Wednesday, May 18, 2011

Sepenggal Perjalanan

" persis seperti sebelum ujian termin pertama yang lalu, langkah kakiku kali ini begitu ringan dan pikiranku beterbangan.. tapi kali ini, bukan karena dia. tapi karena mereka.. "

Suasana sore hari di kota Kairo memang selalu indah. Tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin diterpa angin malam. Riuh-riuh uap panas mentari pun sudah mulai memudar. Tersingsing malu ditutup gerakan rotasi bumi afrika. Tak salah bila kebanyakan Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) lebih memilih beraktifitas di sore hari. Tak terkecuali diriku yang ketika itu sedang mengemban tugas dari sekretariat tempatku tinggal.

Tak ada yang aneh dan unik ketika aku berangkat ke sabi' dengan tramco, sejenis angkot kota Kairo. Alunan musik dari headset sony di telingaku berdebum, mengiring mantap langkah kakiku. Ada cerita unik kenapa kemudian aku memilih lagu-lagu di shakira-ku. Awalnya, aku suka dengan lagu-lagu aransemen Padi. Terkadang juga alunan band Wali. Beberapa diantaranya, ada juga Jason Marz, Wonder Girl, dan Acha Irwansyah. Yang agak mellow sedikit seperti lagu Ku Ingin Selamanya, Ungu dan BCL, Karena Kucinta Kau.

Tapi sejak dua hari yang lalu, ku putuskan mereka pensiun sementara. Dan selama perjalanan itu pun, hanya shalawatan yang menemani langkahku. Hehe.. Aneh? Gak juga menurutku. Karena, kalau kita hitung dari sekian waktu yang kubutuhkan untuk mendengarkan lagu-lagu itu, lumayan panjang juga. Padahal defaultnya, hanya shalawat dan lantunan al Quran yang dapat dikategorikan berpahala.

Singkat cerita, aku pun keluar dari studio Samy Photo setelah urusanku selesai. Piagam hasil karya salah satu teman terbaikku pun tercetak dengan indah. Kombinasi batik dan coklat mudanya anggun. Mata ini serasa tak pernah lelah untuk menikmati sendu warnanya. Sedetik kemudian, langkahku menggiring ke pikiran, ke mana aku mau beli frame.. Jawaban pertama, di studio Kodak. Sekitar seratus meter dari sini ke arah Masjid Nurul Khitab, dekat dengan Kuliyah Banat Azhar.

Di awal simang perempatan, aku tiba-tiba tercenung. Pikiranku sejenak kaku. For Your Information , asal pembaca tahu, sepanjang perjalanan tadi, hati ini dilingkupi bahagia. Entah kenapa, yang penting rasanya tak ada lagi yang jadi beban. Tak juga hatiku, tak juga mata dan kakiku. Semua melangkah senang.. Tapi, siluet bayangan itu membuatku miris. Seorang ibu terbaring di pinggir jalanan, di bawah rindang pohon. Ku pikir ibu itu sedang tertidur. Dan tak perlu diragukan lagi, beliau termasuk salah satu dari golongan kita yang kurang beruntung. Sambil melangkah berat, aku melewati sang ibu.

Lagi-lagi, ketika aku melangkah menuju studio Kodak, aku bertemu lagi dengan segolongan ibu tadi. Hanya kali ini keadaannya lebih beruntung. Sang ibu duduk di trotoar, menjajakan jajanan ala kadarnya. Aku sering melihat sang ibu kalau lagi jalan di sini. Dan karena ku pikir ibu itu lagi jualan, aku pun tak menatapnya terlalu lama. Khawatir kalau sang ibu terlanjur menaruh harapan padaku tuk membeli barang dagangannya. Tapi ups, ternyata ketika aku melangkah tepat di depannya, ku lihat sekilas tangan ibu itu mengangkat malu. Mm.. mungkin nanti, pikirku.

Sepulang dari beli pigura, aku pun berlalu ke arah mahattah, terminal Hay Sabi'. Bertemu dengan sang ibu lagi. Kali ini ku berikan sekedar koin receh di saku.

Fenomena keberadaan mereka memang sudah lama mengusik hidupku. Dari sejak aku berada di Kairo, pengalaman 'bersama' sering ku jalani. Bahkan ada yang sampai kita kenal wajah saking seringnya kita bertemu. Ibu beserta anak kecilnya yang biasa mangkal di pasar Hay Asyir di sore hari, dan paginya di sekitar kawasan Bawwabah. Entah kenapa, kemudian ibu itu pun tak pernah kelihatan lagi. Mungkin, sang ibu malu.. seperti yang kutangkap dari wajahnya beberapa hari sebelum ku sadari kepergiannya.

