Dulu waktu saya masih kecil , saya punya teman. Teman ini, semua orang tahu bahwa dia anak lahir tanpa ayah.Karena memang tidak ada satupun orang tahu siapa ayahnya kecuali ibunya. Ibunya pernah tinggal di kota kami sebentar namun setelah itu pergi ketika usia nya lima tahun. Keluarga ibunya juga miskin. Dia dibiarkan tumbuh begitu saja. Sebagai anak kecil usia sekolah , dia tidak mendapatkan kesempatan sekolah. Kebetulan nenek saya sebagai guru mengaji menerimanya. Itulah kesempatan yang dia dapat untuk berkumpul dengan teman teman sepermainan. Ketika anak anak sibuk belajar disekolah dan bermain main , dia justru berdagang es mambo ( es didalam bungkusan plastik diberi pemanis ). Dari uang yang didapatnya itu dia membantu bibinya untuk memenuhi kebutuhan makan.
Suatu saat nenek saya meminta murid murid mengaji untuk berbuat sesuatu dalam rangka mengamalkan surat Al Maun. Nenek saya memberikan nama nama anak yatim yang miskin. Mata kami semua melirik kepada dia. Tapi dengan cepat dia mengatakan bahwa dia bukan anak yatim piatu. Dengan tegas dia mengatakan dia punya ayah dan ibu. Hanya dia tidak tahu dimana ibu dan ayahnya. Dia akan menanti ibu dan ayahnya sampai kapanpun. Dengan bijak nenek saya menghilangkan dia dari daftar anak yatim piatu. Dia senang. Kemudian nenek saya memberikan nama panti asuhan yang ada di tempat kami dan juga nama nama keluarga miskin disekitar kami. Kami diberi kebebasan untuk berbuat apa saja untuk membantu orang miskin dan panti itu. Nenek memberi kami waktu seminggu untuk menceritakan apa saja yang telah kami perbuat.
Setiap hari kami tidak ada waktu untuk berbuat. Waktu kami sibuk dengan belajar disekolah dan mengerjakan PR. Tapi teman ini , setiap hari sehabis berdagang es mambo , kami lihat dia ada dirumah tetangga janda miskin. Dia membantu janda itu menimba air sumur untuk mengisi gentong air. Juga setiap sore dia datang kepanti Asuhan. Bersama sama anak yatim itu dia membersihkan pekarangan. Ikut pula mengedarkan kotak amal kepasar pasar. Kadang orang memberi uang, adapula yang memberi sayuran dan beras. Setelah satu minggu, ketika waktunya bercerita dihadapan nenek, kami kehilangan bahan untuk cerita. Karena kami tidak berbuat apapun sesuai usulan nenek mengamalkan surat Al Maun. Tapi teman ini, juga tidak bercerita apapun. Padahal kami lihat sendiri bahwa hanya dialah yang melaksanakan anjuran Surat Al Maun itu. Setelah itu , kegiatan ini terus dilaksanakannya. Jadi kebiasaan baginya.
Tapi tahukah anda, bahwa teman ini satu satunya murid mengaji yang paling lambat menyelesaikan katam Al Quran dan satu satunya murid yang tidak pernah mampu menghafal satu ayatpun. Nenek saya tidak pernah marah dengan teman ini. Dengan sabar nenek saya mencoba menceritakan tafsir dibalik setiap ayat AL Quran yang diajarkan. Dia pendengar yang baik. Apalagi kalau nenek sudah cerita tentang kisah kisah para rasul maka dia dengan takjub mendengar kisah itu. Mungkin kala itu nenek saya tidak begitu memperdulikan soal hafalan dan khatam al quran. Nenek mengajarkan hakikat Al Quran kepada murid mengajinya. Itu lebih baik bagi kami. Ketika saya khatam Al Quran, tidak ada hadiah khusus yang diberikan nenek.Padahal sesuai tradisi dikampung kami, anak yang katam al quran di meriahkan dengan mengundang handai tolan.
Walau setamat SD saya berpisah dengan teman itu karena ikut orang tua pindah kedesa lain. Namun kenangan tentang teman sepermainan kala kecil ini masih lekat dalam memori saya. Itulah sebabnya ketika saya bertemu dengan teman ini pada International Youth Convention di kota Shantou , China-- Kami saling mengenal lewat buku konvensi--. Teman ini ikut dalam convensi bukan karena dia pemimpin pergerakan kaum muda berskala nasional.. Namun sengaja didatangkan oleh UN Foundation sebagai kader muda yang berhasil membangun masyarakat miskin didaerah transmigran melalui kegiatan ekonomi riel dengan menjadikan agama sebagai kekuatan spirit untuk keluar dari kubangan kemiskinan akibat sistem yang zolim. Dia tak pernah duduk dibangku sekolah tapi bahasa inggerisnya sangat sempurna. Berbicara dengan begitu memukau dihadapan orang banyak.
Saya terharu. Karena teman ini telah melaksanakan spiritualitas. Membumikan agama dalam kehidupan sehari hari. Lewat spiritualitas itulah dia dididik oleh Allah, menemukan Allah dan bedialogh dengan Allah tentang sabar, tawadhu, istiqamah, ikhlas. Ketika berpisah, saya sempat bertanya sama teman ini. Apa yang mendasarinya berbuat hingga diakui secara international. Teman ini menjawab ”Tahukah kamu orang orang yang mendustakan agama.....Ingat kata nenek dulu ketika bercerita tentang surat Al Maun... Oh teman ini tidak pernah bisa menghafal AL Quran dan tak paham hadith, namun hanya satu ayat yang diamalkannya, dunia terpukau akan prestasinya. Andai andai..kita semua yang begitu paham ilmu Agama dan hafal Al Quran mau mengamalkannya dalam bentuk spiritualitas , oh tak bisa dibayangkan bagaimana peradaban yang bisa dihasilkan...ya pengetahuan luas memperkaya otak dan pikiran kita tapi spiritualitas memperkaya hati kita.

0 comments:
Post a Comment