suaminya. Itu saja sebagai impian untuk memulai hdup baru bersama suami tercintanya. Ah, ternyata semua itu hanya soal sepele. Hanya soal uang kecil bagi orang seperti dia. Kenapa disebut kecil.? Ya karena ukurannya tidak miliaran seperti jumlah uang yang dikorupsi oleh pajabat culas. Tidak juga sampai ratusan juta seperti ongkos pejabat korup membiayai hidup bulanan para selirnya. Jumlahnya hanyalah puluhan juta yang nilainya seharga sepuluh persen dari harga kendaraan mewah pejabat korup atau hanya seperseribu dari harga rumah para pejabat korup dikota. Tapi dengan jumlah itu, dia bisa punya hope. Punya harapan akan masa depan. Walau dia harus menggadaikan hidupnya dinegeri orang , menjadi budak yang bebas diperlukan sewenang wenang.
Paginya dia terbangun dengan mata berat karena kurang tidur. Seusai sholat subuh, dia berdoa dengan khusu kepada Allah. Dia merasa sangat dekat kepada Allah. Dia tumpahkan segala keraguan atas pilihannya, dia tumpahkan segala kekawatirannya tentang suami dan anaknya. Dia sujud disajadahnya dengan serendah rendah diri dihadapan Allah untuk berharap bahwa pilihanya mendapat lindungan dan pertolongan dari Allah. Setelah itu hatinya damai. “ ya Allah, aku hambamu yang lemah lagi miskin.Aku tidak tahu apakah aku salah atau benar dengan pilihanku meninggalkan suami dan anaku untuk mencari rezekimu. Aku teramat bodoh untuk memahami rahasiaMu. Aku hanya tahu karena cinta yang enggau titupkan dihatiku telah membuatku ikhlas berkorban. Semoga apapun yang terjadi kelak, maka itulah yang terbaik yang harus kuterima. Aku berserah diri padaMu yang Rabb ku. Karena engkaulah tempat sebaik baiknya bersandar dan berserah diri..”
***
“ Gimana keadaan kamu , Sur ? “ Tanya temannya ketika berkunjung kepenjara tempat dia menanti saat dilaksanakannya hukuman mati. Dia senang atas kehadiran temannya itu. Karena ini pertama kali dia dikunjungi. Sebelumnya tak ada satupun yang datang berkunjung. Dari proses pengadilan sampai putusnya hukuman mati , dia seorang diri menghadapi prahara ini. Dia merasa menjadi manusia tak bertuan dan tak pula berbangsa maupun bernegara. Walau passport menyebut dirinya sebagai warga Negara Indonesia namun soal ini Indonesia tidak ada lagi. Dia menjadi manusia terlupakan dan memang terlupakan .
Tiga tahu dia bekerja di tanah Arab, tiga tahu terlewati dengan derita nestapa tak terbilang. Awal yang tak muda selanjutnya terlalu sulit untuk diterimanya sebagai manusia. Betapa tidak ? kesuciannya sebagai istri , sebagai ibu tercemari oleh nafsu binatang majikannya. Hanya berselang satu bulan setelah dia bekerja dirumah majikannya yang kaya raya itu , malamnya kamar tidurnya didatangi oleh tuanya. Terjadilah perkosaan itu. Dia berusaha melawan dengan tenaganya namun keperkasaan tangan tuannya membuat perlawanannya sia sia. Berkali kali dia menyebut nama Allah namun tak membuat nafsu binatang tuannya itu menurun. Dia lelah dan pasrah. Namun hatinya terus berzikir diatas hentakan nafsu tuannya yang berpacu mencapai kepuasaa . Setelah itu , dia dibiarkan bagaikan seonggok daging hina.
Keadaan itu terjadi dan terjadi sepanjang waktu selama dia bekerja dirumah majikannya. Berulang kali tanpa dia bisa berbuat banyak kecuali terus memanggil Allah untuk menolongnya. Belum usai deritanya akibat ulah Tuannya , kemudian dilanjutkan oleh anak juragannya yang berbuat sama. Maka lengkaplan dia menjadi pemuas nafsu dua orang pria, ayah dan anak. Prahara bertambah tambah lagi dengan perlakuan istri majikannya yang tak henti menganiayanya dengan perlakuan kasar dan menyakitkan. Dia sadar bahwa sikap dari majikan wanitanya tak lain karena marah kepada ulah suami dan anaknya namun dilampiaskan kepada dirinya. Entahlah , yang pasti keluarga yang tak henti menyebut nama Allah dan sholat berjamaah dirumah itu , telah menjadikannya sebagai budak dalam arti sesungguhnya. Terzolimi lahir dan batin. Ada keinginan untuk lari dan melapor kepada kedutaan tapi tak ada kesempatan untuk itu. Dia dikurung dan diawasi setiap langkahnya.
Disetiap hentakan menyakitkan mendera dirinya ,entah ketika diperkosa ,entah disiksa oleh majikannya, dia tak henti berzikir kepada Allah. Dinegeri orang , system memungkikan buruh bergaji mahal maka menjadikan dia sebagai budak terzolimi secara phisik. Dinegeri sendiri ,system memungkinkan buruh bergaji murah maka menjadikan suaminya sebagai budak terzolimi secara pssikis. Tapi antara psikis maupun phisik tak bisa dipisahkan. Keduanya saling bertaut sebaimana fitrah manusia. Singkatnya secara system perbudakan memang nampak dikekalkan oleh siapapun yang kuat dan berkuasa , yang selalu menjadikan orang lemah dan miskin terzolimi. Dimanakah keadilan, duhai Rabb ku. ?