Dari yang biasa, masih sehat dan berjualan tissue, sampai mereka yang sudah cacat atau sangat sepuhnya. Bayang-bayang keberadaan mereka awalnya sering membuatku bertanya, kenapa mereka harus ada? Namun, pertanyaan itu kini terjawab setelah ku sadari bagaimana Islam mengajarkan sebuah sistem ekonomi. Bahwa harta, hakikatnya adalah bukan milik orang per orang, bukan milik kita semata. Tapi lebih asas lagi, ia adalah milik masyarakat. Harta invidu adalah pengemban amanat kemakmuran masyarakat. Maka sungguh tak pantas, ketika kita mencegah hak masyarakat atas kepemilikan mereka..

Kesadaran inilah yang seringkali mengusikku..

Sering ku ingin, aku bisa berbuat untuk mereka. Tak perlu muluk, sekedar berbagi demi mengukir seulas saja senyum dari mereka. Seperti yang ku lakukan pada ibu kedua tadi. Meski bukan ia yang tersenyum, tapi si anak yang duduk di sampingnya.

Seperti bayangan yang ikut berjalan mengikuti langkah kakiku. Aku terbayang, gimana seandainya setiap kali ku bertemu dengan mereka, ku bawakan dua buah isy bil baidh, sarapan 'pagi' 'favoritku'. Yah, mungkin aku tak dapat memberi solusi praktis. Tapi paling tidak, untuk saat itu mereka bisa memenuhi kebutuhan wajib mereka bukan? Hanya saja kupikir, belum tentu juga makanan adalah kebutuhan paling mendesak mereka. Jadi, kuurungkan niat itu.. dan kembali pada kebiasaan formal, memberi koin receh.

Sembari berjalan menyusuri trotoar Mashr wa Sudan hingga Mahattah Sabi', aku teringat pada langkah-langkah itu. Kira-kira lima bulan yang lalu, di bulan Desember. Persis seperti sebelum ujian termin pertama yang lalu, langkah kakiku kali ini begitu ringan dan pikiranku beterbangan.. tapi kali ini, bukan karena dia. tapi karena mereka.. Kekalutanku membawa pada sebuah mimpi.

Aku jadi seseorang, dan ada banyak mereka yang kekurangan menengadahkan tangan di depan rumahku. Aku punya keinginan, agar semua yang kekurangan bisa kuatasi.. Minimal, setiap mereka meminta, akan kuberi. Tapi tentu tidak semudah itu. Kisah Nabi Yusuf dan dua orang temen sepenjaranya menginspirasiku. "Qola la ya'tiikuma thoamun turzaqanihi illa nabba'tukuma bita'wilihi qabla an ya'tiyakuma. Dzalikuma mimma allamany Rabbi.." Ya, Nabi Yusuf tidak menyianyiakan kesempatan dakwahnya, hehe.. Jadi, kalau ada banyak peminta-minta, maka aku pun akan bilang, "Sabar nggeh Bapak-Ibu. Kita pengajian dulu.."

Awalnya kupikir, "Ah nanti yang satu cerita ke yang lain dan akhirnya bertambah banyak setiap harinya.." seperti yang sudah jadi kebiasaan peminta-minta di Indonesia. Akhirnya aku pun berpikir. Tapi, kita kan ga sendirian di sini. Aku masih punya banyak kawan yang bisa membantuku. Beberapa orang diantaranya, ku 'terawang' bakal jadi orang sukses. Daripada mereka bingung duitnya mo diapakan, mendingan buat kasih mereka kesempatan, bukan.. hehe.

Akhirnya, sepenggal perjalanan itu pun usai seiring langkah kakiku yang sudah terantuk di ujung Syabrawi. Sebuah jalan yang sama, tapi ternyata memiliki sensasi berbeda ketika ku melaluinya. Semoga, mimpi itu bisa jadi kenyataan.. Dan buat yang ngerasa jadi temenku, jangan kaget kalau suatu saat nanti bakal kupalaki untuk jadi sponsor kegiatanku. Hehe.. baik berupa pengajian ilmu maupun intensif dana. ^^v

Jadi teringat petuah Pak Yai Syukri, bahwa menjadi guru, dai dan pemimpin bukanlah profesi/pekerjaan. Tapi kewajiban..

Rasulullah saw, mengajarkan.. detik-detik sebelum kepergian beliau, yang diucapkan adalah,

Ummati..

Ummati...

Ummati...

Kalau bener engkau ingin jadi pewaris para nabi (baca: ulama), maka jangan pernah engkau lupakan ummat.

by Neilhoja Azhary

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sepenggal Perjalanan

0 comments:

Post a Comment