Robi. Itulah nama anakku. Pagi ini dia akan genap berusia 30 tahun. Miranda , istriku adalah wanita yang sepurna sebagai ibu. Walau tidak berpendidikan tinggi namun kehadirannya dalam hidupku telah membuat aku merasa sempurna pula karena Miranda telah mendampingiku dengan sabar dalam kesetiaan. Pendidikanku cukup tinggi . dan tidak aneh bila sebagai pegawai negeri yang jujur dan mengabdi hidup kami hanya pas pasan. Namun kehadiran Robi merupakan anugerah terindah yang allah berikan kepada kami. Kami tidak pernah menyesali bila tuhan hanya memberi kami satu anak. Ini lebih dari cukup bila melihat Robi tumbuh dengan sangat sempurna sebagai seorang pria, Rasa syukurku kepada Illahi tidak akan pernah habis. Bukankah keberhasilan orang tua diukur dengan tumbuhnya anak menjadi manjadi dewasa dan berakhlak serta berilmu.
Aku menanamkan kebijakan pada diri anakku. Disamping memberikan lingkungan pendidikan yang terbaik bagi masa depannya. Setamat Sekolah Dasar, Robi harus melanjutkan pendidikannya di Pesantren. Sangat berat melepasnya hidup berpisah dengan kami. Tapi itu harus aku lakukan. Tiga tahun di Pesantren telah membuat kami bangga karena Robi sudah mampu memahami agama melebihi kami. Namun , akupun tidak ingin Robi terlalu larut dengan ilmu agama. Makanya aku kirim dia ke Sekeloh Menengah Umum, yang kemudian dapat dilaluinya dengan sempurna. Sampai dia mendapat beasiswa melanjutkan pendidikannya keluar negeri. Kini dalam usia tiga puluh tahun, Robi pantas berbangga dengan apa yang dimilikinya. Betapa tidak ?. Dia penyandang Phd dibidang Ekonomi dan bekerja di perusahaan asing yang bergerak dibidang perbankan.
Sebagai orang tua , kami sangat bangga. Itulah yang kukatan dari awal bahwa kami patut bersukur atas semua yang diperoleh oleh Robi. Namun , ada sesuatu yang kurang dan inilah membuat sedikit kecemasan bagi ku sebagai Ayahnya. Robi masih sendiri. Padahal usianya sudah sangat cukup untuk mempunyai seorang wanita sebagai pendamping hidupnya. Kesibukannya dan cara berpikirnya tentang wanita telah membuat kami kawatir. Karenannya, pagi ini sebelum acara ulang tahun , aku ingin berbicara dengannya. Khusus mengenai wanita. Kehadiranku dirumahnya yang asri disambut oleh Mila. Pembantu Rumah Tangga yang berasal dari kampung. Gadis ini tidak begitu cantik namun terlalu ramah dan santun kepada kami. Kehadirannya sebagai PRT , memang atas inisiatif dari Miranda. Memang istriku selalu memilihkan yang terbaik kepada Robi. Itu kutahu sedari kecil. Termasuk soal pakaian , mainan apa saja yang bisa membuat Robi senang.
“ Tuan, masih dikamar. “ Kata Mila
“ Jam berapa tuan kamu datang tadi malam “
“ Saya tidak tahu persisnya. Mungkin subuh “ Aku hanya menghela napas. Mungkin Robi terlalu sibuk dengan pekerjaannya dikantor. Hingga lupa istirahat.
“ Eh, Ayah. “ terdengar suaranya ringan menghampiri ku diruang tamu.
“ Tidurlah lagi kalau kamu butuh istirahat.Ayah bisa tunggu kamu diteras belakang.” Jawabku. Karena memang taman yang ada diteras belakang rumahnya terawat dengan rapi. Berbagai bunga tumbuh dengan liar namun tertata dengan apiknya hingga memberikan kesan serasa dialam.
“ Tidak. Aku sudah cukup tidur. Empat jam tidur bagi seorang pria adalah lebih dari cukup.” Jawabnya dengan santun “ Ada apa Ayah datang sepagi ini “ Lanjutnya.
“:Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada mu, nak “
“ Ada apa ayah ? “ Robi agak terkejut.
“ Robi “ Seruku “ Usia kamu sudah waktunya untuk berumah tangga. Sudah saatnya pula kamu mempunyai sahabat dalam hidupmu yang dapat memberikan siraman cinta untuk menuju surga “ Kataku dengan hati hati karena anakku tidak lagi anak anak. Dia sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Kebijakan sudah menjadi bagian darinya.