Apakah ini keadilan ? “terpidana sebagai pembunuh walau tidak pernah membunuh siapapun ? “ demikian serunya dalam hati.
Dalam perjalanan waktu selama masa penantian menuju tiang gantungan. Dia selalu bertanya dan bertanya. Dia sabar menanti jawaban itu. Dia ingat ketika awal prahara menjadikannya sebagai terpidana. Ketika itu, majikan wanitanya barusan usai memukulinya dengan pipa plastic. Semua tubuhnya terasa sakit. Dia tidak lagi menangis, Dalam derai dia hanya berzikir kepada Allah. Saat itulah dia melihat tubuh majikannya berguling guling jatuh ditangga dan kepalanya terbentur kedinding rumah. Penyebanya adalah pipa plastic yang digunakan untuk memukulinya tersangkut dikaki majikannya ketika menuruni tanggg hingga membuat tubuh majikanya yang tambur itu tergelincir. Itulah penyeba kematian majikannya. Tapi tidak ada satupun orang percaya alasan kematian itu. Tida ada saksi kecuali dia dan Allah. Maka jadilah dia sebagai terpidana dengan ancaman hukuman mati.
“ Sur…kamu baik baik saja kan ? seru temannya yang membuat lamunannya buyar.
“ Alhamdulillah aku baik baik saja, Mar. “ dia mencoba tersenyum setabah mungkin. “ sejak kapan kamu mulai bekerja di Saudi ini ? Sambungnya.
“ Suda hampir setahun. AKu dengar kabar dari teman tentang keadaanmu . Makanya aku berusaha mencari tahu kamu dimana berada. Alhamdulilah kita akhirnya bertemu juga. “ Dia tahu bahwa Marni adalah sahabatnya sejak kecil. Mereka bersama sama belajar mengaji. Ketika masuk sekolah Dasar sampai tamat SLP mereka sekolah bersama sama. Nasip memang tidak beruntung, mereka tida pernah bisa melanjutkan sampai sekolah lanjutan atas.
“ Gimana keadaan Mas ku ? Tanyanya.
Temannya nampak diam . Dia tahu ada sesuatu kabar yang harus dia dengar. Temannya memegang kedua telapak tangannya “ Dia sudah menikah lagi. “
“ Oh…” Ada seperti petir menyambar tubuhnya. Namun dia tetap berusaha tenang.
“ Berkat kiriman uang dari kamu setiap bulan itu, dia gunakan untuk modal buka usaha warung kecil kecilan. Kini usaha itu sudah berkembang cukup bagus. “
“ Gimana keadaan anakku “
“Sebelum aku pergi kesini, yang kutahu anakmu tidak lagi bersama suamimu. Tapi tinggal bersama ibumu.
“ Oh..”
“ Aku kesini hanya ingin menyampaikan pesan dari ibumu. Pesanya “ jangan pernah tinggalkan sholat dalam kondisi apapun. “
“ Terimakasih Mar. “ dia tertunduk dan kemudian airmatanya mengambang dipelupuk matanya. “ Tahukan kamu.” Serunya” Sejak kecil kita selalu bersama. AKu tidak pernah meninggalkan sholat kecuali berhalangan karena kodratku sebagai wanita. Tapi selama kerja sini aku merasakan setiap sholat aku begitu dekatnya dengan Allah. Sangat dekat. Membuat aku tidak pernah berhenti berharap dan berharap dalam kesabaran akan pertolongan Allah. Apalagi dengan cobaan ini aku semakin merasa Allah sangat sayang padaku. “
Temannya menatapnya dengan sendu. Temannya yakin dia tetap tegar. Apalagi diantara linangan airmata itu masih tergurat senyuman tipis diwajahnya.
“ Ibumu tida tahu kalau kamu dipenjara. Hanya alasan suamimu menitipkan anakmu keibumu karena kamu tidak pernah lagi mengirimi uang dan lagi mungkin istrinya yang sekarang tidak ingin dibebani oleh anakmu“
Dihapusnya linangan airmatanya .Kini dia benar benar tersenyum ditengah derita nestapa , diatas tanya yang tak sudah. Kini semua terjawab sudah tentang keadilan Allah, untuk dirinya yang lemah dan terzolimi oleh system dari orang kuat dan berkuasa. Termasuk sikaf zolim dari suaminya sendiri. Ternyata pengorbanan tentang cinta kepada manusia hanyalah kekecewaan belaka. Pengorbanan yang tak berdasar. Lewat peristiwa ini Allah berdialogh dengannya tentang makna cinta, makna bersabar dan makna ikhlas. Bahwa cinta Allah adalah tujuan akhir manusia walau untuk itu harus melewati proses yang kadang menyakitkan dan terkesan tak ada keadilan. Kini dia sangat siap menjemput takdirnya. Sesiap dia menerima keadilan sesungguhnya dari Allah.
Dia tidak menyalahkan keadaan mengapa dia harus terdampar menjadi TKW dinegeri orang. Diapun tidak ada dendam kepada keluarga majikannya yang telah menzoliminya. Dia tidak kecewa setelah dikhianati suaminya. Diia hanya tahu semua telah berakhir dengan sebaik baiknya kehendak dari Allah. Bukankah hidup adalah menuju kematian. Semua manusia akan melewatinya dengan takdirnya masing masing. Dan dia menemukan jalannya, jalan menggapai makna tentang sabar dan ikhlas.

0 comments:
Post a Comment