“ Ya. Ayah. “
“ Apakah kamu sudah punya calon untuk itu “ Mataku memandangnya dengan kasih. Dia hanya tersenyum. Bayanganku tertuju kepada sahabat wanitanya yang selama ini dekat dengannya dan berharap dia akan menyebutkan salah satu nama.
“ Saya masih bingung memilih dari sekian sahabat wanita saya “ Jawabnya.
“ Bagaimana dengan Wida “ Tanyaku mencoba menebak.
“ Wida. ? Robi terdiam
“ Ya , dia memang tercantik dari sekian wanita yang ayah tahu.
“ Memang dia cantik tapi dia tidak berminat dalam urusan keibuan. Apalagi menyusui anak. Teman yang terlalu sulit untuk diajak berbicara tentang banyak hal. Tak pandai bersikap bijak bila berbeda pendapat. Apalagi diminta untuk mengalah. Saya harus terus memanjakannya. Untuk itu semua membuat saya lelah. Dia bukan jodoh yang tepat bagi saya, Ayah “ katanya dengan santun.
“ Bagaimana dengan Rosa “ Kataku seperti penyidik. Tapi kulihat Robi tersenyum.
“
“ Bagaimana dengan Tuti “ Kali ini aku berharap mendapatkan kesan yang positip. Karena wanita nampak anggun.
“ Dia memang wanita ideal. Bahkan terlalu ideal dalam banyak hal. Walau tidak berpendidikan tinggi namun dia dapat menjadi teman yang enak diajak bicara. Walau tidak menyukai urusan keibuan namun dia tahu mengelola rumah tangga dengan benar. Walau dia tidak begitu cantik namun pantas untuk diajak bergandengan ditempat umum. Tapi , dia bukan jodoh yang tepat untuk ku. “
“ Bagaimana dengan Wati “ kataku. Kali ini aku benar benar berharap dia menentukan pilihan terhadap wanita ini. Karena orang tuanya adalah sahabatku sedari kecil.
“ Wanita yang memiliki inner sex yang luar biasa.. Manis dipandang dan tidak membosankan. Namun dia terlalu protective dan sulit ditebak. Kadang aku merasa asing bila berada disampingnya. Dia hidup dalam bayang bayang orang tuanya. Tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Memang dia tidak pernah banyak menuntut namun terlalu lemah, yang sehingga selalu mengharapkan perlakuan manja dariku. Dia akan selalu menjadi anak gadis dari orang tuanya dan sulit menjadi ibu dari anak anakku kelak. Karenanya dia bukanlah jodoh yang tepat untuk ku. “
Sekarang aku kehabisan nama untuk bertanya tentang wanita yang akan menjadi jodohnya. Semua wanita yang kusebutkan namanya adalah mereka yang selama ini hadir dalam hidupnya. Aku mengenal mereka dengan baik tapi tidak mengetahui banyak. Robi tentu lebih tahu daripada ku.
“ Sampai kapan , kamu harus terus mencari wanita yang cocok sebagai istrimu. Usiamu tidak muda lagi. Aku dan ibu sudah sangat ingin mendapatkan momongan cucu.” Kataku sambil memegang bahunya dari belakang.
“ Ayah “ Serunya.
“ Ya “
“ Sebetulnya masih ada satu lagi wanita yang ayah sudah kenal tapi ayah tidak bertanya.”.
“ Siapa dia “ aku bertanya dan menatap matanya dengan seksama. Berharap inilah jawaban terakhir yang merupakan pilihannya.
“ Mila “ Jawab nya. “ Pembatu yang sekarang ada dirumah ini “ Lanjutnya dengan senyum.
“ Mila ! “ Kataku sedikit terdengar berteriak. Namun segera aku menenangkan diri. Bagaimanapun aku harus menyadari bahwa Robi bukan lagi anak kecilku. Dia sudah sangat dewasa. Phd dan manager diperusahaan. Tentu dia punya pertimbangan yang cukup ketika dia memutuskan pilihan.
“ Mila tidak secantik teman temanmu tadi “ tanyaku
“ Memang Mila tidak cantik namun aku akan menghiasnya sebagaimana aku menghias isi rumah ini. Dia akan nampak sangat cantik sesuai yang kumau. “
‘ Dia tidak well educated “ tanyaku lagi
“ Aku akan medidiknya untuk menjadi well educated bagi anak anakku kelak.”
“ Tapi, kamu phd dan bagaimana kamu dapat berdialog dengan nya yang hanya tamat sekolah menengah umum.
“ Dia memang bukan teman yang dapat bedialog dengan ku lewat kata kata. Pancaran matanya dan keteduhan wajahnya lebih dari kata kata yang membuat aku merasa nyaman. “
“ Bagaimana dengan keluarganya ,keluarga Mila adalah keluarga tani dikampung."
“ Allah menciptakan manusia dalam keadaan sama tanpa kelas. Yang membedakan manusia adalah akhlaknya. “
" Jadi apa keistimewan Mila bagimu. “ Sekarang aku merasa terpojok.
“ Akhlaknya. “ Jawab Robi dengan tersenyum “ Ayah bisa bayangkan. Dua tahun dia bekerja dengan ku dan selama itu pula dia tidak pernah memandang mataku secara langsung. Tubuhnya selalu dibalut hijab yang membuatku tidak tertarik akan pisiknya. Dia tidak pernah tertawa keras yang dapat memancingku untuk menggodanya. Setiap subuh dia menjadi makmun sholat berjamah denganku. Setiap malam jumat aku selalu betah dirumah karena hanya ingin mendengar lantunannya mengaji dimushola rumahku. Dan yang terakhir ……” Suara Robi terhenti.
” Apa itu, Katakan pada Ayah “ Aku cemas, Apakah sudah terjadi sesuatu hingga Robi tidak punya pilihan lain kecuali menikahi wanita ini. Mila hamil.
“ Ibu sangat menyayanginya. Aku perhatikan itu dengan baik. Setiap ibu menginap dirumah ku, Mila menemaninya tidur. Mereka sangat dekat. Aku melihat Mila seperti aku melihat ibu. Wanita sederhana namun dari tangannya berhasil menjadikanku pria yang merasa pantas terlahirkan kedunia. “ Kata kata Robi itulah yang membuatku terduduk.
“ Apakah kamu sudah siap menyampaikan ini kepada Ibumu “ tanyaku.
“ Siap sekali Ayah.’’ Kata robi dengan mantap ‘’ Restuilah aku untuk menjadikan Mila sebagai istriku ‘’
‘’ Ya, Rob. Ayah restui namun bagaimanapun pendapat ibumu adalah segala galanya. Biarkan Ayah yang akan membicarakan dengan Ibumu. Tapi apakah kamu pernah menyampaikan ini kepada Mila.?”
“ Belum pernah , Ayah. ‘’
“ Lantas , apakah kamu siap bila Mila ternyata sudah punya jodoh di kampung. “
“ Saya ikhlas, Ayah. “ Jawab Robi mantap.
“ Lantas apakah kamu siap bila Ibumu tidak merestui “
“ Saya ikhlas, ayah ! dan saya akan ikuti nasehat ibu “ Kata kata itulah yang membuatku berlinang airmata. Walau Robi berpendidikan luar negeri, diberi kecerdasan, jabatan bergengsi namun dia tetap rendah hati dan melihat setiap persoalan dengan mata hati. Tuhan, engkau beri harta pada ku namun itu tidak ada artinya dibandingkan enkau beri aku anak yang soleh. Sekali lagi aku bersyukur. Tanpa sadar kupeluk Robi dengan hangat.
Sesampai dirumah , aku duduk termenung karena tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan dengan Mirada masalah keingain Robi untuk menikahi Mila. Sampai malam aku belum juga punya keberanian untuk membicarakan masalah ini. Sampai akhirnya ketika berangkat tidur , aku berkata “ Bu, Apa pendapat kamu tentang Mila “ tanyaku. Miranda menatapku dan kemudian memelukku. “ Dia gadis yang baik dan sholeha. “jawab Mila “ Ada apa Ayah bertanya tentang Mila ? “
“ Robi sudah sepatutnya mempunyai istri...” Kalimatku terputus tak sanggup meneruskan tapi Miranda kembali menatapku.dan berkata “ Mila gadis yang sholeha. Dia sudah seperti anak kandung kita. Apakah Ayah berpikir Mila cocok untuk Robi. “
"‘ Kalau ibu pikir cocok maka Ayah kan mendukungnya. Karena naluri seorang ibu terhadap anaknya tidak pernah salah.”
Miranda memelukku.
“ Terimakasih, Yah. Itulah yang membuatku selalu beruntung hidup bersamamu. Dalam diri Ayah ada Robi dan semua yang baik tentang Ayah ada pada Robi. Begitulah aku mendidiknya agar dia menjadi pria yang sempurna seperti Ayah , yang senantiasa rendah hati dan bijak menyikapi setiap masalah. Ayah adalah teladan bagi Robi dan cucu kita kelak.” Maka lengkaplah kebahagiaan ku. Rumah tangga telah menjadikan sorga bagiku karena hadirnya wanita sholeha. Begitupula harapanku untuk Mila..

0 comments:
Post a Comment